Ada yang luput dari perhatian kita di tengah gencarnya berita tentang terorisme akhir-akhir ini. Beberapa hari lalu (4/12), sekelompok organisasi Islam “garis keras” mengadakan pertemuan yang menurut saya cukup penting, khususnya karena mereka mendiskusikan tema yang sangat relevan, yakni tentang konsep jihad.
Dalam pertemuan yang dihadiri oleh, antara lain, MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), FPI (Front Pembela Islam), dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), para aktivis Islam itu berpandangan bahwa jihad tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang tidak manusiawi, seperti meneror dan melakukan bom bunuh diri.
Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di tanah air selama ini, menurut mereka, bukanlah jihad, dan karenanya para pelakukanya bukanlah syahid (martir) yang mendapatkan ganjaran surga. Sebaliknya, para pelaku bom bunuh diri itu adalah penjahat yang harus dikecam.
Dari sekian banyak pendapat, yang menarik perhatian saya adalah pandangan Achmad Junaidi Ath Thayyibi, salah seorang ketua HTI, yang mengatakan bahwa pelaku peledakan bom di Indonesia tak sesuai dengan hukum Islam, sebab aksi-aksi itu hanya menyengsarakan rakyat sipil. Menurut dia, dalam Islam, para pelaku teroris yang tertangkap harus dihukum potong tangan atau disalib untuk mempermalukan para pelakunya.
Pandangan semacam Ath Thayyibi itu penting, karena selama ini para tokoh Islam cenderung ragu-ragu dalam mengambil sikap terhadap terorisme dan bom bunuh diri. Bahkan sebagian di antara mereka tampak mendukung, khususnya jika obyek pengeboman adalah tempat-tempat yang dianggap musuh Islam, seperti pengeboman WTC di Amerika atau pengeboman kafe dan diskotek di Bali.
Konsep Kabur. Jihad adalah sebuah konsep Islam yang sangat kabur karena telah menjadi topik wacana berbagai kelompok Islam. Oleh kalangan moderat, jihad diartikan bukan hanya perang, tapi juga berbagai aktivitas yang mengarah kepada kebaikan. Pendidikan, pengobatan, serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya yang dapat memberikan maslahat bagi masyarakat juga bisa dianggap sebagai jihad.
Sementara itu, oleh sebagian aktivis Islam, jihad diartikan sebagai perjuangan fisik bersenjata melawan musuh-musuh Allah. Tidak jelas benar apa yang mereka maksudkan dengan “musuh-musuh Allah.” Tapi, dalam praktinya, “musuh-musuh Allah” yang mereka maksudkan adalah tempat-tempat publik yang secara langsung maupun tak langsung berkaitan dengan dunia Barat dan kemaksiatan, seperti kedutaan besar asing (milik orang-orang Barat kafir), kafe-kafe dan bar (berkaitan dengan maksiat).
Bagi kelompok yang terakhir ini, melakukan perusakan dengan mengebom, termasuk dengan meledakkan diri, adalah bagian dari jihad. Pengakuan para pelaku bom Bali I seperti Imam Samudra dan Amrozi, sangat terang-benderang bahwa mereka melakukan hal itu karena panggilan jihad.
Dualisme makna jihad memang bukan persoalan baru. Dalam wacana pemikiran Islam, ada dua makna jihad yang selalu dipertentangkan, yakni antara jihad dengan cara-cara damai (silmi) dan jihad lewat peperangan (harbi). Sepanjang sejarah Islam, kaum Muslim bersaing dalam memperebutkan kedua makna ini. Sementara kaum “Muslim moderat” berusaha memberikan citra positif terhadap istilah jihad, kaum “Muslim radikal” memberikan citra yang keras dan cenderung negatif terhadap konsep ini.
Jihad Negatif. Menarik untuk dicatat bahwa sejak 50 tahun terakhir, jihad dalam maknanya yang negatif, yakni peperangan, kekerasan, dan terorisme, mendominasi wacana dan pentas politik kehidupan kaum Muslim di seluruh dunia. Dari Mesir hingga Indonesia, kata “jihad” selalu digunakan dan diasosiasikan dengan kelompok atau organisasi radikal.
Di Mesir ada kelompok “al-Jihad al-Islami” yang dikenal, salah satunya, karena berhasil membunuh presiden Anwar Sadat; di Pakistan ada “Harakat ul-Jihad-i-Islami” yang populer karena aksi-aksi kekerasannya; di Indonesia ada “Laskar Jihad” yang dikenal karena keterlibatannya dalam konflik agama di Ambon.
Di dunia Barat dan di dunia luar Islam secara umum, jihad dalam pengertian negatif lebih sering ditemukan ketimbang yang positif. Bagi sebagian orang-orang non-Muslim, jihad bahkan identik dengan perang dan kekerasan.
Kelompok-kelompok Islam keras yang menggunakan nama “jihad” pada organisasi mereka tentu saja sangat berperan penting dalam mendistorsi makna jihad. Tapi, pada hemat saya, mereka bukan satu-satunya elemen dalam menyumbangkan makna pejoratif terhadap jihad. Para tokoh Islam garis keras secara umum juga turut menyumbangkan citra negatif terhadap konsep ini.
Sebelum polisi menggrebek dan menembak mati gembong teroris Azahari, misalnya, kita hampir tak pernah mendengar ada tokoh Islam garis keras yang secara terbuka mengecam terorisme. Mereka bahkan cenderung mendukung atau paling tidak menyetujui tindakan-tindakan pengeboman yang terjadi. Sebagian dari mereka bahkan menyatakan bahwa itu adalah salah satu bentuk jihad dalam melawan Amerika dan Barat.
Sandiwara. Karena itu, pertemuan kelompok-kelompok radikal dengan keputusan mereka menyatakan bahwa terorisme dan bom bunuh diri bukan bagian dari jihad merupakan sebuah langkah maju, meski sangat terlambat. Saya katakan terlambat karena pernyataan ini dikeluarkan setelah begitu banyak peristiwa kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan jihad.
Soal keterlambatan pernyataan itu juga mengundang kecurigaan sebagian orang. Ada yang mencurigai bahwa kelompok-kelompok radikal itu mengeluarkan pernyataan simpatik hanya alasan politis belaka, yakni untuk “cuci tangan” agar mereka tak dikaitkan dengan kelompok Azahari dan para teroris lainnya. Di tengah gencarnya polisi memburu para pelaku teroris, kelompok-kelompok radikal sepertinya ingin mencari selamat dengan ikut-ikutan mengecam para teroris.
Terlepas apakah pernyataan para tokoh Islam radikal itu lahir dari hati nurani dan kejujuran, bagi saya, pernyataan positif itu tetap penting, paling tidak untuk mendukung kampanye anti terorisme dan kekerasan atas nama agama yang dilakukan oleh pemerintah dan tokoh-tokoh Muslim moderat selama ini. Publik akan menilai sendiri apakah para tokoh Islam radikal itu sedang bersandiwara atau memang betul-betul berbicara atas nama kejujuran dan hati nurani.
Sumber: http://www.assyaukanie.com/articles/sandiwara-mengecam-terorisme
Penulis: Luthfi Assyaukanie
Tanggapan Iman Kristen:
Saudara Luthfi Assyaukanie, terima kasih atas pembelajaran ini. Memang betul, makna jihad sebaiknya tidak di”interpretasikan” hanya pada kekerasan, sebaiknya mulai diarahkan pada hal-hal yang positif. Misalnya jihad terhadap korupsi, kemiskinan dan sebagainya.
Salam.
16 Komentar sejauh ini
Tinggalkan Komentar
bos….kalau ingin belajar bahasa english yg benar dimana ya….? di londen atau dimadura ?
Bos…kalau ingin belajar Islam yg benar dimana ya….? di masjid atau di islamlib ?
bos….kalau ingin belajar kresten yg benar dimana…? di gereja atau di warung pojok ?
bos….islamlib itu bukan masjid, tapi warung pojok.
Komentar oleh Domba tersesat September 11, 2008 @ 9:58 pmdalam ajaran Islam yg saya pelajari, Tidak ada ajaran yg menyuruh melakukan kekerasan. tidak ada ajaran untuk membunuh. bahkan membunuh itu dosa besar hukumannya harus dibunuh juga.
Jihat adalah perang dijalan Allah. Memerangi sesuatu karena Allah. contoh : memerangi korupsi,maksiat dll.
Teroris ada karena ulah amerika juga. Amerika itu seperti Dajjal ( sesorang yang mengaku baik padahal buruk), mereka bermuka-2. Sebenarnya teroris itu siapa ? Amerika atau Islam…? Siapa yg duluan yg memulai ?
Ya amerika yang sok jago alias koboi dunia yg memulai teror yg menindas umat Islam didunia. Sebagai orang lemah ditindas, mereka membalas melakukan teror. Maklum lawan(Amerika) tak sebanding dengan mereka.
Mereka ( umat Islam yg tertindas ) tau kelemahan amerika yg Cinta dunia dan takut mati itu. Tak ada dalam sejarah tentara amerika yg kafir itu berani melakukan kamikase/ mati sebagai martir untuk perjuangan mereka. karena mereka semua banyak dosa, masih cinta kemewahan dunia dan takut mati.
Jihat fi sabilliah ( Jihat dijalan Allah ) ada ajarannya didalam Islam, dan imbalannya adalah Sorga tanpa hisab( tanpa syarat ). Suatu imbalan yg sangat besar. Mati langsung masuk surga…alangkah nikmatnya.
Komentar oleh Domba tersesat September 13, 2008 @ 9:33 pmJIHAD DALAM KRISTEN SEJATI :
1. Mempertahankan Iman akan Yesus Kristus sampai hari kiamat
2. Hidup Untuk Kristus dan Mati adalah keuntungan
3. Perjuangan hidup menegakkan keadilan dan kebenaran
Nah… itu namanya Jihad dalam Kristen
Komentar oleh JIHAD DALAM KRISTEN September 23, 2008 @ 1:16 pmbagus…
musti ati2 pilih sumber.
Jangan belajar dari “warung pojok”.
Donny
Komentar oleh Bisnis Paypal September 27, 2008 @ 8:12 amhttp://www.wpahost.com
http://www.webprogramer.asia
Jihad =====> Bahasa Arab yang diserap menjadi bahasa Indonesia
Komentar oleh langkahpertama@gmail.com September 30, 2008 @ 1:00 pmartinya Indonesia telah mengenal ISlam sudah lama.
Jihad dalam bahasa asli Ibrani itu apa??
Oh… iya mau nanya sekalian…. Injil itu dalam bahasa Ibrani kan? (original version)
Please jawab ke email.
Mari berjihad untuk membangun bangsa Indonesia jadi bangsa bermental tangguh disegani karena keuletan ,keberanian ,jaman Hindu .Budha dulu Indonesia terkenal dengan sriwijaya dan Majapahit serta disegani di kawasan Asean, masa sekarang??? tanyalah diri anda sendiri apa yang patut dibanggakan korupsi, kolusi ,nepotisme, ego golongan ,mementingkan kelompoknya sendiri dan yang terpenting jangan didikte sama bangsa lain baik Arab, Amrik, Eropa jadilah diri sendiri pasti mantap deh men, peace
Komentar oleh BEDUT Oktober 4, 2008 @ 6:43 am@ Bedut
Samudra Pasai kok ditinggal mas………….
Komentar oleh Animemymouse Oktober 23, 2008 @ 1:46 pmISLAM ADALAH AGAMA PALING BENAR DAN SUCI.
Komentar oleh andrew Desember 16, 2008 @ 4:54 amSELAIN ISLAM GAK TAU DECH.. BAJAKAN KALI YA !
jihad tetaplah namanya pembunuhan massal…
Komentar oleh berdosa Februari 6, 2009 @ 2:39 ammungkin sudah dari sononya diajarkan untuk membunuh dengan pedang ya.. kalo gak ada pedang ya pake bom aja kali..
apakah menghalalkan pambunuhan demi membela agama adalah perintah Tuhan???
teroris ya teroris… jangan pake nama laen!
Komentar oleh dmc Februari 12, 2009 @ 4:52 pmKalau Islam itu paling benar knp jihad itu di halalkan? Apakah membantai orang itu amal buat agama? Lucu loe…
Komentar oleh Lykhen Februari 12, 2009 @ 5:50 pmkenapa kok agama dijadikan perbedaan untuk kita. Dah lh gak sah dipermasalahin semua itu. Jihad, Yesus, muhammad, semuanya gak ada yang salah dan gak ada yang bener. Aku pengen ngasih saran, tlong jangan diterusin semua ini, bikin dunia akan perang terus-terusan,nyadar dong!!!!!!!!!
Komentar oleh pembela kebenaran Maret 1, 2009 @ 3:49 pm@pembela kebenaran
Keep dreaming aja kalo lu cuma mau hidup nyaman di dunia. Dunia adalah tempat berjuang. Tuhan kau pasti tidak ingin melihat kau lemah. Jangan cari aman kau. Apa kau ingin melihat teman kau masuk neraka sementara kau aman masuk surga. Kalau kau bisa masuk surga, ajakinlah teman kau masuk surga. Itu baru namanya manusia. Itu baru namanya persatuan. Dunia ini hanya sementara, keamanan, kenyamanan di dunia juga sementara.
@dmc & Lykhen
Komentar oleh Wong Maret 11, 2009 @ 3:01 amOh, jadi lu nutup mata am yang terjadi di Palestina. Bukannya produk nasrani dan yahudi yang ngebantu Israel buat nyiksa mereka umat Islam. Jangan curi-curi kau…
Lagi, Amrozi tu wong ndeso. Ga tau apa itu bomb. Dia cuma tau tombol on/off. Negara mana yang bikin bomb C4? Negara domba yang tidak tersesat kan? Sadarlah kau…
Pembuhuhan masal? Yang bikin holocaust ama yang holocaust 2 di Palestina dalang nya siapa? Plus negara yang menjajah Indonesia, agamanya apa? Siapa yang melakukan pembunuhan massal, huh? Pikir lah kau sebelum bicara.
Mari kita saling belajar dulu..Perdalam pengetahuan tentang islam.
Komentar oleh Islam yg belum taat September 3, 2009 @ 8:47 amSaling ingat mengingatkan.
kalu jihad dijalan Allah gak pa”.
Komentar oleh putri raflesia Desember 6, 2009 @ 2:45 amjihad apa jahid
Komentar oleh yoga kelana Januari 18, 2013 @ 3:28 pm