Iman Kristen Belajar Islam


Ajaran yang Kurang Perlu dalam Islam
September 4, 2008, 11:44 am
Diarsipkan di bawah: Sejarah Alquran | Tag: , ,

Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati, yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu’”, atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadlu’ itu.

Banyak hal dalam agama yang jika dibuang sebetulnya tidak mengganggu sedikitpun watak dasar agama itu. Oleh para pemeluk agama, banyak ditambahkan hal baru terhadap esensi agama itu, sekedar untuk menjaga aura agama itu agar tampak “angker” dan menakutkan di mata pemeluknya. Saya akan mengambil contoh Islam.

Satu, doktrin bahwa Nabi tidak bisa berbuat salah. Menurut saya, doktrin ini sama sekali tak berkaitan dengan inti dan esensi agama Islam, dan karena itu kurang perlu. Jika doktrin ini dihilangkan, Islam tidak menjadi kurang nilainya sebagai sebuah agama. Mengatakan bahwa manusia, apapun namanya (entah Nabi, Rasul, Imam [dalam Syiah], Paus [dalam Katolik]) sebagai “infallible”, tidak bisa berbuat salah, jelas tak masuk akal.

Dua, doktrin bahwa sumber hukum hanya terbatas pada empat: Quran, hadis, ijma’, dan qiyas. Doktrin ini menjadi “hallmark” dari sekte Ahlussunnah waljamaah di mana-mana, sepanjang sejarah. Doktrin ini sebetulnya kurang perlu dan menjadi alat ortodoksi Islam untuk mempertahankan status quo. Sumber hukum jelas tidak bisa dibatasi dalam empat sumber itu. Islam tidak berkurang nilainya sebagai agama jika doktrin ini dihilangkan.

Tiga, doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Doktrin ini jelas “janggal” dan sama sekali menggelikan. Setiap agama, dengan caranya masing-masing, memandang dirinya sebagai “pamungkas”, dan nabi atau rasulnya sebagai pamungkas pula. Doktrin ini sama sekali kurang perlu. Apakah yang ditakutkan oleh umat Islam jika setelah Nabi Muhammad ada nabi atau rasul lagi?

Empat, doktrin bahwa sebuah agama mengoreksi atau bahkan menghapuskan agama sebelumnya. Ini adalah yang disebut sebagai doktrin supersesionisme. Doktrin ini tertanam kuat dalam psike dan “mindset” umat Islam. Doktrin ini tak lain adalah cerminan “keangkuhan” sebuah agama. Kehadiran agama tidak terlalu penting dipandang sebagai “negasi” atas agama lain. Agama-agama saling melengkapi satu terhadap yang lain. Kristen bisa belajar dari Islam, Islam bisa belajar dari Yahudi, Yahudi bisa belajar dari tradisi-tradisi timur, dan begitulah seterusnya.

Lima, doktrin bahwa kesalehan ritual lebih unggul ketimbang kesalehan sosial. Orang yang beribadah dengan rajin kerap dipandang lebih “Muslim” ketimbang mereka yang bekerja untuk kemanusiaan, hanya karena mereka tidak beribadah secara rutin. Agama bisa ditempuh dengan banyak cara, antara lain melalui pengabdian kepada kemanusiaan.

Enam, doktrin bahwa mereka yang tidak mengikuti jalan Islam atau agama orang berangkutan adalah “kafir”. Ini mekanisme yang nyaris standar dalam semua agama. Semua agama cenderung memandang bahwa mereka yang ada di luar “lingkaran penyelamatan” adalah domba-domba sesat. Doktrin ini, sekali lagi, cerminan dari arogansi sebuah agama tertentu. Sudah jelas bahwa jalan keselamatan adalah banyak sekali.

Tujuh, berkaitan dengan doktrin sebelumya, ada doktrin lain yang biasanya bekerja dalam lingkaran internal masing-masing agama. Dalam Islam, ada doktrin tentang “sekte yang diselamatkan”, al-firqah al-najiyah. Kelompok yang menyebut dirinya ahlussunnah wal-jamaah memandang dirinya sebagai satu-satunya kelompok dalam Islam yang masuk sorga, sementara kelompok lain sesat. Begitu juga kelompok Syiah memandang dirinya sebagai satu-satunya kelompok yang selamat, selebihnya sesat. Doktrin ini diteruskan oleh MUI dalam bentuk lain melalui fatwa penyesatan. Mendaku bahwa yang selamat hanya lingkaran tertentu adalah sebentuk arogansi.

Delapan, doktrin bahwa jika Kitab Suci mengatakan A, maka seluruh usaha rasional harus berhenti. Kitab Suci adalah firman Tuhan, dan firman Tuhan tak mungkin salah. Oleh karena itu, jika Tuhan sudah mengeluarkan sebuah “dekrit”, maka seluruh perbincangan harus berhenti. Doktrin ini tercermin dalam sebuah “legal maxim” atau kaidah hukum dalam teori hukum Islam yang berbunyi, “la ijtihada fi mahal al-nass”, tidak ada “independent reasoning” dalam hal-hal di mana teks Kitab Suci sudah mempunyai kata putus. Dengan kata lain, ijtihad harus dihentikan jika Kitab Suci sudah memutuskan sesuatu. Dalam diskursus filsafat modern di Amerika, hal ini disebut sebagai “discussion stopper”, agama sebagai penghenti diskusi. Sudah jelas Kitab Suci terkait dengan konteks sejarah tertentu, dan banyak hal yang dikatakan Kitab Suci sudah tak relevan lagi karena konteks-nya berbeda.

Sembilan, doktrin bahwa hukum hanya bisa dibuat oleh “syari’” atau legislator. Yang disebut legislator dalam konteks Islam adalah Tuhan, kemudian secara derivatif juga Nabi Muhammad. Para ulama atau fukaha datang belakangan sebagai penafsir atas hukum itu, dan pelan-pelan juga menempati kedudukan sebagai “pembuat hukum” atau legislator hukum agama. Doktrin ini sangat kuat tertanam dalam Islam. Doktrin ini juga kuat tertanam dalam agama Yahudi. Deklarasi Qur’an sudah sangat jelas dan sangat “kategorikal” , bahwa Adam dan seluruh keturunannya adalah “khalifah” di muka bumi. “Kekhilafahan” di sini, dalam tafsiran saya, mencakup pula kompetensi untuk menciptakan hukum yang mengatur ketertiban di muka bumi ini. Seluruh individu, dalam pandangan Islam yang saya pahami, adalah obyek dan subyek hukum sekaligus. Dengan kata lain, hukum bukan hanya diciptakan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia.
Manusia secara generis adalah syari’, bukan saja Nabi atau ulama/fukaha.

Ini paralel dengan konsep “kewarganegaraan modern” di mana konsep “warga negara” mencakup secara intrinsik kemampun untuk membuat dan men-generate sebuah hukum. Jika ada kelebihan pada ahli hukum atau fukaha yang membuat mereka menjadi spesial kedudukannya adalah karena mereka mempunyai “training” untuk merumuskan sebuah hukum dalam prosedur yang standar. Tetapi sumber hukum bukan saja hanya ada pada Kutab Suci, sabda-sabda Nabi, atau pendapat ulama, tetapi juga manusia secara keseluruhan.

Sepuluh, doktrin bahwa Kitab Suci bersifat seluruhnya supra-historis, karena ia adalah firman Tuhan. Karena Tuhan bersifat supra-sejarah, maka firmanNya pun bersifat supra sejarah pula. Karena itu, Kitab Suci juga supra sejarah. Kebenaran Kitab Suci tak terikat dengan ruang dan waktu. Pandangan ini lagi-lagi adalah pandangan yang “angkuh”. Akan lebih proporsional jika kita mengatakan bahwa ada hal-hal yang supra-sejarah dalam Kitab Suci, tetapi juga ada hal-hal lain yang cukup banyak yang terikat dengan sejarah. Bagian Kitab Suci yang “lengket sejarah” ini bisa tidak relevan sama sekali jika keadaan berubah.

Sebelas, doktrin bahwa Islam bisa menjawab semua masalah. Doktrin ini jelas hanya retorika belaka. Sebab pada kenyataannya tidak demikian. Solusi agama atau Islam, jika pun ada, juga tidak mesti sukses dan berhasil. Sebagaimana solusi-solusi sekuler, solusi Islam juga bisa gagal, seperti terbukti dalam banyak kasus.

Saya masih memiliki daftar yang panjang. Tetapi, itulah hal-hal pokok yang ingin saya kemukakan di sini. Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati, yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu’”, atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadlu’ itu. Mengaku bahwa setelah Nabi Muhammad tidak ada nabi atau rasul lagi adalah berlawanan dengan etika tawadlu’. Mengaku bahwa Islam menghapuskan agama sebelumnya sama sekali tak mencerminkan sikap tawadlu’.

Sumber: http://islamlib.com/id/artikel/doktrin-doktrin-yang-kurang-perlu-dalam-islam/

Penulis: Ulil Abshar-Abdalla

Tanggapan Iman Kristen:

Terimakasih atas pembelajaran agama Islam yang baik sekali ini. Seperti yang anda sarankan, saya juga akan mempelajarinya dengan segala kerendahan hati juga.

Saya setuju dengan pendapat anda. Kalau ajaran ini dihindari…, Islam tentu menjadi wajah yang lebih ramah. Saya percaya anda pasti mengerti maksud saya ini.

Salam.


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

islamlib ngomongnya tak pakai dalil , mereka ngomong menurut penalarannya sendiri atau sekehendak udelnya. dibelakang nalarnya biasanya bisikan syetan.perlu dipertanyakan ke-islamannya..jangan-jangan cuma islam ktp alias cuma mengaku islam tapi tidak pernah sholat. atau mengaku islam tapi imannya kresten. apa yg ditulisnya seharusnys di sertai dalil, tentunya dalilnya Al Qur’an dan hadist. “selama kau (islamlib) berpegang dg 2 dalil itu, nalarmu tak akan tersesat”.
Kalau ngomongnya disertai dalil yg benar (Al Qur’an dan hadist)..gua ikuti pendapatnya, kalau tidak…ya ke laut aja(dibuang).tapi sayang sesuatu pendapat yg dibuang,malah anda ambil se

Komentar oleh Domba tersesat

malah anda ambil sebagai rujukan ? piye toh anda ini.

Komentar oleh Domba tersesat

Dalam belajar sesuatu apapun perlu kerendahan hati untuk memahaminya.

Kalau anda keberatan…, coba buktikan saja ayat-ayat yang dimaksudkan oleh Ulil. Saya memandang sekilas saja sudah mengerti maksud-nya. Karena itu berlaku untuk semua agama juga. Anda pasti bisa dengan mudah mengerti maksud-maksud Ulil, dan pasti ada ayat-ayat yang dimaksudkan oleh Ulil tersebut yang mendukung pernyataannya. Dia sekolah di Harvard..man…, orang pendidikan begitu tinggi ciri-cirinya cuma satu: Kalau bicara pasti ada buktinya.
Coba baca dulu: http://belajarmuslim.wordpress.com/2008/09/06/orientalisme-dan-sejarah-alquran/ di situ jelas sekali ciri-ciri seorang berpendidikan (orientalis).

Apa yang dia katakan itu sebenarnya menyinggung seluruh agama. Nah.., untuk agama Kristen…, sudah tidak kami berlakukan prinsip-prinsip yang tidak boleh diberlakukan menurut Ulil itu. Kecuali kami masih memegang Perjanjian Lama tanpa membacanya dari sudut pandang Perjanjian Baru, seperti orang-orang Yahudi sekarang yang hidup dengan tata-cara agama tanpa mempercayai Yesus Kristus.

Jadi tugas anda untuk mempelajari pendapat Ulil dan mengecek kebenarannya dengan cara belajar http://belajarmuslim.wordpress.com/2008/09/06/alkitab-versus-alquran/

Komentar oleh Iman Kristen

Belajar pemahaman Islam dari Islam Sekuler bukan jalan yg direkomen mas. Harvard bukan patokan kl orang itu adalah orang yg shaleh mas.

Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu’”

Sorry ya saya hanya mau mengkoreksi satu entry aja yaitu Tawadhu bukan Tawadlu spt yg masnya tulis diatas. FYI, Tawadhu adalah sifat orang-orang mulia. Tawadhu adalah sifat para nabi dan rasul.

Tawadhu adalah sikap merendah tanpa menghinakan diri. Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu.

:)

Komentar oleh siHarri

hihihi…..

cinta mati mas iman ini kayaknya sama mas Ulil…. :)

oalah lil…lil begitu beruntungnya dirimu mendapatkan hati mas iman yg ganteng ini.

Komentar oleh Animemymouse

Kita harus mencintai kebenaran.

Pertanyaan yang perlu: Apa itu kebenaran?

Salam.

Komentar oleh imankristen

Kalau semua uneg2 mas Ulil ini diterapkan oleh semua kaum muslimin saat ini, saya yakin 100 tahun lagi islam tinggal sejarah.

Komentar oleh Abu SAZ

Salaaam. Tawadhu’ adalah merendah diri seperti kata sahabat kita di atas. Ia langsung tidak berkaitan dengan menyembunyikan KEBENARAN. kebenaran perlu diberitahu, kerana kebenaran itu hanya dari Allah.

Orang yang menyampaikan KEBENARAn bukannya orang yang angkuh. Itu adalah tuduhan tidak rasional. Justeru tawadhuk adalah dengan mengelakkan dari membuat maksiat, membuat FITNAH, beramal soleh, berakhlaq terpuji dan seumpamanya, itu ciri2 manusia tawadhuk. Manusia yang menyembunyikan kebenaran ibarat syaitan bisu.

Rasulullah S.a.w sesungguhnya manusia yang maksum. Dia tidak melanggar PERINTAH ALLAH. Tahukah anda apakah itu DOSA?? Dosa itu adalah apa2 yang melanggar perintah dan melakukan larangan dari Allah. Sedangkan tindak tanduk Muhammad S.a.w semuanya adalah berdasarkan dari perintah ALLAH , Tuhan sekelian Alam, Raja segala Raja. Dan Muhammad S.a.w tidak pernah melawan perintah dan melakukan larangan ALlah, kerana baginda sentiasa menerima WAHYU dari Allah S.w.t

Masihkah anda tidak mengaku Muhammad S.a.w itu adalah Rasul Allah? Bukti2 kerasulannya telah jelas dengan mukjizat2 yang dilakukannya dan akhlaq terpuji yang ditunjukkan olehnya walaupun terhadap orang2 Yahudi yang mencerca dan mengganggu beliau. Beliau tetap tersenyum dan sabar walaupun dihina, dilempar najis, dipukul oleh Yahudi.

Dan bukti mukjizat yang tidak ada orang lain yang dapat melakukannya selain Muhammad S.a.w ialah baginda telah membelah BULAN. HIngga kan NASA sendiri telah mendapati ada kesan2 seperti bulan dibelah. Dan peristiwa membelah bulan itu terbukti dalam SEJARAH.

Maka adakah manusia lain yang dapat membelah bulan?? Sila tonjolkan …….

Mari baca tentang Mukjizat2 Muhammad S.a.w di link di bawah;

http://hikmatun.wordpress.com/2008/08/09/antara-mukjizat-nabi-muhammad-saw-penyembuhan-penyakit/

Komentar oleh Hikmatun

[...] Tanggapan Iman Kristen: Kenapa muslim sulit mengasihi musuhnya seperti yang umat Kristiani bisa lakukan? Tentu ini berdasarkan ajaran yang kurang tepat untuk diaplikasikan pada masa kini. JIL sudah melihat hal itu dan menuliskan mengenai doktrin-doktrin Islam yang kurang perlu pada masa kini. Silahkan pelajari di: http://belajarmuslim.wordpress.com/2008/09/04/ajaran-yang-kurang-perlu-dalam-islam/ [...]

Ping balik oleh Fenomena Kartun : Islam vs Kristen « Islam Kristen: Sebuah Perbandingan

semua agama adalah salah, yang benar adalah satu. Kalo semua agama benar dimana letak keadilan Allah?

Komentar oleh adibbo

@hikmatun

Muhamad melanggar perintah quran.

Ini buktinya.

Tuliskan di sini quran 2:187..

Kemudian baca Berikut ini :

002.187
YUSUFALI: Permitted to you, on the night of the fasts, is the approach to your wives. They are your garments and ye are their garments. Allah knoweth what ye used to do secretly among yourselves; but He turned to you and forgave you; so now associate with them, and seek what Allah Hath ordained for you, and eat and drink, until the white thread of dawn appear to you distinct from its black thread; then complete your fast Till the night appears; but do not associate with your wives while ye are in retreat in the mosques. Those are Limits (set by) Allah: Approach not nigh thereto. Thus doth Allah make clear His Signs to men: that they may learn self-restraint.

Here is what Muhammad did while observing fast:

Muhammad slept with Umm Salama during her period, kissed her while fasting and used to take bath from the same pot after having sex…(Sahih Bukhari,1.6.319)

Sahih Bukhari: Volume 1, Book 6, Number 319:

Narrated Zainab bint Abi Salama:

Um-Salama said, “I got my menses while I was lying with the Prophet under a woollen sheet. So I slipped away, took the clothes for menses and put them on. Allah’s Apostle said, ‘Have you got your menses?’ I replied, ‘Yes.’ Then he called me and took me with him under the woollen sheet.” Um Salama further said, “The Prophet used to kiss me while he was fasting. The Prophet and I used to take the bath of Janaba from a single pot.”

While fasting, Muhammad kissed and embraced his wives…(Sahih Bukhari,3.31.149)

Sahih Bukhari: Volume 3, Book 31, Number 149:

Narrated ‘Aisha:

The Prophet used to kiss and embrace (his wives) while he was fasting, and he had more power to control his desires than any of you. Said Jabir, “The person who gets discharge after casting a look (on his wife) should complete his fast.”

Muhammad used to kiss and suck Aisha’s tongue while they were fasting…(Sunaan Abu Dawud,13.2380)

Sunaan Abu Dawud: Book 13, Number 2380:

Narrated Aisha, Ummul Mu’minin:

The Prophet (peace_be_upon_him) used to kiss her and suck her tongue when he was fasting.

Muhammad violated the Qur’anic rules on dower (mehr) and the time of waiting (idda)) in marrying a divorced/widowed woman

When Muhammad captured Khaybar, he took as a captive Safiyyah bt Huyayy, a very pretty teenage-girl and married her without paying her any dowry (mehr). The payment of mehr is compulsory in Islamic law of marriage.

First, we shall examine how Muhammad violated the rule of dower. This rule is stipulated in the Qur’an thus:

To marry a woman pay her dowry as a free-gift…4:4

004.004
YUSUFALI: And give the women (on marriage) their dower as a free gift; but if they, of their own good pleasure, remit any part of it to you, Take it and enjoy it with right good cheer

To hide his deception, Muhammad claimed that marrying Safiyyah was in itself a good honour for her, her dowry was her manumission from being a sex-slave to Muhammad.

Muhammad consummated his marriage with Saffiyah by staying with her for three days on way from Khaybar; he ordered her to wear a veil…(Sahih Bukhari, 5.59.523, 524)

Sahih Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 523:

Narrated Anas bin Malik:

The Prophet stayed with Safiya bint Huyai for three days on the way of Khaibar where he consummated his marriage with her. Safiya was amongst those who were ordered to use a veil.

Volume 5, Book 59, Number 524:

Narrated Anas:

The Prophet stayed for three rights between Khaibar and Medina and was married to Safiya. I invited the Muslim to his marriage banquet and there was neither meat nor bread in that banquet but the Prophet ordered Bilal to spread the leather mats on which dates, dried yogurt and butter were put. The Muslims said amongst themselves, “Will she (i.e. Safiya) be one of the mothers of the believers, (i.e. one of the wives of the Prophet) or just (a lady captive) of what his right-hand possesses” Some of them said, “If the Prophet makes her observe the veil, then she will be one of the mothers of the believers (i.e. one of the Prophet’s wives), and if he does not make her observe the veil, then she will be his lady slave.” So when he departed, he made a place for her behind him (on his and made her observe the veil.

Muhammad stayed with Safiyyah for three nights consummating his marriage…(Sunaan Abu Dawud, 2.11.2118)

Sunaan Dawud: vol. ii, Book 11, number 2118

Anas b Malik said: When the Apostle of Allah (may peace be upon him) married safiyyah, he stayed with her three nights. The narrator ‘Uthman added: She was non-virgin (previously married). He said: This tradition has been narrated to me by Hushaim, reported by Humaid, and transmitted by Anas.

Saffiya’s dower for marriage was her manumission…(Sahih Muslim, 8.3326)

Sahih Muslim: Book 008, Number 3326:

This hadith has been narrated through another chain of transmitters on the authority of Anas that Allah’s Apostle (may peace be upon him) emancipated Safiyya, and her emancipation was treated as her wedding gift, and in the hadith transmitted by Mu’adh on the authority of his father (the words are):” He (the Holy Prophet) married Safiyya and bestowed her emancipation as her wedding gift.”

Further information on this lustful marriage with a 19-year-old Jewish beauty with 60-year-old Muhammad is glimpsed from the narration of Ibn Sa’d. Please note that before falling into the hands of Muhammad, this pretty lass was married to a Jewish man. Muhammad had already killed Safiyaah’s husband and her father after subjecting them to brutal torture, and finally beheading them. Having satiated his lust for blood, on the same night he killed her closest relatives, Muhammad took Saffiyah into his tent to have sex with her.

We learn from Ibn Sa’d that Muhammad purchased Safiyyah from Dhiyah for seven camels (around US$ 2,100). On the same night that Muhammad took possession of Safiyyah, he hastened to his tent to sleep with her. Here is what Ibn Sa’d writes:

“….when it was night, he entered a tent and she entered with him. Abu Ayyub came there and passed the nigh by the tent by the tent with a sword keeping his head at the tent. When it was morning and the Apostle of Allah, may Allah bless him, perceived (some body) moving, he asked: Who is there? He replied: I am Abu Ayub. He asked: Why are you here? He replied: O Apostle of Allah! There is a young lass newly wedded (to you) with whose late husband you have done what you have done. I was not sure of safety, so I wanted to be close to you. Thereupon the Apostle of Allah, may Allah bless him, said twice: O Abu Ayyub! May Allah show you mercy.” (ibn Sa’d vol.ii, p.145)

To hide the lascivious character of Muhammad, Muslim biographers often mention that he married Safiyyah before he slept with her. But they forget to state that Muhammad did not follow the rule of waiting period (three monthly periods) to sleep with Safiyyah.

We shall now see how Muhammad had violated the rule of idda (waiting period) in marrying a woman. These rules are stipulated in the Qur’an thus:

Before marrying another man divorced women must wait three monthly periods…2:228

002.228
YUSUFALI: Divorced women shall wait concerning themselves for three monthly periods. Nor is it lawful for them to hide what Allah Hath created in their wombs, if they have faith in Allah and the Last Day. And their husbands have the better right to take them back in that period, if they wish for reconciliation. And women shall have rights similar to the rights against them, according to what is equitable; but men have a degree (of advantage) over them. And Allah is Exalted in Power, Wise

Widows of wait four months and ten days for re-marriage…2:234

002.234
YUSUFALI: If any of you die and leave widows behind, they shall wait concerning themselves four months and ten days: When they have fulfilled their term, there is no blame on you if they dispose of themselves in a just and reasonable manner. And Allah is well acquainted with what ye do.

Clearly, when Muhammad wanted to sleep or to have sex with Safiyyah, she was a widow, technically, as Muhammad had already killed her husband. Therefore, as per the Qur’an, Muhammad had to wait at least four months and ten days before he could even touch her. But Muhammad did not at all observe this rule; instead, he took Safiyyah, straight from the battlefield to his bed in the war camp. Having spent the night with her, Muhammad took her to another, safer location, stayed there for three days and consummated his marriage with Safiyyah.

Let us read a hadis on this:

Muhammad selected Safiyyah because of her beauty, made her his wife and gave a banquet at the wedding; then he had sex with Saffiyah at Sa`d-AsSahba…(Sahih Bukhari 4.52.143)

Sahih Bukhari: Volume 4, Book 52, Number 143:

Narrated Anas bin Malik:

The Prophet said to Abu Talha, “Choose one of your boy servants to serve me in my expedition to Khaibar.” So, Abu Talha took me letting me ride behind him while I was a boy nearing the age of puberty. I used to serve Allah’s Apostle when he stopped to rest. I heard him saying repeatedly, “O Allah! I seek refuge with You from distress and sorrow, from helplessness and laziness, from miserliness and cowardice, from being heavily in debt and from being overcome by men.” Then we reached Khaibar; and when Allah enabled him to conquer the Fort (of Khaibar), the beauty of Safiya bint Huyai bin Akhtab was described to him. Her husband had been killed while she was a bride. So Allah’s Apostle selected her for himself and took her along with him till we reached a place called Sad-AsSahba,’ where her menses were over and he took her for his wife. Haris (a kind of dish) was served on a small leather sheet. Then Allah’s Apostle told me to call those who were around me. So, that was the marriage banquet of Allah’s Apostle and Safiya. Then we left for Medina. I saw Allah’s Apostle folding a cloak round the hump of the camel so as to make a wide space for Safiya (to sit on behind him) He sat beside his camel letting his knees for Safiya to put her feet on so as to mount the camel. Then, we proceeded till we approached Medina; he looked at Uhud (mountain) and said, “This is a mountain which loves us and is loved by us.” Then he looked at Medina and said, “O Allah! I make the area between its (i.e. Medina’s) two mountains a sanctuary as Abraham made Mecca a sanctuary. O Allah! Bless them (i.e. the people of Medina) in their Mudd and Sa (i.e. measures).”

Muhammad violated Allah’s restriction on him on the number of his wives

When Muhammad married Zaynab bt Jahsh, the wife of his adopted son, Zayd b. Harith, Allah was a little bit displeased with his audacious crave for young, beautiful, sexy and luscious women—married or single. So, Allah clamped down on Muhammad and sternly warned him that that was enough, that he could not accumulate further, any extra wives. Allah made Zaynab Muhammad’s wife number eight or nine—the last wife. Here is the verse where Allah forbade Muhammad to marry further after marrying Zaynab bt, Jahsh:

Allah put restriction on Muhammad’s marriage; he is not to take any new wife, neither exchange old wives for new…33:52

033.052
YUSUFALI: It is not lawful for thee (to marry more) women after this, nor to change them for (other) wives, even though their beauty attract thee, except any thy right hand should possess (as handmaidens): and Allah doth watch over all things.

Now, let us have a look at the list of women with whom Muhammad had had some kind of connection, including sexual. This list has been prepared from the book of Tabari (vol. ix, pp.120-141). Please note that this list is in chronological order. I have highlighted the name of Zaynab to demonstrate how flagrantly Muhammad had dishonoured Allah’s restriction on him!—he had collected at least 13 more wives, a sex-slave and a concubine even when Allah commanded him to restrain his wife collection.

Muhammad had married 21 wives:

Khadijah bt.Khuwaylid

Sawdah bt, Jamah

Aisha bt. Abu Bakr

Hafsah bt. Umar (Hafsha found Muhammad and Mariyah in her bed and she became hysterical (footnote 884).

Umm Salamh

Juwayriyyah

Umm Habiba bt. Abi Sufyan

Zaynab bt Jahsh

Safiyyah bt. Huyayy

Maymunah bt. Al-Harith

Sana bt. Asma or Saba bt. Asma. She died before Muhammad consummated the marriage.

al-Shama bt. Amr al-Ghifariyaah. Muhammad divorced for doubting his prophethood.

Ghaziyyah bt. Jabir or Umm Sharik. She was previously married and had a son named Sharik. She was beautiful but she refused to consummate the marriage. Muhammad found her old (page 139); so he returned her to her people

Amrah bt. Yazid or Umm Sharik. Osme say she herself gave to Muhammad (33:50). The marriage was not consummated.

Asma bt. Al-Numan. Muhammad found her suffering from leprosy; so he divorced her giving her compensation.

Zaynab bt. Khuzaymah—also called Umm al-Masakin (mother of the poor)

Al-Aliyaah bt. Zabyan. It is alleged that she peeped through her door at the people in the mosque. So Muhammad divorced her after paying her some compensation (footnote 919).

Qutaylah bt. Qays—but Muhammad died before he could consummate his marriage with her. She and her brother apostatized from Islam.

Fatimah bt. Shurayh (Sara)

Kawlah bt. Hudhayl

Layla bt. Al-Khatim. She offered herself to Muhammad and Muhammad accepted her as his wife.. Later, when her people admonished her for marrying Muhammad, she requested for a divorce and Muhammad divorced her.

People used to say that Muhammad was a womaniser (Tabari, vol.ix, p.139).

List of women to whom Muhammad proposed but did not marry

Umm Hani bt. Abi Talid—she had a child

Dubbah bt. Amir—she was too old

Safiyyah bt. Bashshamah—she was a captive

Umm Habiba bt al-Abbas—fosterage

Jamrah bt. Al-Harith—was suffering from leprosy

Khawlah bt. Hakim

Amamah bt. Hamzah

Muhammad’s concubines were:

Mariyah bt. Shamun

Rayhanah bt. Zayd al-Quraziyaah

Marriage not consummated:

Mulaykah bt. Kab al-Laythi—Muhammad divorced her

Bint Jundub

Even the greatest Islamist apologist of all time, Maulana Yusuf Ali admits that Muhammad did indeed transgress the stipulation of the Qur’an.

Yusuf Ali (commentary number 3754, p.1123) writes: “This was revealed in A.H. 7. After that the Prophet did not marry again, except the handmaiden Mary the Copt, who was sent as a present by the Christians Muaqauqas of Egypt. She became the mother of Ibrahim, who died in his infancy.”

Komentar oleh jelasnggak

Semua orang Muslim wajib membaca di sini :

http://www.islam-watch.org/AbulKasem/MdViolatedKoran.htm

Setelah kalian baca, terserah… mau percaya atau tidak..

salam damai.

Komentar oleh jelasnggak

@imanKristen.

Mau baca buku Mengenal Muhamad (dr ali sina)?

Saya ada copynya.

btw. FFI udah di tutup.. ha ha ha….
(sepertinya umat islam ngga tahan “tekanan”)

Salam.

Komentar oleh jelasnggak

Yes, thanks. Saya email ke alamat email anda di wordpress ini. Alamat anda itu alamat betulan kan?

Btw, mohon jangan open alamat email saya, banyak “spam” nanti masuk, capek bacanya… he he he…

Gbu.

Komentar oleh imankristen

@JelasNgak

Wow….sekali baca macam hebat, 2 kali baca memang tak tepat, 3 kali baca, Kristian Indonsia ni memang suka berita-berita palsu kan.. Pelik juga, tapi tak pe lah, nanti saudara Mahmud dan Hikmaun tolong jawab buat saudara.

By, Putera Azmi

Komentar oleh Death Magnetic

@penghibur/death magnetik

Silahkan lihat di sini:

wwwdotuscDOTedu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/059.sbt.html

Cam mana kau ini pak cik..

Nak bisa jawab…kau cakap “berita palsu”

Komentar oleh jelasnggak

@imanKristen.

Sipp.

Sudah kirim..

Salam

Komentar oleh jelasnggak

To jelasenggak…,

Thanks atas email dan source-nya.

Lagi baca…, he he he…., seru juga…

Gbu.

Komentar oleh imankristen

Kalian semua manusia di dunia ini saling berdebat. Ingatlah sesungguhnya pendusta diantara kalian akan mendapat siksa yang pedih di neraka. Jadi bersiaplah di hari pengadilan nanti. Tiada seorangpun yang dapat mengelak.

Buka mata hati kalian, lepaskan ego. Niscaya Tuhan Pencipta Langit dan Bumi akan memberi petunjuk.

Tapi kalau memang senang berdebat ya, silahkan lanjutkan. Sudah ada yang menanti kalian. Surga dan neraka. Nggak ada tempat lain!

Komentar oleh Cinta yesus

@Cinta Yesus.

Thanks atas peringatanya.

Tapi seingat saya, saya ngga dusta lho..

Semuanya yang saya katakan mengenai Muhamad adalah tulisan SHAHIH Bukhari.

Komentar oleh jelasnggak

jika ada yg menghina ibu saya dengan kata2 yg kasar maka saya akan membela sampai mati ibu saya, karena semua orang yg menghina ibu saya adalah musuh saya.

saya tidak mau punya musuh, tp jika ada musuh saya pun pantang mundur.

jika ada orang yg mau dan tidakmembela ibunya dikatakan pelacur. maka saya yakin orang itu bukan orang yg waras.

begitulah umat islm membela agamanya.

Komentar oleh abu najla

@abu najla

jika ada yg menghina ibu saya dengan kata2 yg kasar maka saya akan membela sampai mati ibu saya, karena semua orang yg menghina ibu saya adalah musuh saya.

==> berarti Amrozi cs itu bener dong yah?
Mereka juga membela islam sampai mati.

Sekarang kan islam lagi diserang nih..(iran di tekan, afganistan di serang, iraq apalagi)

Nah, kayaknya(seperti yang kamu bilang posting kamu itu) kamu harusnya membela sampai mati juga yah..seperti kamu membela ibu kamu itu…

Bener ngga nih omongan saya ini..?

salam Damai jangan gembeng.
ps. Kayaknya sih orang disebut waras atau tidak, ngga ada hubungannya dengan membela ibunya atau tidak. (itu kalau di tempat saya tinggal sih ya.. ngga tau kalau di arab.. mereka suka beda)

Komentar oleh Jelasnggak

yang tidak suka hukum di indonesia dan Pancasila ditegakkan di tanah air silahkan minggaaat……..

Komentar oleh lawyer

ang tidak suka blog porno ditutup, yang tidak suka pembuat blog yg memecah belah kerukunan agama di dihukum sekali lagi silahkan minggat dari indonesia.

Cari tempat di negara2 yg bebas mengekspresikan RASA SENINYA tanpa batas.

Komentar oleh lawyer

Yang mau menjadikan indonesia negara islam….
dengan hukum syariahnya…

(yang bahkan monyet pun diwajibkan ikut hukum tsb- cari di google stoning she-monkey kalu ngga percaya)

===>Silahkan tinggal di arab……

Yang senang membungkam kebebasan beragama..
===>Silahkan minggat dari indonesia..

Yang senang menggunakan pemaksaan /kekerasan dengan mengatasnamakan agama …
===> SILAHKAN MINGGAT…

Yang melarang kebebasan berekspresi…
Silahkan tinggal di arab..

Yang suka poligami..
Silahkan tinggal di arab.

Yang suka menyiksa wanita..
Tinggal di arab…

Yang seneng ibunya di madu..
Tinggal di arab sana…

Yang suka sekali menteror..
Tinggal aja di mana saja kalian suka asal jangan di indonesia.

Yang ngga bisa ngomong terus ngancam..
Silahkan minggat.

Komentar oleh jelasnggak




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>