Iman Kristen Belajar Islam


Alkitab Versus Alquran
September 6, 2008, 2:00 pm
Diarsipkan di bawah: Sejarah Alquran | Tag: , ,

SAYA sering terganggu oleh sikap beberapa kalangan Muslim apologetik yang dengan mudah menunjukkan adanya kontradiksi dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru. Dengan gigih sekali mereka mencoba memperlihatkan bahwa dalam dua kitab “suci” itu tersua sejumlah pertentangan internal.

Usaha itu bukan tanpa tujuan: yaitu untuk menunjukan kehebatan Quran sebagai Kitab “Suci” yang paling baik, solid, koheren, logis, tidak mengandung pertentangan internal apapun. Lalu mereka mengutip sebuah ayat dalam Quran yang terkenal, “Afala yatadabbarun al-Quran, wa law kana min ‘indi ghair al-Lahi lawajadu fihi ikhtilafan katsira.” (4:82) Artinya: Apakah mereka tak merenungkan secara mendalam mengenai Quran itu; seandainya ia berasal dari selain Tuhan, maka sudah pasti mereka akan menjumpai banyak pertentangan di dalamnya.

Hal serupa juga ada pihak Kristen (dan juga Yahudi). Saya banyak sekali menjumpai buku-buku apologetika Kristen (juga Yahudi) yang menunjukkan adanya sejumlah pertentangan internal dalam Quran.

Maryam Jameelah, seorang perempuan Yahudi dari New York yang semula bernama Margaret Marcus, menceritakan proses dia masuk Islam (pada tahun 1961) dalam bukunya “Islam versus West”. Di sana ia berkisah tentang kelas yang ia ikuti di New York University tentang “Judaism in Islam” yang diampu oleh seorang rabbi bernama Abraham Isaac Katsh. Rabbi itu mencoba menunjukkan kelemahan Quran sebagai kitab yang sekedar menyontek saja dari Torah atau Perjanjian Lama.

Saya memandang sikap apologetik seperti itu kurang tepat, bahkan hanya menimbulkan perceckokan yang kurang produktif dan kleim paling benar sendiri yang menghalangi adanya dialog yang positif.

Tanpa mengurangi penghormatan saya pada kepercayaan teman-teman Muslim yang lain mengenai Quran, sejauh menyangkut kontradiksi, dalam Quran banyak sekali kita jumpai kontradiksi dan pertentangan internal.

Bukan hanya itu, dalam hampir semua Kitab “Suci” selalu akan kita jumpai kontradiksi semacam itu. Tugas penafsirlah untuk melakukan “harmonisasi” agar pertentangan itu bisa “dihaluskan” (explained away) atau malah dihilangkan sama sekali.

Orang yang datang dari luar tradisi Islam (terutama orang Kristen), misalnya, dan ujug-ujug langsung membaca Quran, kemungkinan akan terperanjat, karena Quran di matanya boleh jadi mirip sebuah “jumble mumble”, atau kitab yang sama sekali tanpa struktur, temanya loncat-loncat tanpa aturan, seperti sebuah buku yang tak diedit dengan baik, dan mengandung banyak kontradiksi di dalamnya. Dia akan cenderung membandingkan Quran dengan Kitab Perjanjian Lama yang lebih memiliki struktur naratif yang rapi.

Hal yang sama terjadi pada orang yang datang luar tradisi Kristen (misalnya seorang Muslim), lalu ujug-ujug membaca Kitab Perjanjian Lama atau Baru, boleh jadi dia akan menjumpai sejumlah kontradiksi internal dalam kitab itu, apalagi menyangkut gambaran Tuhan dalam Perjanjian Lama yang, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.

Kontradiksi itu akan makin menjadi-jadi kalau kita membaca kitab agama lain dengan prasangka buruk, apalagi dengan niat untuk mencari kejelekannya, seperti yang dilakukan oleh banyak kalangan apologetik dari, terutama, kedua belah agama, Islam dan Kristen.

Di mata orang beriman, kontradiksi itu memang tak kelihatan, karena yang bersangkutan sudah dikondisikan oleh imannya untuk mempercayai apa saja yang termuat dalam kitab tersebut.

Seorang Muslim yang membaca Bibel bisa melihat kontradiksi dalam kitab itu karena dia tak “mengimani”-nya sebagaimana ia mengimani Quran. Begitu juga seorang Kristen bisa melihat kontradiksi dalam Quran karena dia tidak mengimani Kitab “Suci” tersebut.

Memang benar, sorang Muslim percaya bahwa kitab-kitab sebelum Quran bersumber dari Tuhan yang sama. Tetapi, iman mereka pada kitab-kitab itu tak sama dengan iman mereka pada Quran. Meskipun mengimani Bibel, tetapi mereka memandang Kitab “Suci” itu sebagai buku yang “defektif” atau cacat.

Bagaimana cara membaca Kitab “Suci” agama lain tanpa harus berhadapan dengan kontradiksi itu?

Caranya adalah sederhana: gunakanlah kaca-mata orang yang mengimani Kitab “Suci” itu. Seorang Muslim yang hendak mendapatkan manfaat dari Bibel saat membacanya, dan tak sekedar terpaku pada kontradiksi yang ada di sana, dia harus membaca kitab itu dengan “hati” dan “mata” sebagaimana dipakai oleh orang Kristen saat membacanya.

Hal ini berlaku juga untuk orang Kristen yang hendak membaca Quran dan ingin mendapatkan sesuatu yang berguna dari sana, tanpa terjebak dalam kontradiksi yang ia lihat di sana.

Nasehat sosiolog besar dari Perancis, Emile Durkheim, kepada para sarjana yang hendak mengkaji agama bisa kita pertimbangkan di sini:

“What I ask of the free thinker is that he should confront religion in the same mental state as the believer… He who does not bring to the study of religion a sort of religious sentiment cannot speak about it! He is like a blind man trying to talk about colour.” (hal. xvii, dikutip dari pengantar Karen E. Fields atas karya utama Durkheim, “Elementary Forms of Religious Life”).

Dengan kata lain, saat membaca suatu Kitab “Suci” dari agama manapun, kita harus memiliki “religious sentiment” –meminjam istilah dari Durkheim itu– sebagaimana dimiliki oleh orang yang mengimani kitab itu. Jika kita kehilangan sentimen itu, maka kita akan melihat sejumlah pertentangan dalam kitab tersebut.

Jika anda kebetulan seorang Muslim, cobalah sekali-kali anda membaca Quran dengan mengambil “jarak” sebentar, mencoba keluar dari sentimen keimanan yang selama ini anda miliki.

Dalam keadaan sebagai seorang “skeptis sementara” itu, anda akan menjumpai sejumlah hal yang kontradiktif dan tak masuk akal dalam Quran. Sebagai contoh saja, dalam satu ayat dikatakan bahwa Tuhan tak menyerupai apapun, Laisa kamitslihi syai’un (42:11), tetapi dalam banyak ayat yang lain Tuhan digambarkan memiliki tangan, wajah, bahkan dalam hadis digambarkan pula memiliki jari-jari (ashabi’ al-rahman).

Jika orang Islam keberatan dengan penggambaran tentang Tuhan yang “brutal” dan sangat antropomorfis dalam, misalnya, Perjanjian Lama, maka mereka sebetulnya lalai bahwa dalam Quran juga kita jumpai penggambaran yang kurang lebih serupa: Tuhan yang “brutal” dan antropomorfis.

Bagaimana umat Islam bisa melewatkan begitu saja kisah tentang Nabi Nuh di Quran tanpa bertanya-tanya secara “kritis”: bagaimana mungkin Tuhan menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? Apakah reaksi Tuhan semacam ini tidak keterlaluan? Mana sifat belas-kasih Tuhan? Baiklah, granted,Tuhan memang mempunyai sifat adil dan pengazab, selain sifat rahman dan rahim (kasih sayang).

Tetapi mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh — apakah azab seperti itu proporsional? (Jawab seseorang yang memiliki sentimen keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami tindakan Tuhan).

Banyak hal dalam Quran yang bisa kita persoalkan secara “kritis”, kalau kita mau sebentar melepaskan diri dari sentimen keimanan sebagai seorang Muslim.

Itulah yang terjadi pada seorang Muslim yang membaca Bibel: karena mereka tak memiliki sentimen keagamaan seperti dimiliki oleh umat Kristen, maka mereka menjumpai banyak sekali kontradiksi dalam Kitab “Suci” itu, seraya lupa bahwa kontradiksi serupa bisa dijumpai dalam Quran.

Sementara itu, jika anda berdiri sepenuhnya sebagai seorang agnostik tulen yang tak terikat atau malah skeptik terhadap semua bentuk sentimen keimanan apapun, maka anda sudah pasti akan “sinis” pada semua Kitab “Suci”, sebab kitab agama manapun akan mengandung hal-hal yang di mata rasio yang kritis akan tampak kontradiktoris dan tak masuk akal.

Apalagi jika kita perhitungkan bahwa semua Kitab “Suci” agama-agama dunia saat ini lahir ribuan tahun lalu. Ilmu pengetahuan manusia maju begitu pesat dan mereka bisa menjelaskan secara lebih memuaskan gejala-gejala alam yang di mata manusia kuno tampak misterius dan fantastik.

Di hadapan rasio manusia modern yang skeptik, jelas Kitab-Kitab “Suci” itu tampak seperti dongeng anak-anak. Contoh paling bagus untuk ini adalah dua sarjana yang akhir-akhir ini melakukan “crusade” melawan agama-agama dunia, yaitu Richard Dawkins dan Sam Harris.

Lihatlah kisah tentang Musa yang menyeberangkan orang-orang Israel melewati Laut Merah dengan memakai tongkatnya. Jika seseorang sebentar melepaskan diri dari sentimen keagamaan lalu membaca kisah itu dalam Perjanjian Lama atau Quran, sudah pasti dia akan bertanya-tanya: apakah ini kisah nyata atau hanya dongeng belaka.

Seorang beriman tak pernah bertanya-tanya dengan skeptis seperti itu sebab mereka membaca kitab “suci” dengan “mata seorang beriman”. Thomas Aquinas, seorang teolog Kristen dari abad 13, dengan baik sekali mengemukakan hal ini dalam Summa Theologiae: “Believers proves things from the premises of faith” (hal. 329, dalam edisi terjemahan ringkas yang diedit oleh Timothy McDermott). Apa yang dimaksud oleh Aquinas sebagai “premis iman” itu adalah “the authoritative sources of sacred scripture”.

Dengan kata lain, syarat seseorang bisa mengapresiasi suatu Kitab “Suci” agama manapun adalah ia harus memiliki “mata iman”, atau, jika mau memakai kembali istilah Durkheim, “religious sentiment”. Begitu sentimen atau premis iman itu hilang atau tak ada, maka kitab “suci” akan tampak sebagai dokumen yang aneh, sebagai “jumble mumble”.

Di mata saya, pertengkaran antara seorang Muslim apologetik dengan seorang Kristen yang juga apologetik untuk membuktikan bahwa Kitab “Suci” merekalah yang paling baik dan benar, jelas, mohon maaf, lucu. Sebab, sekali lagi, itu sama dengan tukang jamu yang semuanya teriak jamu yang dia jual lah yang paling baik.

Kembali lagi di sini, kita bisa belajar dari Durkheim. Dalam pengantar untuk karya besarnya di bidang sosiologi agama, “Elementary Forms of Religious Life”, Durkheim membuat sebuah pernyataan yang boleh jadi akan membuat semua orang beragama akan kaget seperti terkena setrum listrik. Durkheim mengatakan:

Fundamentally, then, there are no religions that are false. All are true after their own fashion: All fulfill given conditions of human existence, though in different ways (hal. 2).

Semua agama jelas benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua orang yang beragama merasa bahwa kebutuhan eksistensialnya sebagai manusia tercukupi dan terpenuhi oleh agama dan kepercayaan yang dipeluknya itu.

Kalau pernyataan Durkheim ini mau kita tarik secara lebih spesifik ke dalam konteks diskusi saya mengenai Kitab “Suci”, maka semua Kitab “Suci” adalah benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua pemeluk agama yang memiliki “religious sentiment” akan melihat Kitab “Suci”-nya itu sebagai paling baik dan benar.

Nada tulisan Durkheim itu memang tampak sangat relativis. Di mata saya, sikap ini jauh lebih sehat, karena dengan itu kita bisa mengapresiasi banyak hal, termasuk Kitab-Kitab “Suci” dari agama lain. Sikap ini lebih sehat ketimbang sikap apologetik yang, sekali lagi maaf, tampak seperti “katak dalam tempurung”. Jika kita menenggelamkan diri dalam tempurung, memang segala hal yang kita miliki tampak paling baik dan sempurna.

Sikap relativis Durkheimian itu mengajarkan kita untuk keluar dari tempurung sehingga kita melihat keluasan dunia di luar “dunia” kita sendiri yang selama ini kita peluk erat-erat dengan sentimen yang mendalam.

DALAM tulisan ini, saya selalu menulis Kitab “Suci” dengan tanda kutip pada kata “suci”. Saya sengaja melakukan itu, sebab Quran tidak pernah disebut sebagai Kitab Suci (al-Kitab al-Muqaddas), baik oleh Quran sendiri, hadis, atau oleh ulama tafsir klasik. Sebutan “Kitab Suci” untuk Quran muncul pada era modern sekarang ini, mungkin karena pengaruh tradisi Kristen.

Sebutan Quran untuk dirinya adalah “Kitab Mulia” (al-Quran al-Karim), sebagaimana terbaca dalam ayat “innahu laqur’anun karim fi kitabin maknun” (56:77).

Oleh karena itu, istilah “The Holy Qur’an” sebetulnya tampak aneh. Bahkan istilah “Tanah Suci” (Holy Land) pun juga terdengar aneh dalam konteks Islam. Dua tanah yang selama ini dianggap suci, Mekah dan Madinah, lebih tepat disebut sebagai “Tanah Terlarang”, terjemahan harafiah dari istilah “haramain”, maksudnya dua tanah yang “haram” alias terlarang; bukan tanah suci.

Disebut “terlarang” sebab orang yang tinggal di sana dilarang untuk memotong pohon atau membunuh hewan yang ada di dua tanah itu. Istilah “haramain” mungkin lebih tepat dikaitkan dengan konsep “taboo” sebagaimana kita lihat pada agama-agama kuno.

Sumber: http://ulil.net/2008/08/06/memahami-kitab-kitab-suci-secara-non-apologetik/

Penulis: Ulil Abshar-Abdalla

Komentar Iman Kristen:

Terimakasih atas tulisannya. Saya memang termasuk seorang Kristen apologetis, tapi dalam hal ini saya menarik sesuatu yang penting. Sejarah Alquran dan Kristen sama-sama dalam “permasalahan” dalam menemukan yang “asli”. Saya setuju dengan anda mengenai melihat “makna” dibandingkan “hurufiah” dalam kitab “suci”, Alkitab sangat menekankan hal tersebut.

Salam.


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

to : iman kristen
Tolong bos, bantu saya untuk mendefenisikan istilah dibawah ini….supaya mudah dimengerti. saya yakin anda bisa. (pintar )
1. Karunia
2. Rahmat
3. Anugerah
4. Pengasih
5. Dholim
6. aniaya
7. kafir

trims bos

Komentar oleh Domba tersesat

Terima kasih atas komentarnya.

Arti definisi:
1. Ketik dan masuk ke Google, kemudian masukkan masing-masing kata tersebut.
2. Masuk ke WIKI, ketik kata-kata tersebut.
3. Pergi ke Gramedia…, cari buku yang memberikan arti kata-kata tersebut.

Semoga membantu.

salam.

Komentar oleh Iman Kristen

Pohon dikenal dari buahnya. Pohon yang buruk menghasilkan buah yang jelek, pohon yang baik menghasilkan buah yang baik.
Negara yang mayoritas beragama tertentu, HAM diinjak-injak, negara yang mayoritas beragama tertentu yang lain, HAM dijunjung tinggi. Mungkin pohonnya rusak.
Penganut agama tertentu suka membunuh orang secara sembarangan di mall-mall atau di pusat keramaian. Mereka malah teriak dengan gagah perkasa menyebut nama tertentu…salahnya dimana?? Pohonnya??
Tak perlu diskusi teologis karena hanya buang-buang waktu dan meletihkan diri sendiri. Pohon dikenal dari buahnya…semua orang tahu kata-kata ini.

Komentar oleh darwin

hitler beragama mayoritas tertentu, musolini beragama mayoritas tertentu, negara penjajah inggris, portugis, belanda mayoritas beragama tertentu, george bush mencanangkan perang salib dgn agama tertentu, pembantaian di bosnia karena dilakukan oleh mayoritas agama tertentu

irlandia dan inggris masing2 berperang karena masalah agama tertentu…..

Pohon duren menghasilkan bentuk buah yg jelek tapi isinya enaaaaaak…….cape deeeeh

Komentar oleh rasiut

Pohon dikenal dari buahnya…semua orang tahu kata-kata ini.

hik hik ternyata dimana-mana banyak orang galak. Sampe susah aku jadinya.

Kalo ada buah yang kecut, ada buah yang manis – ya gimana ya ? Bagaimana cara menilai pohonnya. Anggap sajalah yang kecut-kecut itu belum cukup matang. Hik Hik.

O la la….

Komentar oleh lovepassword

Hmm…
Mencari perbedaan dan “membanding-bandingkan” sesuatu yang tidak kita ketahui secara “pasti”, tidak akan pernah ada habisnya…

Komentar oleh Hosting Murah Domain Gratis

buah mangga buah belimbing,
pasti pohonya ga sama,
makanya rasanya juga beda

auu ah, maksudnya apa
hohoho…

Komentar oleh munix

semoga anda dapat hidayah yah..:)

Komentar oleh anggavantyo

Alkitab versus Al Qur’an itu zamannya beda dan peruntukannya beda. sepengetahuan gua alkitab diperuntukkan bagi bangsa yahudi. Al Qur,an untuk mahluq seluruh alam. itu petunjuk yg pernah ku dengar.

Komentar oleh ester

@ Ester

Alkitab itu berisikan Firman-firman Allah
Alqur’an itu berisikan petunjuk-petunjuk hidup

itu aja analisis saya

Komentar oleh CINTAKU DITOLAK PACAR

Kalo bagi saya Al Qur’an adalah berisi firman Tuhan dan petunjuk komplit tentang hidup

Komentar oleh Kalo Saya

Buka FC aja yukk…. *halah*….

Kaskus mode “ON”

http://www.robert-id.com

Komentar oleh Robert

Hahahaha…
buat apa sibuk mengurusi agama orang lain, tegakkan saja lah ibadah
kita masing2, setelah itu baru lihat2 sekeliling kita.,,

http://rotyyu.tk

Komentar oleh rotyyu

Kenapa namanya kitab suci agama Kristen disebut Bibel, bukan injil, sesuai yang diturunkan pada nabi Isa a.s?

Atau jangan-jangan karena Injil itu bukan untuk orang Kristen, tapi hanya untuk kaum Nasrani yang beriman pada Allah swt, di jaman nabi Isa?

Komentar oleh mathematicse

Maaf klo pertanyaan saya terlalu sederhana… maklum awam sih sayanya.. he he he… :D

Komentar oleh mathematicse

To mathematicse

Hi hi hi…, masa sih, definisi injil saja tidak tahu, lalu bisa buat kesimpulan.

Ibarat matematika, ada soal, tidak tahu jalannya (rumus mengerjakannya), tapi langsung buat jawaban…, itu sih ajaib namanya.

Jadi, cari dulu rumusnya, cari cara mengerjakannya, baru dapet deh jawabannya.

Mohon jangan buat kesimpulan (jawaban) sebelum tahu arti injil.

Tolong tanya ke om google dulu ya, rumusnya ada disana (arti injil).

Ditunggu hasil pembelajarannya.

Salam.

Komentar oleh imankristen

semua jawaban ada di google
ngga usah panas
gitu kok repot

Komentar oleh butcher

All

Kalo masuk ke blog iman kristen gak usah komentar, POKOKNYA Google aja….kikikiiik

Komentar oleh boncel

Wah klo saya harus nanya ke Google, artinya sangat dimungknkan Anda tak dapat menjawab secara langsung dengan tegas, jujur, tepat, ringkas. He he he… :D

Artinya, mungkin, Anda sendiri tak yakin, masih ragu dengan yang Anda tahu…

Kalaua saya sih gampang aja, kalau saya ga tahu langsung bilang “Belum tahu!” Gitu aja repot… (*duh kok niru2 Gus Dur gini ya?*)

*Pertanyaan awam saya belum terjawab*

Maaf bila komentar saya begini. Hanya menanggapi komentar sebelumnya saja kok…

*Berdasarkan hasil membaca di Google, saya bingung membedakan antara Injil dan Bible…. Apakah Bible = campuran injil dan Taurat? Perjanjian lama dan baru?* Bukankah Taurat hanya berlaku untuk kaumnya nabi Musa saja? Kenapa masih dipake? Apakah karena belum lengkap?

Siapa yang perumus ajaran Kristen: Pauluskah? Kok bukan nabi Isa ya? Aneh…
Apa hubungan antara anak Tuhan dann dewa matahari jaman Romawi? Kenapa ada pohon natal segala (padahal Nabi Isa kan di Palestina, dan ga kenal dengan yang namanya hal-hal tersebut?

Komentar oleh mathematicse

@Matematicse

Bukan ngga bisa menjelaskan..
Males aja FITU lho (gitu lho maksudnya).

Wong pertanyaan KECIL gitu aja ngga bisa jawab..

kalau males cari di google, lebih baik ke smp kristen di deket rumah kamu aja terus tanya..

Pasti di jawab dengan memuaskan.

salam.

Komentar oleh jelasnggak

Ya udah deh kalau males mah, saya juga jadi males…

Btw, deket t4 tinggal saya sekarang, ga ada tuh smp yg dimaksud. Di sini, khususnya di Belanda, kebanyakan sudah ga menganut Kristen sebagai agama. Mereka kebanyakan sudah sangat tidak percaya lagi. *Maaf ini cuma sekedar info saja. Kalau ga percaya, silakan datang saja, periksa dan tanyai sendiri…. * He he he… :D

Komentar oleh mathematicse

@pemilik blog

hahaha, kenapa nda diberi pengertian menurut pemahaman anda sendiri.

kenapa setiap yg nanya harus nge-google, kenapa harus disuruh ke SMP Kristen.

dengan tidak mengurangi rasa hormat, ketika anda bisa menuliskan tentang ini, seharusnya jg bisa memberikan penjelasan.

It simply isn’t.

Komentar oleh siHarri

Terima kasih atas kehadiran siHarri…

Alkitab adalah Firman Allah.
Allah berfirman melalui nabi (PL) dan rasul (PB).

Salam.

Komentar oleh imankristen

u.mathematicse
khususnya di Belanda kebanyakan sudah ga menganut Kristen…

mudah sekali anda menilai suatu bangsa, dari dasar apakah anda mengatakan hal tersebut?

Komentar oleh noschy

Saya adalah rakyat Malaysia,kebetulan singgah di Blog saudara ini.

Apa yang saya dapat simpulkan disini adalah, keterangan saudara adalah kesimpulan secara peribadi.

Agama tidak akan menurut umat tetapi umat yang harus menurut tuntutan agamanya.

Islam adalah fitrah manusia, sesiapa yang memilih selain dari fitrah manusia, maka dia hampir-hampir bukan manusia.

Boleh saya tahu ; sejauh mana saudara mengikuti perkembangan Al-Quran, adakah saudara mengikuti kelas pemahaman teks Al-Quran?

Jika tidak! maka saudara membawa fitnah besar terhadap Al-Quran.

Berkenaan Bible! Bible dan Injil Nabi Isa berbeza, kerana Injil Nabi Isa a.s adalah dari Allah, tetapi Bible adalah tulisan Paulus, Paulus yang mengajar Tritunggal yang tidak berguna untuk manusia.

Nabi Isa a.s pula membawa ajaran tauhid iaitu meng-Esa-kan Allah dr menyukutukan (menyamakan) Allah dengan manusia.

Nabi Isa a.s tidak pernah menyeru manusia untuk menyembahnya, bahkan Bible Karangan Paulus juga tidak pernah menyatakan walaupun satu ayat.

Komentar oleh Death Magnetic

Terima kasih atas kehadirannya.

Tulisan di Blog ini adalah pelajaran islam yang ditulis oleh “pakar-pakar Islam Indonesia”. Rata-rata mereka berpendidikan Doktor (S3).

Silahkan anda mempelajarinya dan kita bisa berdiskusi bersama.

Kalau anda belajar dengan sungguh-sungguh, maka tidak ada fitnah dalam pelajaran ini, tapi kalau anda kurang banyak belajar…, maka anda akan tidak menyetujui isi tulisan ini. Disitulah anda sudah dekat dengan fitnah.

Salam.

Komentar oleh imankristen

@ImanKristen

Adakah saudara menguasai teks Al-Quran? kitab terjemahan tidak setarf dengan teks asal (Bahasa Arab). Namun terjemahan ini penting untuk pengetahuan umum.

Untuk mendalaminya, perlu kepada pengetahuan bahasa itu sendiri, saudara boleh memahami Al-Quran tanpa sebarang terjemahan?

Apa pandangan saudara terhadap agama Islam?

Komentar oleh Death Magnetic

Belajar islam dengan interlinier…, alquran dan terjemahan.

Anda memang betul…, terjemahan seringkali di “buat” sedemikian rupa untuk menutupi kesalahan atau kekeliruan yang ada pada Alquran. Kalau mempelajari teks aslinya (yang sudah tidak asli lagi tentunya)…, akan ditemukan banyak kesalahan.

Belajar Alquran? Pelajari dahulu sejarah Alquran di:
http://belajarmuslim.wordpress.com/category/sejarah-alquran/

Pandangan saya sama agama islam ada 2 hal:
1. Islam buruk, yang mungkin sedang anda imani saat ini.
2. Islam indah, sepeti tulisan pada blog ini yang merupakan tulisan pada pakar islam (doktor).

Islam itu akan indah…., kalau anda mengerti dan mempelajari seluruh isi blog ini dengan benar. Dengan Prinsip Islam yang tertera pada blog ini…, akan ada kedamaian antara Islam dan agama lainnya.

Salam.

Komentar oleh imankristen

yang penting…
kita semua tuh sama brother2 and sister2
dont be fanatic lah!!!
sebenarnya kita tuh tujuannya sama!!
surga!!!
masa surganya kristen sama islam beda? ENGGAK KHAN!!!
trus kalo pingin tau sapa yang lebih dulu… alkitab ato al quran? alah2 cape deh!!!
orang tinggal mbaca aja ribut melulu!!!
emang Tuhan seneng sama orang yang suka ribut? apalagi tukang buat keributan..!!!
wis lah PEACE aja deh…
WE ARE BROTHER!!!

Komentar oleh vero

@Vero

Khas buat saudara Vero, saudara jangan terlalu tertekan dengan soalan yang berbangkit.

Sesi soal jawab Islam, Kristian, Buddha, Hindu, Atheis, adalah perkara biasa, dan lumrah.

@imankristen

Bolehkah saudara kemukakan kesalahan Al-Quran?

Saya ada membaca sebahagian artikel saudara yang menyentuh Tanah Suci (Holy Land), The Holy Quran (Kitab Suci Al-Quran). Sebenarnya saudara tak perlu susahkan diri memahmi Al-Quran sedemikian, ini adalah kerana saudara tidak belajar secara langsung dengan Guru Muslim.

Mungkin saudara perlu mengambil perhatian, sedangkan ucapan Nabi Muhammad saw (Hadith) pun apabila periwayat tidak sampai kepada Nabi Muhammad, maka hadith itu tertolak sekalipun ia adalah baik.

Menyentuh tulisan Dr. yang saudara sentuh, sebenarnya saya lebih menghormati saudara apabila saudara berbual secara langsung dengan Guru Muslim, mungkin di Jabatan Agama Islam Indonesia.

Ini bertujuan supaya kefahaman tidak tersasar, tambahan saudara adalah seorang Kristian. Melainkan saudara adalah Pakar teologi Kristen seperti Jimmy Swaggart (Protesten) yang merupakan di antara pendebat terbaik Dunia (dari umat Kristian) pada pandangan Tokoh muslim Syeikh Ahmed Deedat.

Lagi saudara perlu melihat perdebatan di antara Dr.Zakir Naik dengan Dr.William Campbell di Amerika Syarikat yang berlangsung selama 4 JAM.

Akhirnya, Dr.Zakir naik mencabar seluruh agama-agam didunia termasuk Atheis untuk debat Ilmu.

Komentar oleh Death Magnetic

@imankristen

Saya boleh pecahkan kebuntuan, persoalan saudara yang melibatkan bankir besar serta kemusnahan pada umat Nabi Nuh a.s

Terlalu subjektif penilaian saudara, kerana itu saya melarang dan amat mengalu-alukan saudara ke Jabatan Agama Islam Indonesia, supaya maklumat saudara tidak bercanggah dengan apa yang dikatakan Al-Quran.

Komentar oleh Death Magnetic

Saudaraku, kalau anda baca buku dan belajar dari internet dan belajar dari diskusi-diskusi dengan tokoh islam…, bukanlah itu makna dari belajar?

Silahkan berikan argumentasi anda, jika anda memang mengerti Alquran. Gunakan otak anda, jangan “maaf” dengkul atau otot anda.

Saya tunggu pemahaman Alquran anda. Berikan komentar islam anda terhadap seluruh pelajaran yang ada di blog ini. Ada kemungkinan saudara belum belajar dengan benar. Maaf saya katakan demikian. Karena kalau anda belajar dengan benar, maka tidak sulit bagi anda untuk memberikan argumentasi terbaik anda pada setiap tulisan di blog ini.

So simple…

Salam.

Komentar oleh imankristen

@imankristen

Saudara, apa pun ulasan saudara tentang Islam di dalam Blog ini tetap tidak berguna, kerana seperti yang saya katakan, saudara cuba berkongsi kepada umum tentang kekhilafan Al-Quran yang memang tiada sama sekali.

imankristen============>Bagaimana umat Islam bisa melewatkan begitu saja kisah tentang Nabi Nuh di Quran tanpa bertanya-tanya secara “kritis”: bagaimana mungkin Tuhan menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? Apakah reaksi Tuhan semacam ini tidak keterlaluan? Mana sifat belas-kasih Tuhan? Baiklah, granted,Tuhan memang mempunyai sifat adil dan pengazab, selain sifat rahman dan rahim (kasih sayang).

Tetapi mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh — apakah azab seperti itu proporsional? (Jawab seseorang yang memiliki sentimen keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami tindakan Tuhan).

Banyak hal dalam Quran yang bisa kita persoalkan secara “kritis”, kalau kita mau sebentar melepaskan diri dari sentimen keimanan sebagai seorang Muslim.

Death Magnetic==============> Ini maklumat dari ULAMA mana? Atau saudara yang membuat penilaian berdasarkan ILHAM Roh Kudus!

Begini saudara, ulasan saudara berkenaan Islam, sama ada tentang Tuhan itu sendiri (Allah swt) juga kisah para Nabi yang terdapat di Al-Quran, masih lagi banyak kecelaruan dalam pemikiran saudara.

Saudara menggunakan pendekatan (psikologi) dari sumber-sumber Islam, dengan harapan umat Islam akan menimbulkan persoalan tentang agama mereka (Islam)

Saudara, saya dah melihat debat anatara Dr.Zakir Naik dengan Dr.William Campbell yang dimalukan dihadapan ribuan orang, hanya kerana beliau menulis maklumat ilmu-ilmu Islam dengan pendekatan yang salah.

Al-Quran bukanlah Suratkhabar atau Majalah Artis, yang boleh sesuka hati untuk diperjelaskan kepada umum dengan menggembar-gemburkan (publisiti murahan)isi-isi kitab Al-Quran dengan cara yang salah.

Salam

Komentar oleh Death Magnetic

Saya mengalu-alukan kedatangan saudara di Blog Muslim di hikmatun.wordpress.com (Malaysia), saudara boleh berdebat dengan beliau (Hikmatun)untuk apa saja tentang Bible dan Al-Quran.

Satu penambahan disini, sebelum saudara merosakkan maksud Al-Quran itu sendiri, boleh saudara kemukakan kepada saya tentang masalah lebihan wanita di dunia!

Bagaimana untuk di selesaikan lebihan wanita ini? Saya berharap Roh Kudus memberi Ilham kepada saudara.

—————————————————————————

imankristen==========> Di hadapan rasio manusia modern yang skeptik, jelas Kitab-Kitab “Suci” itu tampak seperti dongeng anak-anak. Contoh paling bagus untuk ini adalah dua sarjana yang akhir-akhir ini melakukan “crusade” melawan agama-agama dunia, yaitu Richard Dawkins dan Sam Harris.

Death Magnetic =================> Richard Dawkins????? Apa hal dengan Richard ni? team Harun Yahya telah mencabar beliau berdebat secara umum di negara beliau. Richard Dawkins tidak dapat membantah walaupun hanya 1 MUKA SURAT Buku Atlas Penciptaan by Harun Yahya, setahun telah berlalu, apa yang Richard (Saintis Atheis) dah buat?

Salam

Komentar oleh Death Magnetic

To Death Magnetic,
Anda menuliskan:
Tetapi mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh — apakah azab seperti itu proporsional? (Jawab seseorang yang memiliki sentimen keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami tindakan Tuhan).

Jawaban Iman Kristen:
Saya juga tidak setuju kalau Tuhan melakukan itu hanya karena 1-2 orang. Alkitab menuliskan bukan karena hal itu. Anda mendapatkan informasi yang kurang tepat dan anda sendiri tidak mau menyelidikinya. Bukan itu alasan Allah. Anda mau tahu? Baca Kejadian 6:5. Hanya Nuh sekeluarga yang berkenan (berbuat baik) di mata Allah, baca Kejadian 6:8.

Jadi kalau anda menpergunakan rasio anda untuk membaca Alkitab, maka itu mudah sekali. Tapi kalau anda tidak mempergunakan rasio anda, maka membaca apapun anda kurang bisa.

Jadi…, mohon sebelum memberikan komentar, rasio anda dilatih terlebih dahulu.

Gunakan rasio anda, buktikan dengan memberikan argumentasi anda di:
http://kemanusiaan.wordpress.com/2008/11/03/haji/#comment-3309

Jikalau anda punya rasio…, silahkan jawab disana. Saya tunggu (itu tempat netral, Atheis).

Salam.

Komentar oleh imankristen

@Otonesia

Saudara, kita hanya perlu berbicara di laman ini, “Bible (Kitab Paulus) VERSUS Al-Quran (Kitab Allah”

Beginilah saudara jika saudara mempercayai bahawa TUHAN itu WUJUD, maka orang-orang seperti Richard Dawkins terbantah 100% dan tidak wujud dalam Kamus orang yang beragama.

Jika saudara ingin memahami isi Al-Quran, saudara boleh mengikuti perkembangan Al-Quran di website Harun Yahya.

http://www.harunyahya.com/indo/index.php

————————————————–

Berkenaan Nabi Nuh a.s, sekali lagi saya berpesan, JANGAN berani MEMFITNAH Allah swt Tuhan Semesta Alam, saudara harus malu kepada Allah swt.

Saudara menggunakan pendekatan cetek, dalam menerangkan situasi para Nabi.

Jangan sekali-kali FITNAH kebenaran Allah swt, Bible karangan Paulus memang bermasalah, saudara tak boleh membandingkan Bible dengan Al-Quran. Ini kerana Al-Quran adalah satu-satunya kitab Teragung di dunia TANPA ada sebarang kecacatan, malahan mengagumkan.

Salam

Komentar oleh Death Magnetic

@imankristen

(PEMBETULAN : INI PERNYATAAN SAUDARA DAN BUKAN PERNYATAAN SAYA)
Anda menuliskan:
“Tetapi mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh — apakah azab seperti itu proporsional? (Jawab seseorang yang memiliki sentimen keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami tindakan Tuhan)”

Death Megnetic =======> Ini kenyataan Murahan, lebih 2000 JUTA umat Islam mengetahui hakikat Kisah Nabi Nuh a.s, dan lebih 2000 JUTA manusia ini juga tahu cerita sebenar kerana Allah swt telah pun menerangkan kepada umat Islam.

Sekali lagi saya tekankan disini, JANGAN FITNAH Tuhan yang memberimu Nafas, Tuhan yang memberimu kesihatan, Tuhan yang memberimu keperluan asas sebagai hamba-Nya yang miskin.

Allah adalah Tuhan yang Maha Esa dan tiada sesuatupun yang setara dengan-Nya.

hikmatun.wordpress.com

Salam

Komentar oleh Death Magnetic

sudah…sudah…

imani aja masing2 agama yang di yakini…

Tuhan berikan perbedaan bukan persamaan untuk menguji mans sampai sejauh mana otak yang dianugerahkan untuk berpikir positif..dan memandang perbedaan adalah sesuatu yang indah

ayo kembali ke alam masing2..

peace…

Komentar oleh netral

@ Death Magnetic…

Saya ulangi lagi jawaban saya diatas:
Saya juga tidak setuju kalau Tuhan melakukan itu hanya karena 1-2 orang. Alkitab menuliskan bukan karena hal itu. Anda mendapatkan informasi yang kurang tepat dan anda sendiri tidak mau menyelidikinya. Bukan itu alasan Allah. Anda mau tahu? Baca Kejadian 6:5. Hanya Nuh sekeluarga yang berkenan (berbuat baik) di mata Allah, baca Kejadian 6:8.

Apa anda tidak mengerti?

Anda mengcounter: Jangan bohongi Alloh….

He he he…, bagi saya allahnya islam itu adalah penipu. Bagi saya Allah saya adalah Allah yang sejati.
Bagaimana mungkin saya mengingkari Allah yang sejati dan mengikuti islam yang mengikuti allah penipu? Tidak mungkin.

Bagi anda, Allah anda yang benar…, itu adalah hak anda.

Sekarang begini cara kita diskusi:
1. Konsep islam, dibahas dengan sejarah islam.
2. Pendekatan kristen didekati dengan sejarah kristen.

Kemudian analisa dan berikan argumentasi logis anda.

Anda tanya Kristen, saya jawab dari Alkitab.
Saya tanya anda islam, anda jawab dari Alquran.
Sederhana saja.
Kalau memang singa, dia akan mengaum, tidak mungkin menggonggong (guk… guk… guk….).
Siapa yang singa? Diuji saja!

Sekarang, buktikan kalau tulisan islam di blog ini salah…, berikan argumentasi anda dengan logika yang benar. Saya tunggu.

Salam.

Komentar oleh imankristen

Hi Hi Hi. bos Iman, tantangan anda menarik juga. Hiks. Tapi intinya yang diomongin JIL Itu kan seperti yang pernah aku bilang :

Jika kita berada dalam satu agama, sangat mudah bagi
kita untuk mengharmoniskan ayat-ayat agama kita sendiri. Tapi di sisi lain kita cenderung “melihat” pertentangan dalam ayat2 agama lain. Itulah yang dinamakan Perbandingan agama model apologetik : yaitu memaafkan kesalahan pihak sendiri di satu sisi serta cenderung mencari-cari kesalahan pihak lain. Lha yang dikritik Ulil Abshar Abdalla Itu intinya justru itu.

Jadi karena kamu juga telah melakukan perbandingan agama secara apologetik kamu jelas ikut kena kritik dong.

Sebagai contoh model2 perbandingan agama yang apologetik.

Ambil satu ayat yang membahas kekerasan dalam Islam, lalu ambil ayat2 yang sedang membahas kedamaian dalam Kristen lalu bandingkan. Ayatnya memang valid karena sama2 ada. Tapi cara membandingkannya ya nggak bener model gicu. Lalu se-RW keplok-keplok. Kayak orang sedunia bego semua saja.

Contoh lain biar adil ya : Ambil satu ayat yang membahas/terkait dengan takdir Tuhan dalam Kristen lalu ambil satu ayat yang membahas mengenai kehendak bebas. Lalu tabrakkan dua ayat tersebut.
Misalnya saja Ketuklah maka pintu akan dibukakan vs Tidak setiap pintu yang diketuk akan dibukakan.
Kemudian buat kesimpulan : AGama ini nggak bener karena ayat2nya saling bertentangan. Ini perbandingan model apologetik. Karena yang namanya konsep takdir(keterbatasan manusia) vs kehendak bebas manusia juga ada dibanyak agama. Termasuk mungkin dalam agama si pengkritik itu sendiri. Satu RW keplok-keplok lagi. Jadi dua RW saling keplok2 di tempat yang berbeda dengan kebegoan yang sama.

Lha yang dikritik Ulil itu intinya justru itu.
Kalo mau membandingkan ayat2 agama secara serius ya a dibandingkan dengan a, bukan ayat yang lagi membahas soal a lalu dibandingkan dengan b. Atau hanya sekedar mencari-cari kesalahan saja. Intinya cari secara serius titik temunya dimana.

Kalo sama agama sendiri saja, biarpun seaneh apapun tetap bisa diharmoniskan, tetapi untuk agama lain malah sengaja dicari2 kelemahannya.
Itu adalah dasar kritik JIL secara umum.

Lha karena kamu itu mengaku kalo kamu apologetik maka kritik itu juga nyasar ke kamu dong. Tul nggak ???

SALAM

Komentar oleh lovepassword

Tiada guna diskusi bila tiada cari kebenaran. Tiada dapat kebenaran bila ada kesombongan. bila ada kesombongan, musnalah amal kebajikan. Guru yang sombong tidaklah dapat manfaat.

Komentar oleh Renaldiy

@Imankristen

Saudara, saudara menyatakan bahawa Tuhan Umat Islam adalah PENIPU!

Sekarang saya membawa satu topik yang cukup membantu kita dalam mengenal sifat Allah swt Tuhan seluruh Alam.

Allah swt adalah Tuhan yang Memberimu Nafas, Allah adalah Tuhan yang memberimu Kesihatan, Allah adalah Tuhan yang memberimu kesempatan selaku hamba-Nya yang miskin dan berkelanan sebagai pengembara di muka bumi-Nya.

Sekarang saya nak saudara kemukakan HUJAh berkenaan TUHAN yang Maha Kuasa, bagaimana TUHAN itu dikatakan Maha Berkuasa berdasarkan Kitab saudara dan saudara juga boleh membuktiktikan bahawa Allah dalam konsep pengertian Islam adalah PENIPU (Sesat).

Buktikan.

Salam

Komentar oleh Death Magnetic

@Death Magnetic

Mungkin contoh ini bisa menjawab Allah dalam konsep Islam adalah Allah yang Penipu..

UPACARA IBADAH HAJI

Sekilas tentang Sholat

Mendirikan sholat adalah rukun Islam kedua yg harus dijalani oleh setiap Muslim. Sholat adalah cara sembahyang agama bangsa Arab yang pada waktu melakukannya yaitu ruku dan sujud harus menghadap ke Ka’bah di Mekkah. Tata cara sembahyang agama bangsa Arab ini diambil dan ditirukan dari tata ibadah agama Kristen. Tata cara sembahyang ini oleh agama Kristen telah dilakukan sejak zaman para rasul yaitu pada abad pertama tahun Masehi sampai sekarang ini. Arah kiblat dari sembahyang agama Kristen ini adalah arah ke timur dan dilakukan dalam dua versi. Versi yang pertama adalah versi nabi Daniel di mana jumlah melakukan sholat per harinya adalah tiga kali sehari. Versi yang kedua adalah versi nabi Daud di mana jumlah melakukan sholat per harinya adalah tujuh kali sehari. Pada zaman sekarang tata cara sholat ini hanya dilakukan oleh jemaat gereja Kristen Orthodox yang telah melakukannya sejak abad pertama tahun Masehi hingga sekarang ini. Dengan demikian rukun Islam yang kedua ini mengandung unsur-unsur peniruan terhadap ritual beribadah agama Kristen.

Pada mulanya kiblat sholat adalah Baitul Maqdis di Yerusalem, tetapi setelah Muhammad merasa kedudukannya makin kuat dan atas pertimbangan politis maka arah kiblat dipindahkan dari arah ke Baitul Maqdis di Yerusalem menjadi ke arah yang baru yaitu arah Masjidil Haram di Mekkah sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 142 dan Hadits Shahih Bukhari no. 240:
Orang-orang yang b odoh di antara manusia akan berkata: “Apakah gerangan (sebabnya) mereka (orang Islam) beralih dari kiblat mereka semula (dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram?)
Katakanlah: Timur dan Barat kepunyaan Allah. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus. (QS 2:142)

Dari surat Al-Baqarah ayat 142 itu timbul pertanyaan, “Mengapa sholat agama bangsa Arab harus menghadap ke arah Ka’bah di Mekkah?” Karena Ka’bah adalah tempat tinggal Allah, yaitu rumah Allah sebagaimana yang disebut dalam Surat Al Hajj (QS 2) ayat 26:
“Dan (ingatlah) ketika Kami tempatkan Ibrahim pada tempa Baitullah (dengan firman): Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan sesuatu, dan sucikanlah rumahKu (Ka’bah) untuk orang-orang yang tinggal (itikaf) dan orang-orang yang ruku dan sujud (sholat)”. (QS 22:26)

Pada awalnya Ka’bah di Mekkah ini adalah lokasi pusat penyembahan 360 patung-patung berhala (Hadits Shahih Bukhari no. 1187). Tetapi sejak Muhammad menyiarkan agama Islam yang merubah agama bangsa Arab dari agama yang menyembah banyak Tuhan dengan 360 patung-patung berhala (politeisme) menjadi agama yang hanya menyembah satu Tuhan saja, maka seluruh patung-patung berhala disingkirkan, kecuali ditinggalkan hanya sebuah patung berhala yaitu batu hitam Hajar Aswad yang diletakkan di sudut Ka’bah.

Pada waktu penataan kembali Ka’bah (akibat banjir) dan penentuan di mana Hajar Aswad akan ditempatkan kembali, maka timbul perselisihan di antara pemuka-pemuka suku Quraisy, karena masing-masing pemuka suku merasa berhak untuk menentukan di mana tempat Hajar Aswad ditempatkan kembali. Akhirnya disepakati oleh mereka bahwa yang akan menjadi hakim dalam penempatan kembali batu hitam Hajar Aswad adalah orang yang pertama datang ke Ka’bah. Ternyata orang yang datang pertama adalah Muhammad (waktu itu Muhammad berusia lebih kurang 35 tahun dan belum menjadi nabi) dan semua pemuka Quraisy menyetujui bahwa Muhammad-lah yang akan menentukan lokasi di mana Hajar Aswad akan diletakkan. Agar semua pemuka-pemuka suku Quraisy terlibat dalam penentuan tempat Hajar Aswad tersebut, maka Muhammad mengambil sehelai kain lalu dihamparkannya dan Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah kain tersebut. Kemudian Muhammad menyuruh agar setiap pemuka suku Quraisy bersama-sama mengangkat tepi kain tersebut ke tempat asal Hajar Aswad ditempatkan. Ketika sampai ke tempatnya, maka Muhammad meletakkan batu hitam Hajar Aswad tersebut dengan tangannya sendiri ke tempatnya. Dengan demikian selesailah persengketaan antara pemuka-pemuka Quraisy. Dan oleh peristiwa itu Muhammad diberi gelar Al-Amin, yaitu yang dipercaya.

Dengan begitu dari riwayat tersebut, Hajar Aswad inilah yang didewakan serta disembah dan diletakkan di Ka’bah sebagai tempat tinggal atau rumahnya Allah, dan setiap pengikut agama bangsa Arab yang melakukan sholat haruslah menghadap ke arah Ka’bah di mana Hajar Aswad tersebut ada.

Upacara Ibadah Haji sebagai Ibadah Menyembah Berhala

Melakukan upacara ibadah haji telah dilakukan oleh bangsa Arab jauh sebelum Muhammad lahir. Dengan demikian upacara ibadah haji ini bukanlah merupakan ibadah agama yang baru dilaksanakan sejak agama bangsa Arab disiarkan oleh Muhammad. Oleh sebab itu upacara ibadah haji yang sekarang ini hanya merupakan kelanjutan dari upacara ibadah haji bangsa Arab yang sejak dahulu kala dilaksanakan jauh sebelum Muhammad lahir dalam rangka bangsa Arab menyembah kelompok berhala yang berada di Ka’bah Mekkah yang berjumlah 360 patung berhala (Hadits Shahih Bukhari no. 1187).

Pada waktu itu Ka’bah di Mekkah telah merupakan pusat penyembahan berhala antara lain adalah Hajar Aswad, Laata, Manaata, Uzza dan lain-lain. Menurut Hadits Shahih Bukhari no. 843, pada waktu itu bangsa Arab melakukan upacara ibadah haji dalam rangka penyembahan kelompok berhala yang 360 jumlahnya dengan cara melakukan thawaf, yaitu berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali dalam keadaan telanjang bulat tanpa busana sambil bertepuk tangan.
“Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Abu Bakar Siddik ditugaskan oleh Rasulullah SAW sebelum haji wada untuk memimpin satu kaum pada hari Nahar melakukan haji, kemudian memberitahukan kepada orang banyak, suatu pemberitahuan: Ketahuilah! Sesudah tahun ini orang-orang Musyrik tidak boleh lagi haji dan tidak boleh thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang. Sebelum Islam, orang-orang musyrik Arab telah melakukan juga pekerjaan haji menurut cara mereka sendiri. Antara lain ialah thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang bulat sambil bertepuk tangan.” (Hadits Shahih Bukhari no. 843)

Sejak Muhammad menyiarkan agama Islam maka bangsa Arab yang melakukan upacara ibadah haji tidak boleh lagi telanjang bulat tetapi seluruh anggota badan harus ditutupi dengan kain putih (ihram) dengan catatan tidak boleh memakai baju dalam dan celana dalam dan tidak boleh bertepuk tangan.

Pakaian ihram ialah menutup tubuh dengan dua helai kain putih yang tidak dijahit, di mana sehelai diselubungkan di sekeliling bahu dan yang sehelai lagi diselubungkan di sekeliling pinggang. Sedangkan kepala, kedua belah tangan dan kaki tidak boleh tertutup.

Menurut Surat Ali Imraan ayat 97 setiap orang yang mampu harus melakukan upacara ibadah haji sebagai kewajiban penyembahan kepada Allah. Melakukan upacara ibadah haji berarti harus datang ke tempat Ka’bah di Mekkah untuk menyembah Allah secara langsung.
Padanya ada tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim dan barang siapa memasukinya, maka amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia karena Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana. Dan barangsiapa yang ingkar (terhadap kewajiban haji), maka bahwasanya Allah Maha Kaya dari semesta alam. (QS 3:97)

Walaupun dikatakan dalam surat Ali Imraan ayat 97 bahwa melakukan upacara ibadah haji hanya bagi orang-orang yang mampu saja, yaitu orang-orang yang kaya saja dan bukan untuk orang-orang yang miskin, tetapi karena menurut Hadits Imam At-Turmudzi yang menyatakan bahwa Mekkah adalah kota dengan 100.000 kebaikan yang memberikan beratus-ratus ribu pahala, maka orang miskin pun berlomba-lomba mencari uang untuk biaya melakukan upacara ibadah haji dengan cara menjual harta benda mereka yang terbatas itu secara habis-habisan.

Kebaikan dan pahala yang akan diperoleh jika mengunjungi Mekkah menurut Hadits Imam At-Turmudzi adalah sebagai berikut:

1. Mekkah adalah kota dengan 100.000 kebaikan.
2. Orang yang sekali saja sholat di Mekkah akan mendapatkan pahala yang sama seperti 100.000 sholat.
3. Orang yang berpuasa sehari saja di Mekkah akan mendapat pahala sama dengan 100.000 hari puasa.
4. Orang yang memberi sedekah satu dirham di Mekkah akan memperoleh pahala dari Allah sebanyak 100.000 dirham sedekah.
5. Orang yang membaca Alquran tamat satu kali (satu khatam) di Mekkah akan mendapat pahala sama dengan membaca Quran 100.000 khatam Quran.
6. Orang yang membaca satu kali tasbih di Mekkah akan mendapat pahala sama dengan membaca 100.000 tasbih.

Hadits Imam At-Turmudzi:
“Ibnu Abbas mewariskan bahwa Rasulullah bersabda yang maksudnya: Tidak suatu negeri di permukaan bumi ini yang diangkat Allah padanya satu kebaikan dengan 100.000 kebaikan, kecuali Mekkah. Barangsiapa sholat sekali di Mekkah niscaya dikaruniai Allah pahala 100.000 sholat.
Barangsiapa bersedekah satu dirham di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala 100.000 dirham sedekah.
Barangsiapa berpuasa sehari di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala 100.000 hari puasa.
Barangsiapa membaca satu khatam Quran di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala membaca 100.000 khatam Quran.
Barangsiapa membaca satu kali tasbih di Mekkah, niscaya dituliskan Allah baginya pahala membaca 100.000 tasbih.
Satu hari beribadah di tanah haram itu lebih diharap dan lebih baik bagimu daripada berpuasa sepanjang masa dan beramal ibadah yang kamu kerjakan di tempat lain.”

Di samping Hadits Imam At-Turmudzi ini yang begitu memikat dan mendorong setiap pengikut agama bangsa Arab untuk datang ke Mekkah, terdapat pula Hadits lainnya yaitu Hadits riwayat Ibnu Majah yang mengatakan bahwa jika umat Islam berdoa sambil melihat Ka’bah, maka doa tersebut akan dikabulkan Allah.
Rasulullah SAW bersabda: Dibukakan pintu langit dan diperkenankan doa orang muslim ketika melihat Ka’bah. (Hadits riwayat Ibnu Majah)

Semua hal-hal yang dinyatakan dalam hadits tersebut di atas jelas-jelas telah memberhalakan kota Mekkah dengan Ka’bahnya.

Lalu selanjutnya, sebagaimana diketahui bahwa ajaran agama bangsa Arab ialah mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, sehingga ibadah apapun yang mereka laksanakan adalah dalam rangka cari pahala.

Oleh sebab itulah dalam kenyataannya orang berlomba-lomba mencari uang untuk biaya melakukan upacara ibadah haji. Walaupun di dalam Alquran ditentukan bahwa melakukan upacara ibadah haji hanya bagi orang yang mampu saja atau hanya bagi orang-orang terbilang kaya saja, tetapi karena pahala yang dijanjikan begitu besar jumlahnya, yaitu beratus ribu dan jika tinggal di Mekkah sekurang-kurangnya satu minggu akan mendapat pahala berjuta-juta kali, maka tidak heranlah jika orang-orang miskin yang tidak mampu pun berlomba-lomba mencari uang untuk biaya melaksanakan upacara ibadah haji ini.

Untuk mencari dana atau uang untuk biaya ibadah haji ini orang tidak segan-segan menjual seluruh harta bendanya yang jumlahnya sudah terbatas.

Bahkan ada orang sampai melakukan penipuan demi memperoleh uang untuk biaya melakukan upacara ibadah haji tersebut. Ada sementara orang bahkan mencuri atau berkorupsi agar memperoleh uang untuk biaya upacara ibadah haji. Mereka sampai berani mencuri atau berkorupsi karena menurut Hadits Shahih Bukhari no. 647 yang menyatakan bahwa walaupun mereka mencuri dan berzinah, maka mereka tetap akan masuk surga, asalkan tidak syirik.
Abu Dzar mengatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Seorang datang kepadaku dari Tuhanku membawa berita: “Sesungguhnya barang siapa di antara umatku yang mati, sedangkan dia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, orang itu masuk surga.” Aku bertanya: Sekalipun orang itu berzinah dan mencuri? Jawab nabi: “Ya sekalipun dia berzinah dan mencuri.” (Hadits Shahih Bukhari no. 647)

Pada lazimnya upacara ibadah haji memakan waktu sekitar enam hari lamanya, yaitu mulai tanggal 8 Dzulhijjah sampai dengan tanggal 13 Dzulhijjah (Hadits Shahih Muslim no. 1241).

Hal yang dilakukan di dalam upacara ibadah haji adalah:

1) Harus berpakaian ihram.

2) Datang ke Masjidil Haram di Mekkah dan langsung menuju ke sudut Ka’bah di mana batu hitam Hajar Aswad berada untuk memulai thawaf qudum (selamat datang). Thawaf qudum dilaksanakan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali.

3) Melakukan Sa’i, yaitu melakukan perjalanan kaki dari bukit Marwah ke bukit Shafa yang berada dalam lingkungan Masjidil Haram sebanyak 7 kali.

4) Kemudian pergi ke padang Arafah melakukan wukuf yaitu berada di padang Arafah mulai jam 12.00 siang sampai matahari terbenam. Selama berada dalam keadaan wukuf diwajibkan memikirkan perkara-perkara rohani dan membaca ayat-ayat Alquran. Di padang Arafah terdapat bukit Jabal Al Rahmat untuk dikunjungi.

5) Upacara ibadah berikutnya adalah berjalan ke Musdalifa untuk tinggal sepanjang malam, kemudian paginya pergi ke Mina untuk melakukan upacara melontarkan jumrah, yaitu melontarkan batu kerikil kepada si Iblis sebanyak 7 kali. Ada 3 jumrah, yaitu: jumrah ula, jumrah wustha, jumrah aqabah. Dengan demikian upacara melontarkan batu kerikil kepada si Iblis adalah sebanyak 7×3 = 21 kali. Dalam hubungan ini pemerintah Saudi Arabia telah menyediakan sejumlah besar batu-batu kerikil untuk melontari Iblis. Batu-batu kerikil ini disediakan untuk para calon jemaah haji yang akan melakukan upacara melontari Iblis dengan batu kerikil. Batu-batu kerikil ini diletakkan di tempat-tempat yang menuju ke jumrah ula, wustha dan aqabah. Walaupun telah disediakan batu-batu kerikil secukupnya untuk melontari iblis-iblis tersebut, tetapi banyak juga dari jemaah haji yang melontarkan batu-batu dengan ukuran yang besar sehingga batu-batu tersebut sering mengenai dan melukai kepala orang-orang yang berada di muka di dekat jumrah-jumrah tersebut, terutama di jumrah aqabah.

Sementara itu pada tanggal 10 Dzulhijjah dilakukan penyembelihan hewan untuk kurban. Hewan yang dikurbankan pada umumnya adalah kambing, domba, sapi, unta. Selain dari pada itu diadakan upacara mencukur rambut atau menggunting rambut saja.

6) Kemudian kembali ke Masjidil Haram di Mekkah untuk melakukan thawaf wada dan Sa’i antara bukit Shafa dan Marwa. Thawaf wada sebagai thawaf selamat tinggal (Hadits Shahih Muslim no. 1261 dan no. 1262).

Sebelum dilakukan thawaf qudum maka pelaksana upacara ibadah haji harus membaca doa talbiyah yang berbunyi sebagai berikut:
Labbaik alaahumma labbaik
Labbaika laa Syarikalaka labaik
Innal hamda wan nimata laka walmulk
Laa Syaariika laka 3 x.

Artinya:
Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu. Aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat serta kerajaan hanya untukMu, tiada sekutu bagiMu.

Dengan demikian pada waktu pelaksana upacara ibadah haji memasuki Masjidil Haram maka ia harus langsung menuju ke sudut Ka’bah di mana batu hitam Hajar Aswad ditempatkan sambil membaca doa talbiyah tersebut di atas.

Kemudian setelah sampai di muka batu hitam Hajar Aswad lalu membungkuk dan menyembah sambil mencium batu hitam tersebut. Setelah mencium batu tersebut barulah ia dapat melakukan thawaf qudum (thawaf selamat datang) berjalan keliling Ka’bah sebanyak 7 kali.

Pada waktu jalan berkeliling Ka’bah sebanyak 7 kali, maka setiap kali melewati batu hitam Hajar Aswad tersebut, haruslah batu hitam itu dicium atau kalau tidak mungkin, maka disentuh atau kalau juga tidak mungkin disentuh karena banyaknya orang, haruslah mengangkat tangan ke arah batu hitam itu sambil mengucapkan Allahu Akbar yang berarti Allah Maha Besar. Hal ini semuanya diungkapkan dalam hadits-hadits sebagai berikut:
“Dari Nafi r.a. katanya: Ketika Ibnu Umar telah dapat masuk ke tanah Haram, dia berhenti membaca talbiyah dan ia bermalam di Zu Thaa. Waktu melewati perbatasan tanah Haram berhenti membaca talbiyah. Dan setelah memasuki tanah Haram dibaca kembali.” (Hadits Shahih Bukhari no. 818)

“Dari Jabir bin Abdullah r.a. katanya: Tatkala Rasulullah SAW tiba di Mekkah, mula-mula beliau datangi Hajar Aswad lalu beliau cium, kemudian beliau berjalan ke kanan lalu berlari-lari kecil tiga kali putaran dan berjalan kaki empat kali putaran.” (Hadits Shahih Muslim no. 1190)

“Dari Ibnu Umar r.a. katanya: Tidak pernah saya tidak menyentuh kedua sudut ini, baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan lapang, semenjak saya melihat nabi saw menyentuh kedua-duanya.” (Hadits Shahih Bukhari no. 835)

“Dari Ibnu Abbas r.a. katanya: Nabi SAW pernah thawaf di Ka’bah dengan mengendarai unta. Setiap beliau melewati satu sudut, beliau memberi isyarat ke arah sudut itu dengan apa saja yang ada di tangan beliau sambil mengucapkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar).” (Hadits Shahih Bukhari no. 838)

Dari uraian di atas dapat dilihat dengan jelas bahwa batu hitam yang bernama Hajar Aswad yang terletak di salah satu sudut Ka’bah sangat didewa-dewakan dan dianggap sebagai Allah yang Maha Besar (Allahu Akbar).

Oleh sebab itulah setiap pengikut agama bangsa Arab harus sujud dan menyembahnya pada setiap kali melakukan sholat. Ka’bah di mana Hajar Aswad ditempatkan dianggap sangat suci sekali sehingga orang yang berada di sekitar Ka’bah dilarang menghadap atau membelakangi Ka’bah pada waktu buang air atau hajat besar di ruangan terbuka seperti tanah lapang atau padang pasir.

Setiap pengikut agama bangsa Arab yang akan melakukan sholat di mana pun dia berada harus menghadapkan dirinya ke arah Hajar Aswad yang ditempatkan di sudut Ka’bah atau berkiblat ke Mekkah, karena Ka’bah ada di dalam kota Mekkah dan Ka’bah itulah tempat tinggal atau rumah Allah atau tempatnya Hajar Aswad.

Jika kita perhatikan dalam Alquran Surat Al-Faatihah ayat 1, yaitu Basmalah yang menyatakan bahwa Allah ialah zat atau benda wujud (materi) yang maha suci yang disembah dengan sebenarnya, maka benda yang dimaksud adalah benda batu hitam Hajar Aswad yang oleh bangsa Arab disembah dan dipuja sejak jaman dahulu sebelum Islam disiarkan oleh Muhammad. Hanya pada waktu itu Hajar Aswad disembah dan dipuja bersama-sama dengan 359 berhala lainnya termasuk berhala-berhala perempuan Laata, Manaata dan Uzza. Pada waktu itu agama bangsa Arab sifatnya politeisme yaitu menyembah banyak Tuhan sampai jumlahnya 360 patung berhala yang didewakan sebagai Tuhan-tuhan.

Tetapi setelah agama bangsa Arab disiarkan oleh Muhammad maka 359 patung-patung berhala disingkirkan dari Ka’bah (Hadits Shahih Bukhari no. 832) kecuali Hajar Aswad yang tetap tinggal, karena agama bangsa Arab yang baru mengajarkan hanya menyembah satu Tuhan sehingga agama bangsa Arab yang bersifat politheisme dirubah menjadi monotheisme yaitu hanya menyembah satu Tuhan yang di dalam hal ini menyembah satu berhala batu hitam yang bernama Hajar Aswad.

Mendewa-dewakan dan menyembah batu hitam Hajar Aswad yang dilakukan oleh Muhammad ternyata membuat gusar pengikut Muhammad yang setia, yaitu Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab yang telah mengimani rukun iman ketiga dari agama Islam yang percaya pada Taurat, Zabur dan Injil, mengetahui benar bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah yang hidup yang dapat memelihara dan melindungi.

Diapun mengetahui bahwa sebagian dari Taurat, Zabur dan Injil telah dimasukkan ke dalam Alquran antara lain di dalam Surat Ali-Imran (QS 3) ayat 150, surat Al-An Aam (QS 6) ayat 102, surat Asy-Syuura (QS 42) ayat 28, surat Al-Hasyr (QS 59) ayat 23.

Lain dari pada itu, juga Umar bin Khattab pun mengetahui bahwa Alquran adaah bagian dari Alkitab seperti disebutkan di dalam surat Az-Zukhruf (QS 43) ayat 4, dan surat Asy-Syuura (QS 26) ayat 196.

Oleh sebab itu pada prinsipnya Umar bin Khattab tidak mau sujud menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut, karena dia mengetahui benar bahwa batu hitam itu tidak lain adalah benda mati yang tidak mungkin dapat menciptakan langit dan bumi apalagi sebagai pemelihara, penjaga dan penolong.

Tetapi karena Muhammad sendiri telah memberi contoh untuk menyembah batu hitam tersebut, maka sebagai pengikut yang setia kepada Muhammad, akhirnya tidak ada jalan lain bagi Umar bin Khattab untuk juga menyembah dan mencium batu tersebut walaupun dalam hatinya tetap tidak bisa menerima kenyataan ini sehingga dia bersungut-sungut pada waktu menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut.

Hal ini dapat disaksikan dalam Hadits Shahih Bukhari maupun Hadits Shahih Muslim sebagaimana dinyatakan berikut ini:
Dari Umar r.a. katanya: Bahwasanya dia datang mendekati Hajar Aswad (batu hitam) lalu dia menciumnya katanya: “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau ini batu yang tidak memberi mudharat dan tidak pula memberi manfaat. Jikalau tidaklah karena saya melihat nabi saw mencium engkau, niscaya saya tidak akan menciummu pula.” (Hadits Shahih Bukhari no. 830)

Dari Salim r.a. katanya bapaknya menceritakan kepadanya bahwa Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad, kemudian Umar berkata: “Ketahuilah, demi Allah! Aku tahu engkau hanya batu. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, aku tidak akan menciummu.” (Hadits Shahih Muslim no. 1222)

Pengetahuan tentang Allah yang benar, telah dipahami oleh Umar bin Khattab yaitu Allah yang harus disembah oleh bangsa Arab adalah Allah yang disebut dalam Alkitab yang telah dituangkan ke dalam Alquran melalui Surat Ali-Imraan (QS 3) ayat 45, yaitu Isa Almasih yang terkemuka dan yang paling tinggi kedudukannya di dunia dan akhirat yang lahir dari Roh Allah (Surat An-Nisaa ayat 171), yang merupakan firman Allah (Hadits Shahih Bukhari no. 1496), yang dapat menciptakan burung, di mana identik dengan penciptaan Allah akan manusia (Surat Al-Maidah ayat 110, Surat Ali-Imraan ayat 49), dan yang menghakimi setiap orang pada akhir zaman (Surat An-Nisaa ayat 159, Hadits Shahih Bukhari no. 1090, Muslim no. 127).

Oleh sebab itu pada waktu Umar bin Khattab mengucapkan doa talbiyah yaitu: “Aku penuhi panggilanMu ya Allah” sambil berjalan menuju batu hitam Hajar Aswad, kemudian setelah sampai di hadapan batu hitam tersebut, dia harus membungkuk menyembah dan mencium batu tersebut, timbullah dalam hatinya suatu pertentangan yang tidak ingin menyembah dan mencium batu tersebut sebagai tanda selamat datang sebelum melakukan thawaf qudum. Tetapi karena Muhammad telah memberi contoh sebelumnya bahwa batu hitam itu harus disembah dan dicium, maka Umar bin Khattab pun taat melaksanakannya sebagaimana dicontohkan oleh Muhammad walaupun hatinya sangat menentangnya.

Oleh sebab itu beliau terpaksa mencium dan menyembah batu hitam tersebut disertai dengan bersungut-sungut dan bersumpah.

Sesungguhnya pada saat itu Umar bin Khattab sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan syirik, karena dia telah percaya kepada Allah yang benar sesuai dengan disebutkan dalam Alkitab tetapi sekarang apa boleh buat, dia harus menunjukkan kesetiaannya kepada Muhammad dengan cara harus menyembah berhala pula.

Dia pun mengetahui bahwa Muhammad telah menurunkan Surat An-Nisaa (QS 4) ayat 117 dalam Alquran yang menyatakan bahwa penyembahan berhala adalah sama dengan menyembah setan. Oleh sebab itu Umar bin Khattab sadar bahwa apa yang dia lakukan yaitu menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad dan mendewa-dewakannya sebenarnya dilarang, karena menimbulkan murka Allah.
“Yang mereka sembah selain dari Allah tidak lain hanyalah berhala perempuan dan tiadalah yang mereka sembah kecuali setan yang durhaka.” (QS 4:117)

Tentunya bukan Umar bin Khattab saja yang sadar akan penyembahan berhala batu hitam Hajar Aswad adalah tidak sesuai dengan ketentuan Taurat dan Injil yang sudah diterapkan dalam Alquran.

Pada umumnya bangsa Arab yang beragama Yahudi dan yang beragama Kristen yang pada waktu itu sudah ada dan hidup di Mekkah dan Madinah, juga tidak mau menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad karena mereka tahu bahwa hal ini sangat bertentangan dengan ketentuan yang ada dalam Taurat agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen.

Tetapi anehnya, orang-orang yang tidak mau menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut oleh Muhammad justru dinyatakan sebagai orang Musyrik dan orang kafir.

Menurut Muhammad, orang-orang Musyrik ini harus dimusuhi dan diperangi sebagaimana yang tertera dalam Alquran sebagai berikut:
“Apabila habis bulan-bulan Haram, maka perangilah orang-orang Musyrik itu di mana kamu jumpai, dan tangkaplah mereka, kepunglah dan dudukilah setiap tempat pengintaian mereka. Jika mereka taubat, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, maka biarkanlah mereka pada jalannya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS 9:5)

Memang Muhammad telah berhasil mengubah agama bangsa Arab dari agama politheisme yang menyembah banyak Tuhan menjadi agama monotheisme yang menyembah hanya satu Tuhan saja. Muhammad pun telah berhasil memasukkan sebagian dari Taurat dan Injil ke dalam Alquran, bahkan Taurat dan Injil dianggap sebagai dasar dari Alquran. Tetapi Muhammad tidak berhasil merubah tradisi bangsa Arab yang sejak beribu-ribu tahun yang lalu menyembah berhala sampai zaman sekarang. Muhammad hanya berhasil mengurangi jumlah berhala yang disembah dari 360 buah berhala menjadi penyembahan kepada satu berhala saja.

Mengapa hal ini sampai terjadi demikian, padahal pada mulanya Muhammad memasukkan unsur-unsur Taurat dan Injil agar dapat menyembah Tuhan yang benar sesuai dengan apa yang ditulis dalam Taurat dan Injil? Hal ini terjadi karena sejak bayi, Muhammad telah diserahkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib kepada batu hitam Hajar Aswad di kaki Ka’bah. Mungkin batu hitam Hajar Aswad ini mempunyai daya tarik yang luar biasa besarnya, sehingga walaupun pada mulanya secara resmi Muhammad bertekad menyembah Tuhan yang digambarkan Taurat dan Injil, tetapi akhirnya dalam kenyataannya hanya menyembah batu hitam Hajar Aswad tersebut.

Pengikut agama bangsa Arab selain Umar bin Khattab, menyadari tentang kekeliruan ini, oleh sebab itu kekeliruan ini mereka tutupi dengan cara bahwa setiap orang yang bukan pengikut agama bangsa Arab dilarang datang ke Ka’bah Mekkah, agar praktek penyembahan berhala ini tidak terlihat keluar dengan harapan kekeliruan ini tidak akan diketahui oleh umum.

Larangan ini khususnya ditujukan kepada pengikut-pengikut agama Yahudi dan agama Kristen, karena merekalah yang mengetahui Tuhan yang sebenarnya yang digambarkan dalam Taurat serta Injil dan yang telah diterapkan ke dalam Alquran.

Bangsa Arab yang pada waktu itu telah memeluk agama Yahudi dan yang memeluk agama Kristen pun tidak mau mengikuti ajaran baru dari Muhammad untuk menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad itu.

Oleh sebab itulah Muhammad mengeluarkan ketentuan bagi pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Kristen bahwa mereka termasuk orang-orang Musyrik yang tidak boleh masuk ke Masjidil Haram di mana Ka’bah berada di dalamnya.

Larangan ini tertuang dalam Alquran sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang Musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (QS 9:2

Segala usaha telah dilakukan agar pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Kristen tidak bisa memasuki tempat-tempat di mana upacara ibadah haji dilakukan, yaitu Mekkah dan sekitarnya agar praktek penyembahan berhala di Ka’bah tidak diketahui oleh orang luar.

Bahkan jika kita berkendaraan mobil menuju ke kota Mekkah, maka sebelum kita memasuki kota tersebut, akan kita lihat adanya tanda penunjuk jalan yang besar di persimpangan jalan yang membagi jalan menjadi dua jurusan yaitu satu arah untuk orang-orang Muslim yang dapat langsung memasuki kota Mekkah dan satu arah lagi bagi orang-orang yang bukan Muslim yang tidak diperkenankan masuk ke kota Mekkah dan harus kembali lagi atau pergi ke arah lain.

Larangan kepada orang-orang yang bukan Muslim ini sebenarnya ditujukan kepada orang-orang Arab atau bangsa lainnya yang beragama Yahudi atau yang beragama Kristen. Dengan demikian penganut agama Yahudi maupun penganut agama Kristen yang tentunya mempunyai pemikiran yang sama dengan pemikiran Umar bin Khattab sebagaimana yang disebut dalam Hadits Shahih Bukhari no. 830 dan Hadits Shahih Muslim no. 1222 tidak akan bisa melihat apa yang terjadi dalam upacara ibadah haji ini, sehingga orang luar tidak akan melihat adanya pertentangan antara ajaran Taurat dan Injil yang menyembah Allah yang benar di satu pihak, dan penyembahan berhala batu hitam Hajar Aswad di lain pihak, yang kedua-duanya tercakup dalam agama bangsa Arab tersebut.

Kesimpulan

Seandainya Muhammad pada waktu merubah agama bangsa Arab dari agama politheisme menjadi agama monotheisme dengan cara menyingkirkan seluruh patung berhala yang berada di Ka’bah yang jumlah 360 buah itu tanpa meninggalkan satu patung berhala pun, maka kekeliruan penyembahan kepada Allah pasti tidak akan terjadi.

Kalau memang demikian halnya maka bangsa Arab pasti akan menyembah Allah yang benar sebagaimana yang digambarkan dalam Taurat dan Injil yang dituangkan ke dalam Alquran.

Tetapi untuk rukun Islam yang kedua dan keempat, yaitu sholat menghadap berhala Hajar Aswad dan upacara ibadah haji ke Mekkah sama sekali tidak ada unsur Taurat dan Injil di dalamnya.

Agama bangsa Arab ini adalah satu-satunya agama di dunia yang walaupun bersifat monotheisme dan mengkaitkan Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen ke dalam Alquran, tetapi tetap menyembah batu hitam di Ka’bah yang bernama Hajar Aswad. Sedangkan agama Hindu dan agama Budha adalah agama yang murni menyembah dewa-dewa dalam bentuk berhala-berhala tanpa melibatkan Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen.

Dalam teorinya, agama bangsa Arab ini menyembah Allah yang benar sesuai Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen yang telah dituangkan ke dalam Alquran, tetapi dalam prakteknya, karena adanya rukun Islam yang kedua dan kelima, maka ternyata yang disembah dan dicium adalah batu hitam Hajar Aswad yang berada di sudut Ka’bah, dan setiap pengikut agama bangsa Arab yang akan melakukan sholat, di manapun mereka berada, harus sujud menyembah ke arah Ka’bah tersebut.

Seyogianya, kekeliruan ini janganlah ditutup-tutupi, karena dengan ditutupnya atau disembunyikannya kekeliruan menyembah Allah tersebut, berarti ikut membantu pengikut agama bangsa Arab ini berjalan ke arah yang keliru. Memang di dalam Alquran surat Al-Araaf (QS 7) ayat 186 dikatakan bahwa “barangsiapa disesatkan Allah maka tidak ada baginya orang yang memberi petunjuk, dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatannya”. Karena kita hidup di negara yang berasaskan Pancasila, maka jika diketahui ada orang berjalan ke arah yang keliru tanpa disadarinya dan sama sekali di luar pengetahuannya, maka wajib menasehati dan menuntun orang itu agar berjalan ke arah yang benar.

Pada kenyataannya, sebagian besar pengikut agama bangsa Arab tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa yang disembah dan dipuja bukanlah Allah yang digambarkan sebagaimana yang tertulis dalam Taurat dan Injil, melainkan pada hakikatnya yang mereka sembah adalah Batu Hitam Hajar Aswad.

Penyembahan pada batu Hajar Aswad baru disadari pada waktu pengikut agama bangsa Arab ini melakukan rukun Islam yang kelima, yaitu pergi ke Ka’bah di Mekkah di mana harus menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut.

Pada saat mencium bahu hitam Hajar Aswad ini barulah orang tersadar bahwa yang dilakukan tidak lain adalah pekerjaan syirik, yaitu mempersekutukan Allah dengan batu hitam tersebut.

Bagi pengikut agama bangsa Arab yang belum melakukan rukun Islam yang kelima, yaitu melakukan upacara ibadah haji mungkin tidak akan mengetahui tentang praktek perbuatan syirik tersebut.

Berikut ini diambil dari
http://www.dzikir.org/b_haji05.htm
Tawaf Qudum

Disebut juga Tawaf Dukhul, yaitu tawaf pembukaan atau tawaf selamat datang yang dilakukuan pada waktu jama’ah baru tiba di Mekah.

Nabi Muhammad SAW setiap kali masuk Masjidil Haram lebih dulu melakukan tawaf sebagai ganti shalat Tahiyyatul Masjid. Maka tawaf inipun disebut juga Tawaf Masjidil Haram.

Hukum untuk tawaf Qudum adalah Sunat. maka jika tidak melaksanakan tawaf Qudum tidak membatalkan Ibadah haji ataupun Umrah. Bagi wanita yang sedang haid atau Nifas dilarang melakukan Tawaf Qudum. Bagi wanita yang melaksanakannya tidak perlu lari-lari kecil cukup berjalan biasa.

Tawaf Qudum ini boleh tidak disambung dengan Sa’i, tetapi bila disambung maka Sa’inya sudah termasuk Sa’i haji. Oleh karena itu waktu Tawaf Ifadah jama’ah tidak perlu lagi melakukan Sa’i. Disunatkan menyelendangkan pakaian atas Ihram di bawah ketiak lengan kanan dan ujungnya diatas pundak kiri. kalau mungkin sempatkanlah mengusap dan mengecup Hajar Aswad atau cukup dengan memberi isyarat dari jauh sambil membaca :

“Allahumma Imaanan Bika Wa Tashdieqan Bikitaabika Wa Wafaaan Bi’ahdika Wattibaa’an Lisunnati nabiyika Sayydinaa Muhammadin Shallalahu Alaihi Wasallam.”

Artinya :

“Ya Allah ku ! aku beriman kepada Mu dan membenarkan kitab Mu, dan memenuhi janji Mu serta mengikuti sunnah nabi Mu, yaitu penghulu kami Muhammad SAW”

ditengah-tengah melakukan tawaf itu jama’ah haji diperkenankan membaca do’a :

“Subhaanallah Wal hamdulillah Walaailaaha Illallah, Wallaahu Akbar Walaa Haula Walaa Quwwata Illaabillah. Allahumma Innie Aamantu Bikitaabikalladzi Anzalta Wa Nabiyya Kalladzi Arsalta Faqhfir lie Maaqaddamtu Wama Akh khartu.”

Artinya :

“Maha suci Allah, Segala puji bagi Allah tidak ada Allah yang patut disembah kecuali Allah, Allah Maha besar, Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Ya Allahku ! Sesungguhnya aku beriman kepada kitab Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi Mu yang telah Engkau utus, Oleh karena itu ampunilah dosa – dosaku yang telah lalu dan yang akan datang.”

Dan ketika sudah sampai di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad supaya membaca :

“Rabbanaa Aatinaa Fiddunyaa Hasanah Wafil Aakhirati Hasanah Waqinaa ‘Azaabannar wa Adkhilnaa Ijannata Ma’al Abrar.”

Artinya :

“Ya Tuhan kami ! berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan lindungilah kami dari siksaan api neraka, dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang baik.”

Nah dari uraian diatas, apakah tidak disadari ada yang aneh dengan Allah yang disembah umat Islam? Kalau bukannya Allah yang sesat?? Salam.

Komentar oleh doel

@Doel

Saudara, saya tak sempat membaca keseluruhan teks saudara, apapun saya akan pecahkan kebuntuan saudara dalam banyak hal berkenaan ISLAM.

Saya baca sekilas lalu, dan saya yakin mampu mematahkan semua hujah saudara berkenaan ISLAM.

Berilah saya sedikit masa, kerana saya perlu membuat rujukan sahih (yang benar) dalam menerangkan Al-Quran.

Salam

Komentar oleh Death Magnetic

@Doel

Oh baru saya faham, ini pula cara umat Kristian dalam menyesatkan pengertian Al-Quran dan umat Islam.

Namun sungguh mengecewakan kerana maksud saudara itu menunjukkan saudara tidak cukup matang dalam membuat penilaian.

Apa pun thanks, dan nantikan tindakbalas saya.

Salam.

Komentar oleh Death Magnetic

@Death Magnetic

Saudaraku… dalam hal perbandingan pengkritikan atas kitab oleh para ahli, seperti yang telah banyak dilakukan terhadap Alkitab, membuktikan bahwa alkitab tahan uji, bagaimana dengan alquran?

berikut ini saya copy paste dari forum sebelah…
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=13581

Alkitab mampu tetapi Al Qur’an Tidak Mampu Tahan Uji: Laporan Republika Online

“Salah satu dasar keyakinan Kristen terhadap keaslian semua teks Alkitab adalah kemampuannya tahan uji selama 2000 tahun terhadap semua lawannya. Sebaliknya, Al Qur’an dipastikan akan hancur kalau diuji dengan kriteria yang sama. Ternyata Alkitab adalah Firman Allah yang diturunkan – pasti, diuji dan lulus. Sama nyata adalah fakta bahwa Al Qur’an hanya karangan seorang untuk suku bangsanya sendiri yang tidak mampu tahan uji kalau keasliannya dites.” IW

Pengaruh Metodologi Bibel Terhadap Studi Alquran
Laporan : Adnin Armas, Republika 29 November 2004

Para Orientalis seperti Ignaz Goldziher (m. 1921), mantan mahasiwa al-Azhar, Mesir, Theodor Nildeke (m. 1930), Friedrich Schwally (m. 1919), Edward Sell (m. 1932), Gotthelf Bergstresser (m.1933), Leone Caentani (m. 1935), Alphonse Mingana (m. 1937), Otto Pretzl (m. 1941), Arthur Jeffery (m. 1959), John Wansbrough (m. 2002) dan muridnya Prof Andrew Rippin, serta Christoph Luxenberg (nama samaran), dan masih banyak lagi yang lain, membawa pandangan hidup mereka (world view) ketika mengkaji Islam.

Mereka mengadopsi metodologi Bibel ketika mengkaji al-Quran. Pendeta Edward Sell, misalnya, menyerukan sekaligus mendesak agar kajian terhadap historisitas al-Quran dilakukan. Menurutnya, kajian kritis-historis al-Quran tersebut perlu menggunakan metodologi analisa bibel (biblical criticism). Untuk merealisasikan gagasannya, ia menggunakan metodologi higher criticism dalam bukunya Historical Development of the Quran, yang diterbitkan pada tahun 1909 di Madras, India.

Senada dengan Pendeta Edward Sell, Pendeta Alphonse Mingana di awal-awal artikelnya menyatakan bahwa: “Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.” (Alphonse Mingana, Syriac Influence on the Style of the Kur’an”, Manchester Bulletin 11: 1927). Nildeke, Schwally, Bergstresser, dan Pretzl bekerja sama menulis buku Geschichte des Qorans (Sejarah al-Quran). Buku yang menggunakan metodologi Bibel ini, mereka tulis selama 68 tahun sejak edisi pertama dan selama 40 tahun sejak diusulkannya edisi kedua. Hasilnya, sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis khususnya dalam sejarah kritis penyusunan al-Quran.

Seirama dengan yang lain, Arthur Jeffery mengatakan: “Kita membutuhkan tafsir kritis yang mencontoh karya yang telah dilakukan oleh orientalis modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir al-Quran.” (Arthur Jeffery, Progress in the Study of the Quran Text, The Moslem World 25: 1935). Jeffery selanjutnya menumpukan hasratnya untuk membuat tafsir-kritis al-Quran. Salah satu caranya dengan membuat kamus al-Quran.

Menurutnya, karya-karya tafsir selama ini tidak banyak memuat mengenai kosa kata teknis di dalam al-Quran. Menurutnya lagi, para mufasir dari kalangan Muslim, masih lebih banyak yang tertarik untuk menafsirkan masih dalam ruang lingkup hukum dan teologi dibanding untuk menemukan makna asal (original meaning) dari ayat-ayat al-Quran. Merealisasikan impiannya, pada tahun 1925-1926, ia mengkaji dengan serius kosa-kata asing di dalam al-Quran. Hasilnya, ia menulis buku The Foreign Vocabulary of the Quran (Pengaruh Kosa-Kata Asing di dalam al-Quran), Baroda: Oriental Institute, 1938). Ia berharap kajian tersebut bisa dijadikan kamus al-Quran, sebagaimana kamus Milligan-Moulton, sebuah kamus untuk Perjanjian Baru.

Tidak berhenti dengan kajian filologis (philological study), Jeffery juga mengadopsi analisa teks (textual criticism) untuk mengkaji segala aspek yang berkaitan dengan teks al-Quran. Tujuannya untuk menetapkan akurasi teks al-Quran. Analisa teks melibatkan dua proses, yaitu revisi (recension) dan amandemen (emendation). Merevisi adalah memilih, setelah memeriksa segala material yang tersedia dari bukti yang paling dapat dipercaya, yang menjadi dasar kepada sebuah teks. Amandemen adalah menghapuskan kesalahan-kesalahan yang ditemukan sekalipun di dalam manuskrip-manuskrip yang terbaik.

Menurut Jeffery, sejarah teks (textual history) al-Quran sangat problematis karena tidak ada satupun dari ortografi naskah asli dulu yang masih ada.

Tidak ada naskah al-Quran yang ada saat ini, yang tidak berubah.
Sekalipun perubahan naskah itu alasannya demi kebaikan, namun tetap saja, menurut Jeffery, wajah teks asli sudah berubah.

Manuskrip-manuskrip awal al-Quran, misalnya, tidak memiliki titik dan baris dan ditulis dengan khat Kufi yang sangat berbeda dengan tulisan yang saat ini digunakan.

Jadi, menurut Jeffery, modernisasi tulisan dan ortografi, yang melengkapi teks dengan tanda titik dan baris, sekalipun memiliki tujuan yang baik, namun telah merusak teks asli. Teks yang diterima (textus receptus) saat ini, bukan fax dari al-Quran yang pertama kali.

Namun, ia adalah teks yang merupakan hasil dari berbagai proses perubahan ketika periwayatannya berlangsung dari generasi ke generasi di dalam komunitas masyarakat. (Arthur Jeffery, The Quran as Scripture, New York: R. F. Moore: 1952).

Dalam pandangan Jeffery, tindakan masyarakat (the action of community) yang menyebabkan sebuah kitab itu dianggap suci. Fenomena ini, menurutnya, terjadi di dalam komunitas lintas agama. Komunitas Kristen, misalnya, memilih 4 dari sekian banyak Gospel, mengumpulkan sebuah korpus yang terdiri dari 21 Surat (Epistles), dan menggabungkan dengan Perbuatan-Perbuatan (Acts) dan Apokalipse, yang semua itu membentuk Perjanjian Baru (New Testament).

Ini sama halnya, menurut Jeffery, dengan

• penduduk Kufah yang menganggap mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud sebagai al-Quran edisi mereka (their recension of the Quran),
• penduduk Basra dengan mushaf Abu Musa,
• penduduk Damaskus dengan mushaf Miqdad ibn al-Aswad, dan
• penduduk Syiria dengan mushaf Ubay.

Bagaimanapun, mushaf-mushaf tersebut lagi-lagi paralel sekali dengan sikap masing-masing pusat-pusat gereja terdahulu yang masing-masing menetapkan sendiri beragam variasi teks di dalam Perjanjian Baru. Teks Perjanjian Baru memiliki berbagai versi seperti teks Alexandria (Alexandrian text), teks Netral (Neutral text), teks Barat (Western text), dan teks Kaisarea (Caesarean text). Masing-masing teks tersebut memiliki varian bacaan tersendiri.

Jeffery berpendapat mushaf-mushaf tersebut merupakan bagian dari mushaf-mushaf tandingan (rival codices) terhadap mushaf Usmani. Ia kemudian berkolaborasi dengan Bergstresser, guru Joseph Schacht merancang untuk membuat al-Quran edisi kritis (a critical edition of the Quran).

Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid

Dalam perkembangannya, metodologi tersebut juga sudah diterapkan oleh sebagian pemikir Muslim. Mohammed Arkoun, misalnya, sangat menyayangkan jika sarjana Muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen. Ia mengatakan: “Sayang sekali bahwa kritik-kritik filsafat tentang teks-teks suci — yang telah digunakan kepada Bibel Ibrani dan Perjanjian Baru, sekalipun tanpa menghasilkan konsekuensi negatif untuk ide wahyu –terus ditolak oleh pendapat kesarjanaan Muslim.” (Mohammed Arkoun, Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers).

Ia juga menegaskan bahwa studi al-Quran sangat ketinggalan dibanding dengan studi Bibel (Quranic studies lag considerably behind biblical studies to which they must be compared). (Mohammed Arkoun, The Unthought in Contemporary Islamic Thought, London: Saqi Books, 2002). Menurut Arkoun, metodologi John Wansbrough, memang sesuai dengan apa yang selama ini ingin ia kembangkan. Dalam pandangan Arkoun, intervensi ilmiah Wansborugh cocok dengan framework yang ia usulkan. Framework tersebut memberikan prioritas kepada metode-metode analisa sastra yang, seperti bacaan antropologis-historis, menggiring kepada pertanyaan-pertanyaan dan sebuah refleksi yang bagi kaum fundamentalis saat ini tidak terbayangkan. (Mohammed Arkoun, Contemporay Critical Practices and the Quran, di dalam Encyclopaedia of the Quran, Editor Jane Dammen McAuliffe, Leiden: Brill, 2001).

Padahal John Wansbrough, yang menerapkan analisa Bibel, yaitu form criticism dan redaction criticism kepada al-Quran, menyimpulkan bahwa teks al-Quran yang tetap ada baru ada setelah 200 tahun wafatnya Rasulullah SAW. Menurut John Wansbrough lagi, riwayat-riwayat mengenai al-Quran versi Usman adalah sebuah fiksi yang datang kemudian, direkayasa oleh komunitas Muslim supaya asal-muasal al-Quran dapat dilacak ke Hijaz (Issa J Boullata, Book Reviews: Qur’anic Studies: Sources and Methods of Scriptural Interpretation, The Muslim World 67: 1977).

Menurut Arkoun, kaum Muslimin menolak pendekatan kritis-historis al-Quran karena nuansa politis dan psikologis. Politis karena mekanisme demokratis masih belum berlaku, dan psikologis karena kegagalan pandangan muktazilah mengenai ke-makhluk-an al-Quran. Padahal, menurut Arkoun, mushaf Usmani tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang kemudian dijadikan ”tak terpikirkan” dan makin menjadi ”tak terpikirkan” karena kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Ia mengajukan istilah untuk menyebut mushaf Usmani sebagai ”mushaf resmi tertutup (close official corpus). (Mohammed Arkoun, Rethinking Islam Today di dalam Mapping Islamic Studies, Editor Azim Nanji).

Dalam pandangan Mohammed Arkoun, apa yang dilakukannya sama dengan apa yang diusahakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir. Arkoun menyayangkan sikap para ulama Mesir yang menghakimi Nasr Hamid. Padahal metodologi Nasr Hamid memang sangat layak untuk diaplikasikan kepada al-Quran.

Nasr Hamid berpendapat bahwa al-Quran sebagai sebuah teks dapat dikaji dan ditafsirkan bukan hanya oleh kaum Muslim, tapi juga oleh Kristen maupun ateis.

Al-Quran adalah teks linguistik-historis-manusiawi. Ia adalah hasil budaya Arab.

Adopsi sarjana Muslim terhadap metodologi Bible terhadap al-Quran sangat disayangkan. Jika adopsi ini diamini, maka hasilnya fatal sekali. Otentisitas al-Quran sebagai kalam Allah akan tergugat. Twisted Evil Twisted Evil

Al-Quran akan diperlakukan sama dengan teks-teks yang lain.

Ia akan menjadi teks historis, padahal sebenarnya ia adalah Tanzil. Ia jelas berbeda dengan sejarah Bible. Sumbernya juga berbeda. Setting sosial dan budaya juga berbeda. Bahkan bahasa asli Bibel sudah tidak banyak lagi digunakan oleh penganut Kristen. Sangat berbeda dengan kaum Muslimin, yang dari dulu telah, sekarang masih, dan akan datang terus membaca dan menghapal al-Quran dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu, mengadopsi metodologi Bibel terhadap al-Quran adalah adopsi dan metodologi yang salah kaprah.

Kandidat Doktor di ISTAC-IIUM, Kuala Lumpur

Source: Republika Online

Komentar oleh doel

@Doel

SWalam sejahtera saudara, sebenarnya apa yang saudara kemukakan dengan begitu panjang, tidak menarik minat saya untuk diperjelaskan, cuma saya amat suka untuk menerangkan di sini, saudara terlalu banyak bermain dengan emosi.

Jujur saya katakan saya boleh patahkan hujah saudara berdasarkan Bible milik Paulus berkenaan ISLAM.
————————————————–

Saudara berpanjang lebar dalam hal diatas, boleh saudara kemukakan bagaimana Bible dijaga keasliannya?

Cuma ini, insyaAllah saya akan patahkan lagi hujah saudara berkenaan penjagaan isi kandungan Bible. JIka saudara kurang percaya, cubalah kemukakan hujah saudara. Dengan semanis kata saya akan kemukakan bagaimana penjagaan wahyu Al-Quran tanpa cacat cela walaupun untuk 0.000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000001%.

————————————————–

Saya sedikit bersedih hati berkenaan pemahaman saudara berkenaan Al-Quran. Saya bukan bersedih kerana Al-Quran dicerca tapi saya bersedih hati kerana saudara masih tak nampak kemuliaan isi Al-Quran.

————————————————–

Saudara marilah masuk ke hikmatun.wordpress.com Disana saudara Hikmatun dapat tolong saudara untuk memecah kejahilan saudara. InsyaAllah

Salam

Komentar oleh Death Magnetic

Salaam semua. Imankristen berkata :

Dalam keadaan sebagai seorang “skeptis sementara” itu, anda akan menjumpai sejumlah hal yang kontradiktif dan tak masuk akal dalam Quran. Sebagai contoh saja, dalam satu ayat dikatakan bahwa Tuhan tak menyerupai apapun, Laisa kamitslihi syai’un (42:11), tetapi dalam banyak ayat yang lain Tuhan digambarkan memiliki tangan, wajah, bahkan dalam hadis digambarkan pula memiliki jari-jari (ashabi’ al-rahman).

Ulasan –> OK saya tanya saudara semula, ada kah AlQuran memberitahu tangan ALlah itu seperti tangan manusia?? Atau seperti tangan haiwan? ATau seperti tangan apa sahaja?? hehe

AlQuran hanya menyebut tangan ALlah, tetapi tidak menyebut SEPERTI apa, itu yang saudara perlu faham. Bermakna TANGAN ALLAH itu adalah sama sekali tidak sama dengan suatu apa pun makhlukNya, senang sahaja untuk faham tu :)

KErana itu menurut tafsiran ulamak2 tafsir yang MUKTABAR, tangan ALlag itu secara analoginya adalah KEKUASAAN ALLAH.

ALQuran tidak memberitahu tangan ALlah itu ada 5 jari ke, ada banyak jari ke, seperti tangan manusia ke. Kerana itu sangkaan saudara itu hanya FATAMORGANA semata2 kerana ALQURAN adalah sebuah kitab yang SEMPURNA dari Tuhan sekelian alam. Wallahu a’lam :)

Ini baru satu contoh kecil yang saya ingin menjawab. InsyaALlah dari semasa ke semasa saya akan cuba menjawab segala TUDUHAN anda terhadap Islam yang SUCI ini :)

Komentar oleh Hikmatun

Bisa kasih lihat di wikipedia arti tangan?

Bisa kasih link-nya?

Sebagai contoh saja, dalam satu ayat dikatakan bahwa Tuhan tak menyerupai apapun, Laisa kamitslihi syai’un (42:11)

Anda mengerti arti tidak menyerupai apapun juga?
Apakah Allah boleh saya persamakan dengan sesuatu? Benda misalnya?

Salam.

Komentar oleh imankristen

Nampaknya bahasa Melayu pun saudara kurang faham macam mana saya nak perjelas kan?

Makna tidak menyerupai sesuatu itu , maknanya ALLAH adalah ALLAH, tidak ada satu apa pun MAKHLUK yang sama dengannya. Saya dah bercakap Bahasa melayu tu, tak tau lah kut2 saudara tak faham BAHASA MALAYSIA , hhhmmmm

Komentar oleh Hikmatun

Pemikiran CETEK manusia ni kalau mendengar atau menyebut tentang TANGAN, terus menggambarkan TANGAN itu seperti TANGAN MANUSIA. Sedangkan TANGAN belalang, kumbang, burung, labah2, ikan, harimau, kuman, pepijat, semuanya berlainan. Maka begitulah maksud dengan TANGAN ALLAH, tiada suatu apa pun yang sama dengannya.

“Dan tidak ada apa pun yang sama denganNya”

Allah adalah PENCIPTA, segala apa yang diciptanya adalah MAKHLUK. Makhluk tidak sekali2 sama dengan pencipta kerana Allah mencipta MAKHLUK tidak sama denganNya.

Komentar oleh Hikmatun

Assalaamu’alaikum w.b.t… dan salam sejahtera semua… Adalah suatu perkara yang amat perlu diteliti dan diselidiki tentang keabsahan suatu kitab yang dikatakan adalah WAHYU dari Tuhan. Maka di sini saya akan memberikan beberapa percanggahan yang berlaku dalam kitab Bible orang-orang Kristian tentang proses kejadian alam ini.

Marilah kita lihat beberapa pertentangan dan percanggahan yang tercatat dalam Bible yang mana begitu berlawanan dengan ilmu sains moden.
Hari Pertama, Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam keadaan kosong dan gelap gulita. Lalu, menjadikan terang yang memisahkan pagi dan petang. (Kejadian 1 :1-5).

Hari Kedua, Tuhan menciptakan langit (Kejadian 1:6-8).

Hari Ketiga, Tuhan menciptakan tumbuh-tumbuhan (Kejadian 1:9-13).

Hari Keempat, Tuhan menciptakan matahari dan bintang (Kejadian 1:14-19).

Hari kelima, Tuhan menciptakan bintanang laut dan burung (Kejadian 1:20-23),

Hari Keenam, Tuhan menciptakan makhluk hidup, ternak, binatang dan Adam, manusia pertama (Kejadian 1:24-31).

Hari ketujuh, Tuhan berhenti dari segala pekerjaan-Nya yang disebut sebagai Hari Sabat Tuhan (Kejadian 2:2, Keluaran 20:10-11, Ulangan 5:14).

Kisah penciptaan alam versi Bible ini, sangat bertentangan dengan sains. Ini kerana pada hari pertama, menurutnya Tuhan menciptakan bumi lengkap dengan adanya gelap dan kemudiannya terang iaitu adanya siang dan malam. Padahal, Bible menerangkan matahari baru diciptakan pada hari keempat. Bagaimana siang dan malam wujud tanpa adanya matahari?

Kemudian, diciptakan tanaman dan pepohonan pada hari ketiga. Itu sudah tidak masuk akal yang waras. Bagaimana tumbuhan dapat hidup tanpa matahari sedangkan Allah ciptakan tumbuhan perlu kepada sinar matahari untuk proses fotosintesis dan proses alam lainnya?

Para pendusta al-Qur’an tidak faham erti “kontradiksi” atau “percanggahan”, sehingga menimbulkan salah faham. Berikut adalah contoh kontradiksi yang nyata. Bible menyebut batasan umur manusia maksimanya 120 tahun sahaja.

“Berfirmanlah Tuhan : Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja,” (Kejadian 6:3).
“Maka berkatalah Tuhan, Aku tidak memperkenankan manusia hidup selama-lamanya; mereka makhluk fana, yang harus mati. Mulai sekarang umur mereka tidak akan melebihi 120 tahun,” (Kejadian 6:3, Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari).

Batasan usia dalam Bible ini ternyata salah. Faktanya, banyak orang yang usianya lebih dari 120 tahun. Antara lain, Nabi Adam hidup selama 930 tahun (Kejadian 5:3-5), Nuh berusia 950 tahun (Kejadian 9:29), Seth berumur 912 tahun (Kejadian 5:6-8), Enos hidup selama 905 tahun (Kejadian 5:9-11), Kenan berumur 910 tahun (Kejadian 5:12-14). Mahalaleel selama 895 tahun (Kejadian 5:15-17), Yared berumur 962 tahun (Kejadian 5:18-20), Henokh usianya sampai 365 tahun (Kejadian 5:21-23), Metusalah berumur 969 tahun (Kejadian 5:25-27), Sem hidup selama 600 tahun (Kejadian 11:10-11), dan lainnya.

Silakan jawab wahai ImanKristen

Komentar oleh Hikmatun

@ hikmatun…,

Silahkan jawab pertanyaan doel…

Mengenai Kristen, itu mudah sekali, silahkan bertanya ulang di http://imankristen.wordpress.com/

Blog ini khusus pelajaran islam.

Salam.

Pesan: Ditunggu jawaban anda terhadap pertanyaan doel, jangan kabur… ya….

Komentar oleh imankristen

@hikmatun.

Kamu berkata:

Ulasan –> OK saya tanya saudara semula, ada kah AlQuran memberitahu tangan ALlah itu seperti tangan manusia?? Atau seperti tangan haiwan? ATau seperti tangan apa sahaja?? hehe

Saudara Hikmatun.
Quran memberi tahu atau tidak memberitahu berkenaan tangan apa, itu adalah tidak penting.

Tangan tetaplah tangan.
Tangan hewan berarti tangan (benda)
tangan manusia = tangan (benda/material)
Tangan sahaja ? sama juga artinya (benda )

Allah tak menyerupai apapun, Laisa kamitslihi syai’un (42:11), berarti dia tidak memiliki tangan .

Kalau allah digambarkan memiliki tangan, jari, wajah, itu sama saja BUKAN allah yang tidak menyerupai apapun..

Silahkan renungkan arti kata APAPUN..

Komentar oleh jelasnggak

@hikmatun.

allah muslim tidak menyerupai suatu apapun.

kalau tidak menyerupai suatu apapun, maka haruslah dia TIDAK memiliki tangan.

Karena tangan adalah benda/material.

Sesuatu yang memiliki tangan(benda), maknanya, dia berupa something (benda)

Mengerti?

Komentar oleh jelasnggak

Oke, tanya tentang kristen dijawab dengan bible. saya malah mau tanya tentang ayat-ayat berikut dalam bible. ada yg bisa jawab gak ya…

KITAB KEJADIAN: Tuhan capek dan beristirahat (lebih jelas, lihat Kitab Keluaran 31:16-17).

2:2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-nya itu.
2:3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.
  
(Sekalian aja berdemo karena pekerjaannya berat dan gak digaji selama berabad-abad)

KITAB KEJADIAN: Tuhan menggauli Sara. 

21:1. TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. 
21:2 Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.  

(yesus punya saudara tiri?)

KITAB YESAYA: Tuhan bercukur. 

7:20 Pada hari itu dengan pisau cukur yang dipinjam dari seberang sungai Efrat, yakni raja Asyur, Tuhan akan mencukur kepala dan bulu paha, bahkan pisau itu akan melenyapkan janggut juga.  

(bisa gak kita pinjami pisau cukur lagi?) 

KITAB HOSEA: Tuhan menyuruh melacur.

3:1. Berfirmanlah Tuhan kepadaku: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti Tuhan juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis.”  

(benarkah tuhan berkata demikian?)

ini saya bertanya lho….mohon dijawab dan posting ini jangan dihapus hehehe….

Komentar oleh dahnash

Harap tanya kristen ke blog http://imankristen.wordpress.com/, pertanyaan mudah anda disana sudah saya jawab dalam 5 menit-an. Pertanyaan mudah lainnya, harap tanya ke sana.

Apa anda seperti Muhammad? sulit baca dan tulis? Ini blog khusus belajar muslim. Kalaupun ada mengenai kristen, itu hanya “semacam” memperbandingkan, tapi tidak bertanya secara panjang lebar mengenai kristen.

He he he…
Hikmatun dan muslim lainnya, GAGAL untuk menjawab pertanyaan Kristen dari DOEL maupun Jelasenggak…, apa anda mampu?

Hi hi hi…, sepertinya anda tidak punya kemampuan mengenai islam dibandingkan rekan kristen doel dan jelasenggak…, apa betul pandangan saya ini?

Kalau tidak betul, harap JAWAB pertanyaan mereka…

Hi hi hi…, saya rasa…, anda tidak mampu ya… (maaf)…

Salam.

Komentar oleh imankristen

@Hikmatun

Diharap saudara tenang saja dengan pernyataan atau persoalan JelasNgak ni, dia memang ada sejenis penyakit Kronik yang tak terawat. Setelah setahun inilah satu-satunya penyakit yang mungkin sains belum menjumpai ubat untuk merawatnya.

Apapun, buat ImanKristen, saudara sebenarnya ntah apa-apa soalan saudara, kami dah tengok bertaraf antarabangsa, Dr.Zakir naik mencabar seluruh dunia!

Pada masa ini Syeikh Yusuf Estes (Bekas Kristian Protesten) datang Malaysia

Hehe saya lebih percaya beliau dari saudara sekalian

Komentar oleh Death Magnetic

@Penghibur..

Cam mana kau ini pakcik…

tak mampu jawab soalan, kenape berkata jelasnggak sakit kronik…?

tak de hubungan tu….bad connection tu..

cam betul..

Komentar oleh jelasnggak

ckk…ckk lumayan hebat juga nih yah para missionaris !! lu semua yang nulis kayak begini punya daya juang tinggi buat belajar islam, tapi sorry bro kayaknya apa yang lu tulis sama aja mendiskreditkan sesuatu dan mengagungkan apa yang lu yakini..
tapi gw yakin lu bakal bisa jawab pertanyaan gw, karena emang itulah kerjaan lu semua,,secara kasat mata mau “memurtadkan” orang islam..
apa yang lu pelajari tentang islam bukan untuk mencari kebenaran tapi hanya untuk mencari kelemahan – kelemahan doank,,mamet ye statement lu udah buat gw pusing,,TAPI
GAK SEDIKIT PUN GW BERGEMING ATAS KEYAKINAN GW!!

Komentar oleh madara08

Lihat ya apakah Islam kalo diskusi/debat PUNYA KONSISTEN, ADA KREDIBILITAS dan DUBLE-STANDARD nggak?

K: Kristen
I: Islam

I: Al-Kitab ditulis manusia.
K: Lho, Al-Quran juga ditulis manusia.
I: Tapi Al-Quran Firman Allah.

lagi,

I: Dr Erdman, sarjana Kristen bilang Al-Kitab eggak asli lagi.
K: Lho, dia juga bilang Quran egak asli juga.
I: Tapi Quran Firman Allah yang kekal.

lagi.

I: Al-Quran dari Allah.
K: Al-Kitab juga dari Allah.
I: Ah, Al-Kitab udah berubah.

lagi,

I: Yesus berdakwah di Palestin, maka Yesus utk Bani Isreal.
K: Muhammad berdakwah di Tanah Arab, maka Muhammad untuk org Arab.
I: Tidak, Muhammad berdakwah untuk semua bangsa.

lagi,

I: Kami percaya Allah adalah SATU.
K: Kami juga percaya Allah adalah SATU.
I: Tidak, kamu percaya Allah adalah Tiga.

lagi,

I: Manakah bisa Allah punya Anak tanpa punya isteri?
K: Sungguh, Allah bisa punya Anak tanpa punya isteri.
I: Kalo gitu, Allah kamu memperanakkan dan diperanakkan.
K: Tanpa beranak dan diperanakkan, Allah bisa punya Anak.
I: Sdr KAFIR!

lagi,

I: Yesus tidak mati di kayu salib.
K: Sungguh, bukti sejarah Yesus mati di kayu salib.
I: Bukti Allah lebih benar!

lagi,

I: Injil-injil ada pencanggahan.
K: Saya bisa buktikan Quran ada pencanggahan.
I: Kalo ada itu bukan pencanggahan. Allah Maha Tahu itu bukan pencanggahan.

mahu lagi……..Kristian harus dibuat2 salah apa cara sekalipun supaya Islam bisa benar. Nggak perlu bukti2 sejarah, nggak perlu nalar, nggak perlu konteks dan ilmu tafsiran, eggak perlu kredibilitas & konsisten, eggak2 semua eggak perlu ini kalo mahu menyalahkan, menjelek2, menjadi jagoan agama, sok benar, mencari kelehamah…..

Komentar oleh CosmisBoy

@ Hikmatun

A. Double-standard
1. Sdri bilang bukan tangan manusia tapi tangan Allah.
2. Sdri juga bilang, tangan Allah adalah tangan manusia tapi kiasan sahaja.

B. Tidak Konsisten
Islam: Dlm Al-Kitab, Allah dikatakan punya tangan.
Kristen: Hmm..dalam Quran Allah juga dikatakan punya tangan.
Islam: Itu cuma kiasan
Kristen: Kami juga kiasan
Islam: Tidak, kamu telah menjadikan Allah, makhluk.

C. Tiada kredibilitas
Islam: Dlm Al-Kitab, Allah seperti makhluk, ada tangan. Mana bisa! Maha Suci Allah.
Kristen: Tangan lambang kuasa Allah, bukankah itu yang kamu katakan mengenai tangan Allah?
Islam: Itu untuk Allah saya bukan untuk Allah kamu! Allah saya ada tangan kerana lambang kuasa; Allah kamu ada tangan kerana menyerupai makhluk.

Inilah argumentasi Islam: dangkal, tiada otak, cetek, tidak ilmiah, emosi, sok benar dan mahu jadi jagoan agama

Komentar oleh CosmisBoy

@ Mathematicen

Iman Kristen bilang ke google, ayuh ke google saja. Iman Kristen udah males jawap yg pertanyaan2 selayaknya dijawap anak2 kecil. Masakan Injil itu apa sdr eggak tahu?

Ayuh, ajukan pertanyaan2 yg ilmiah dong? Malu dong, lue tahu eggak, jutaan org layari situs ini, nanti dibilangnya sdr manusia dangkal!

Komentar oleh CosmisBoy

Salaaam. Tangan adalah bahasa ciptaan Manusia. JIka begitu ALlah boleh berkata2 , maka adakah Allah itu MAKHLUK?? Fikir lah dalam2 wahai insan

Maka Kata2 Allah itu tidak sama dengan kata2 makhluk. Sama lah TANGAN Allah itu tidak sama dengan tangan makhluk. Perkara mudah begini pun masih kamu tidak faham2 :)

Komentar oleh Hikmatun

Saya mahu mengajak saudara2 semua berfikir. Tiada satu kitab pun dalam dunia ini selain Islam yang kandungannya boleh di HAFAL oleh budak berumur 6 tahun atau 8 tahun.

Sedangkan kitab AlQuran telah banyak dihafal oleh budak berusia 6 tahun atau 8 tahun dan sewaktu dengannya. itu lah MUKJIZAT AlQuran, tidakkah kamu semua nampak? AlQuran dapat menjadikan hati manusia TERANG, mempunyai daya HAFALAN yang tinggi, masyaAllah.

Dan mukjizat2 AlQuran adalah banyak sehingga kini, termasuklah sebagai pelindung diri, sebagai benteng dari SIHIR, sebagai penghalau JIN DAN SYAITAN dan sebagainya tak terkira. Itulah kalamullah atau kata2 dari Allah S.w.t yang amat dibenci oleh jin kafir dan syaitan2. Tidak kah kamu mengerti wahai manusia?? :)

Komentar oleh Hikmatun

Saya mahu mengajak pembaca semua agar sudi mengikuti dialog antara muslim dan kristian ini. Dialog ini berlangsung sebanyak 13 sessi. Selamat membaca dan berfikir dengan sebaik mungkin :)

Dialog antara Muslim dan Kristian 2

Komentar oleh Hikmatun

@ Hakmatun;

Sdri tulis;

Salaaam. Tangan adalah bahasa ciptaan Manusia. JIka begitu ALlah boleh berkata2 , maka adakah Allah itu MAKHLUK?? Fikir lah dalam2 wahai insan

Maka Kata2 Allah itu tidak sama dengan kata2 makhluk. Sama lah TANGAN Allah itu tidak sama dengan tangan makhluk. Perkara mudah begini pun masih kamu tidak faham2

CosmicBoy:

Sebab itulah orang Kristian boleh berkata; Allah mengambil sosok tubuh manusia; tapi Allah bukan manusia dan manusia bukan Allah.

Kerana Allah tidak berubah; maka Allah tetap Allah walaupun Dia mengambil sosok tubuh manusia bernama Isa.

Kerana Allah Maha Hadir; maka Allah tetap Maha Hadir walaupun Dia mengambil sosok tubuh manusia bernama Isa.

Kerana Allah Maha Besar; maka Allah tetap Maha Besar walaupun Dia mengambil sosok tubuh manusia bernama Isa.

Kerana Allah Maha Kuasa; maka Allah bisa melakukkan apa sahaja termasuk mengambil sosok tubuh manusia bernama Isa.

Kerana Allah tidak Terbatas; maka TIDAK ADA SESIAPAPUN yang BOLEH MEMBATASI ALLAH untuk mengambil sosok tubuh manusia bernama Isa.

Kerana Allah Maha Berdaulat; maka Dia BERDAULAT melakukan apa yang dikehendaki-Nya!

Peace.

Komentar oleh CosmisBoy

@Hikmatun….
Kemampuan anda perlu diperluas dengan membaca banyak buku. Jangan hanya membaca buku dari satu pemikiran saja…, belajarlah hingga kenegeri cina (komunis).
Kalau baca satu “aliran saja”, anda seperti “katak dalam tempurung”.
Maaf ya…, saya kecewa dengan kemampuan anda yang demikian rendah. Sekali lagi maaf.

Salam.

Komentar oleh imankristen

@CosmicBoy
Bener bgt tuh…….

Kalau saya perhatikan, dalam pembacaan Alquran ada penekanan dan nada2 dan panjang pendek, menurut saya itu tidak berbeda dengan sebuah mantra sihir. Sebuah mantra harus diucapkan dalam nada dan penekanan yang benar.

Apakah Alquran itu buku mantra sihir?

“Surat Yunus terdiri atas 109 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah kecuali ayat 40, 94, 95, yang diturunkan pada masa Nabi Muhmmad s.a.w. berada di Madinah. Surat ini dinamai surat Yunus karena dalam surat ini terutama ditampilkan kisah Nabi Yunus a.s. dan pengikut-pengikutnya yang teguh imannya.”

Kok bisa ya? Ayat 40, 94, 95, yang diturunkan pada masa Nabi Muhmmad s.a.w. berada di Madinah.
Coba pikirkan, apakah cerita Yunus belum selesai saat jamannya Muhammad? Kenapa bisa ada ayat yang nyepil di tengah2? Apalagi yg buat tuh ayat bukan orang yang ada pada jaman Yunus, melainkan jauh setelah jaman Yunus selesai.
Berarti bisa dibilang kalau Muhammad merubah isi Alquran donk…..
Pikirkan baik2 y……

Komentar oleh xtrsyz

Dahulu Kristen dan Islam berdampingan harmonis di tanah arab sana, terbukti dgn adanya Piagam Madinah yg dikeluarkan oleh Rosulullah, serta perlindungan oleh Raja Kristian Abessiniyah thd rombongan Rosulullah yg kala itu terancam oleh serbuan kaum Quraisyi kofirun.

Komentar oleh Andalusia

cuma mau sedikit menambahkan aja dari kata penulis

tertarik dengan kata al quran meniru al kitab, heheheh

kalo ada ksamaan antara quran, injil ,n taurat itu karna brasal dari 1 Tuhan
msalahnya injil dan taurat itu sudah dipengaruhi oleh banyak tangan2 jahil yg merubah ayat semaunya

akibatnya banyak kontradiksi didalamya,
ambil satu sudut saja, cukup dengan pendekatan ilmu pengetahuan…
misalnya jumlah hitungan yg salah (masak tuhan penjumlahan matematika ga bisa, kalah sama anak sd)
anak yg lebih tua dari ayah (yg benar saja, emang logis)
matahari tercipta sebelum bumi (jelas ga ilmiah, matahari itu sumbr khdupan bumi (tumbuhan sbgai produsen tingkat awal) dll msh bnyak lagi

klo dikatakan al quran meyalin semuanya?
kok yg disalin yg benar2 saja yah…?
yg salah kok ga ada yah…?

misalnya di alquran tdak ada hitungan yg salah,
anak sllu lbh muda dari ayah,
teori pncptaan, sngat msuk akal dlm pndkatan ilmiah,
ada lagi ada tu dlm alkitab mggunakan kata-kata porno…
dalam al quran kok ga ada yah?
masak tuhan orang kristen jorok?
dp jg tahu di quran tidak ada kata2 kata kasar?
di injil palsu kok banyak yah?

sekarang silahkan bandingkan…

biar hati ini yang bicara, hahahaha

Komentar oleh hkhkh

Berikut pernyataan-pernyataan penting dan mendasar didalam kitab suci ;

Al Quran memuat pernyataan bahwa kitab tersebut berasal dari Allah swt,

QS 39: 1. Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha memiliki ‘Izzah’ lagi Maha Bijaksana. 2. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya.

Pertanyaan :
Apakah “Bible” memiliki pernyataan bahwa keseluruhan Bible berasal dari Tuhan ?

Al Quran menyatakan bahwa bukanlah perkataan Muhammad

QS 69: 43-47 Ia (Al Quran) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.
Pertanyaan :
Adakah didalam Bible suatu peryataan dari Allah bahwa ayat-ayat tersebut bukanlah berasal dari perkataan Matius, Lukas, Markus, Paulus dan lainnya

Nama “Al Quran” disebutkan / berasal dari dalam Al Quran itu sendiri

Al Furqaan 25: 001. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,

Pertanyaan
Apakah ada suatu pernyataan bahwa Tuhan memberi nama wahyunya “Bible”

Dalam Al Quran Allah menyatakan bahwa Ia adalah Esa dan Ia memerintahkan untuk menyembahnya

QS 20:14 Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.

QS 2: 163. Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Pertanyaan :
Adakah kata-kata “Trinitas” dalam Bible dan adakah Yesus berkata “saya Tuhan”

Didalam Al Quran, Allah menyatakan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya

QS 3:144 Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. …

Pertanyaan :
Apakah didalam bible disebutkan bahwa Matius, Lukas, Markus, Paulus dan lainnya seorang utusan / rasul.

Al Quran sengaja diturunkan dengan bahasa Arab

QS 12.2 Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

QS 41:44 Dan jika Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? …..

Pertanyaan :
Adakah disebutkan bahwa “Bible” diwahyukan dalam bahasa Yunani ?
Padahal Isa as sendiri tidak bisa berbasa Yunani, “Eli Eli lama sabaktani “ menunjukan bahasa asli nya dan itu bukan bahasa Yunani, Jadi bisakah kita mengatakan ini kata-kata tsb berasal dari Isa as ?

Al Quran ditujukan untuk semua umat Manusia

QS 39:41 Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

Pertanyaan :
Adakah pernyataan bahwa bible adalah kebenaran untuk semua manusia.

Allah menyatakan bahwa Ia akan memelihara firman-Nya

15: 009. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Selam lebih 15 abad Al Quran tidak pernah di revisi

Pertanyaan:
Adakah Jaminan bahwa bible akan tetap terpelihara sama ?
Faktanya :
Sebelum 1611 Alkitab disebut “Bishop Bible”
Tahun 1611 hasil revisi disebut “Authorize Version of the Holy Bible”
Tahun 1870, hasil revisi disebut “Revised Version”
Tahun 1952, hasil revisis disebut “Revised Standard Version”

Komentar oleh DP

@ DP

Ngga usah banding2. Jangan pikir Al-Kitab harus dibuat2 salah supaya Al-Quran bisa benar.

Pokoknya, bisakah sdr hancurkan argumentasi di atas.

atau

argumentasi2 di http://mengenal-islam.t35.com/

Silakan.

Salam damai jangan nangis

Komentar oleh CosmisBoy

To : doel, Imankristen, Cosmicboy
=====> Mungkin contoh ini bisa menjawab Allah dalam konsep Islam adalah Allah yang Penipu.
Semua orang bisa saja mengatakan seperti ini, bagi muslim, yesus yg sdr yakini Tuhan adalah palsu, berarti juga orang muslim bs sj mengatakan Tuhan orang Kristen adalah penipu. (mestinya komentar seperti ini tidak boleh muncul dlm dialog, jika niat dialog tsb utk mencari kebenaran); premis sdr thd ketuhanan dlm Islam seperti diatas, jelas tidak berdasar sama sekali, terutama jika sdr coba menghubungkannya dengan ibadah2 yg dijalankan oleh umat Islam. Sebab eksistensi Tuhan dalam Islam (Allah SWT) tdk bergantung pada ibadah2 yg dilaksanakan makhluknya. Allah memerintahkan hamba2Nya untuk melaksanakan ibadah dgn suka rela, ikhlas semata2 hanya menjalankan perintah dari Tuhannya, agar :

1. Hikmah (kebaikannya) dari ibadah tsb, dapat dirasakan oleh orang itu sendiri, bukan untuk Allah SWT. Karena Allah Maha Kaya tidak membutuhkan sesuatu dari makhluknya “Hai manusia, kamulah yang sangat membutuhkan Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (Faathir, 35 :15), serta, “Dan perintahkanlah kpd keluargamu untuk mendirikan sholat, dan bersabarlah kamu dlm mengerjakannya, Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki dan akibat yg baik bagi orang yg bertaqwa” (QS. Thaahaa, 20 :132).
2. Dengan ibadah2 yg dilksnakan makhluknya, termasuk manusia, akan menjadikan mereka lebih dekat dlm mengenal dan mengingat Allah SWT, “Sesungguhnya AKU ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS Thaahaa, 20 : 14), Tuhan yang menciptakan smua alam semesta dan segala isinya, termasuk makhluk hidup yg ada di dlmnya, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu ………..” (QS. Al Baqarah 2:29) agar mereka (semua mahkluk hidup itu) dapat bersyukur dan tdk mengingkari nikmat2 yg dianugrahkanNya, “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).” (QS. Ibrahim, 14 :34), dan, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar, 108 : 1-2)

Jadi jelas disini, bahwa Allah dalam konsep Islam, bkn lah Allah yang penipu, namun Ia adalah Tuhan yg menciptakan semesta alam dan seluruh isinya, serta mencurahkan rezki dan nikmat2Nya kepada seluruh mahluknya termsuk manusia.
“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS. An Naml, 27 : 19
Untuk hal-hal yang berkenaan dengan shalat dan haji, Insya Allah, akan kami uraikan nanti unt menjwb pertanyaan Doel, Imankristen dan Cosmicboy

Komentar oleh Darmawan

To : Doel, Imankristen, cosmicboy

==> sekilas tentang shalat

Tak ada yg sia-sia dalam Islam. setiap perintah dan larangan dalam Islam pasti memberikan manfaat yg baik dalam kehdpan umatnya, termasuk shalat. Shalat mrpkan ibadah harian yg menjdkan seorang muslim selalu terikat perjanjian dh Allah. Ketika seorang muslim larut dlm kehdpan dunia, sibuk akan hal2 yg bersifat duniawi, ketika hati sedang dilanda kelalaian dlm mengingatNya ataupun sedg dilanda kesedihan, ketid senangan, stress, maka shalat datang sebagai pengingat dan penyadar bg manusia.

Shalat adalah satu media untuk berkomunikasi dengan Allah SWT, Zat yg maha agung dan maha Kuasa. Pengalaman akan kehadiran Allah dlm shalat merupakan kebahagiaan tersendiri yg tak terlukiskan dg kata2. krn dalam shalat, Allah melimpahkan rahmat dan kasih sayangNya.

jd, jelas dr uraian tsb, Sholat adalah bukan cara sembahyang agama bangsa Arab saja, namun shalat adalah salah satu ibadah umat muslim di seluruh dunia yg dilakukan setiap hr u mengingat keagungan dan kebesaranNya serta berkomunikasi dg Rabbnya (Tuhannya), shgga terlimpahlah rahmat dan kasih sayang Tuhan kepd hamba2Nya yg mengerjakan shalat

Komentar oleh darmawan

Lame

Komentar oleh jelasnggak

Saudaraku muslim, apakah berdosa bila kita biarkan saja mereka (kristen) terjebak dalam kebodohan hingga akhir zaman? Yah, kebenaran hanya milik Allah. Jadi, lakum dinukum waliyadin…
Di Dunia mereka berkubang dalam dosa mempersekutukan Allah, di Neraka memanggil Allah… Nabi Isa AS masih menangis, bersujud kepada Allah atas apa kebodohan kristen men-tuhan-kannya. Nauzubillahimindzalik!! Allahu Akbar. Aku bersaksi tiada tuhan Selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.

Komentar oleh ismed

Kok anda terganggu, emang orang Aborigin gak terganggu dengan Yohanes 14:6, Erasmus yang dibakar matang dengan Ulangan 13:1-10, atau Galileo yang diracun gara2 Yosua 10:13 ?

Komentar oleh Ahmed Shahi Kusuma

Anda nampaknya bersetuju bilamana manusia melatik Yesus menjadi Tuhan!

Komentar oleh Al Tubari

By keeping discussion in mind I will like to share a website http://zakirnaikblog.blogspot.com which is a website about great islamic scholar Zakir Naik who made a lot oif non muslims to accept islam by his speeches.

Komentar oleh Bilal Khan




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>