Diarsipkan di bawah: Tokoh Islam | Tag: Gus Dur, Kristen dan Islam, Toleransi beragama
Pola pandang dan sikap yang terus menghargai perbedaan dalam kerangka keragaman etnis, budaya, dan agama di Indonesia, masih tetap manjadi ciri khas KH. Abdurrahman Wahid, mantan orang nomor satu di negeri ini. Kyai nyentrik yang akrab disapa Gus Dur itu, kembali mengingatkan pentingnya menolak penyeragaman cara pandang, sikap, maupun perilaku dalam beragama dan bernegara di negeri ini.
KH Abdurrahman Wahid, mantan orang nomor satu di negeri ini, kembali mengingatkan pentingnya menolak penyeragaman cara pandang, sikap, dan perilaku dalam beragama dan bernegara. Berikut wawancara M. Guntur Romli dan Alif Nurlambang dengan Gus Dur di Radio Utan Kayu pekan lalu.
Akhir-akhir ini ada polemik Perda Tangerang tentang pelacuran dan RUU Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Apa komentar Anda?
Perda Tangerang maupun RUU APP yang kini diributkan, harus jelas dulu siapa yang merumuskan dan menentukannya. Pelacuran memang dilarang agama, tapi siapakah pelacur itu? Jangan-jangan, yang kita tuduh pelacur justru bukan pelacur.
Dari dulu memang ada dua hal yang perlu kita perhatikan sebelum menetapkan UU. Pertama, siapa yang merumuskan. Kedua, apakah dia memiliki hak antara pelaksana dan pihak lain. Contoh paling jelas adalah soal definisi pornografi. Ketika tidak jelas ini dan itu pornonya, yang berhak menentukan adalah Mahkamah Agung.
Salah satu dasar munculnya perda-perda seperti itu adalah alasan otonomi daerah. Menurut Anda bagaimana?
Otonomi daerah tidak mesti sedemikian jauh. Dia harus spesifik. Seperti salah satu negara bagian Amerika Serikat, Louisiana, yang masih melandaskan diri pada UU Napoleon dari Prancis, walaupun negara-negara bagian lain menggunakan UU Anglo-Saxon.
Perbedaan tersebut sudah dijelaskan dalam UUD mereka sejak awal, bukan ditetapkan belakangan dan secara serampangan. Untuk Indonesia, daerah-daerah mestinya tidak bisa memakai dan menetapkan peraturan sendiri-sendiri. Itu bisa kacau.
Bagaimana kalau otonomi daerah juga mengatur persoalan agama?
Otonomi daerah itu perlu dipahami sebagai kebebasan melaksanakan aturan, bukan kebebasan menetapkan UU. Pengertian otonomi daerah itu bukan seperti yang terjadi sekarang ini; daerah mau merdeka di mana-mana dan dalam segala hal. Sikap itu tidak benar.
Apakah beberapa daerah yang mayoritas nonmuslim seperti NTT, Papua, Bali, dan lain-lain dibolehkan menerapkan aturan agama mereka masing-masing dengan alasan otonomi daerah?
Iya nggak apa-apa. Itu konsekuensinya kan? Makanya, kita tidak usah ribut-ribut soal perda dan aturan yang berasal dari satu agama. Dulu pada 1935, kakek saya dari ayah (almarhum KH Hasyim Asy’ari, Red) sudah ngotot berpendapat bahwa kita tidak butuh negara Islam untuk menerapkan syariat Islam. Biar masyarakat yang melaksanakan (ajaran Islam, Red), bukan karena diatur oleh negara.
Alasan kakek saya berpulang pada perbedaan-perbedaan kepenganutan agama dalam masyarakat kita. Kita ini bukan negara Islam, jadi jangan bikin aturan-aturan yang berdasarkan pada agama Islam saja.
Ada yang berpendapat dengan RUU APP dan sejumlah perda syariat, Indonesia akan “diarabkan”. Anda setuju?
Iya betul, saya setuju dengan pendapat itu. Ada apa sih sekarang ini? Ngapain kita ngelakuin gituan. Saya juga bingung; mereka menyamakan Islam dengan Arab. Padahal, menurut saya, Islam itu berbeda dengan Arab. Tidak setiap yang Arab itu mesti Islam. Contohnya tidak usah jauh-jauh. Semua orang tahu pesantren itu lembaga Islam, tetapi kata pesantren itu sendiri bukan dari Arab kan? Ia berasal dari bahasa Pali, bahasa Tripitaka, dari kitab agama Buddha.
Kalau syariat Islam diterapkan di Indonesia secara penuh, bagaimana nasib warga nonmuslim?
Ya, itulah… Kita tidak bisa menerapkan syariat Islam di Indonesia kalau bertentangan dengan UUD 45. Dan, pihak yang berhak menetapkan aturan ini adalah Mahkamah Agung. Hal ini menjadi prinsip yang harus kita jaga bersama-sama. Tujuannya agar negeri kita aman. Jangan sampai kita ini, dalam istilah bahasa Jawa, usrek (Red: ribut) terus. Kalau kita usrek, gimana mau membangun bangsa? Ribut melulu sih… Persoalannya itu-itu saja.
Bagaimana barang dan tayangan erotis yang kini dianggap sudah akrab dalam masyarakat kita?
Erotisme merupakan sesuatu yang selalu mendampingi manusia, dari dulu hingga sekarang. Untuk mewaspadai dampak erotisme itu, dibuatlah pandangan tentang moral. Dan moralitas berganti dari waktu ke waktu. Dulu pada zaman ibu saya, perempuan yang pakai rok pendek itu dianggap cabul. Perempuan mesti pakai kain sarung panjang yang menutup hingga mata kaki.
Sekarang standar moralitas sudah berubah. Memakai rok pendek bukan cabul lagi. Karena itu, kalau kita mau menerapkan suatu ukuran atau standar untuk semua, itu sudah pemaksaan. Sikap ini harus ditolak. Sebab, ukuran satu pihak bisa tidak cocok untuk pihak lain.
Contoh lain adalah tradisi tari perut di Mesir yang tentu saja perutnya terbuka lebar dan bahkan kelihatan puser. Mungkin bagi sebagian orang, tari perut itu cabul. Tapi di Mesir, itu tarian rakyat; tidak ada sangkut-pautnya dengan kecabulan.
Jadi, erotisme itu tidak mesti cabul, Gus?
Iya, tidak bisa. Anda tahu, kitab Rawdlatul Mu’aththar (The Perfumed Garden, Kebun Wewangian) itu merupakan kitab bahasa Arab yang isinya tata cara bersetubuh dengan 189 gaya, ha-ha-ha.. Kalau gitu, kitab itu cabul, dong? ha-ha-ha…
Juga ada kitab Kamasutra. Masak semua kitab itu dibilang cabul? Kadang-kadang saya geli, mengapa kiai-kiai kita, kalau dengerin lagu-lagu Ummi Kultsum -penyanyi legendaris Mesir- bisa sambil teriak-teriak “Allah… Allah…” Padahal, isi lagunya kadang mengajak orang minum arak, ha-ha-ha..
Sangat saya sayangkan, kita mudah sekali menuding dan memberi cap sana-sini; kitab ini cabul dan tidak sesuai dengan Islam serta tidak boleh dibaca.
Bagaimana soal tak boleh membuka dan melihat aurat dan karena itu orang bikin aturan soal aurat perempuan lewat perda-perda?
Menutup aurat dalam arti semua tubuh tertutup itu baik saja. Namun, belum tentu kalau yang disebut aurat itu kelihatan, hal itu tidak baik. Aurat memiliki batasan maksimal dan minimal. Nah, bukan berarti batasan minimal itu salah.
Kesalahan RUU yang ingin mengatur itu adalah menyamakan batasan maksimal dan minimal dalam persoalan aurat. Sikap itu merupakan cara pandang yang salah. Kemudian, yang disebut aurat itu juga perlu dirumuskan dulu sebagai apa.
Cara pandang seorang sufi berbeda dengan ahli syara’ tentang aurat. Demikian juga dengan cara pandang seorang budayawan. Tukang pakaian melihatnya beda lagi; kalau dia tak bisa meraba-raba, bagaimana bisa jadi pakaian… ha-ha-ha.. Batasan dokter beda lagi. Kerjanya kan ngutak-ngutik, dan buka-buka aurat, itu, he-he-he.
Penulis: KH Abdurrahman Wahid (Wawancara).
Sumber: http://islamlib.com/id/artikel/jangan-bikin-aturan-berdasarkan-islam-saja/
Tanggapan Iman Kristen:
Gus Dur…, anda memang patut disebut Bapak Bangsa. Mempelari Islam dari anda menjadikan Islam itu agama yang Indah. Sayangnya pikiran anda jauh melampaui pikiran kaum Muslim pada jaman ini. Semoga pada hari-hari terakhir ini, Tuhan boleh semakin membukakan mata hati anda untuk berani berkata tentang Kebenaran Sejati.
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
kalo di amerika dan eropa sana banyak keluarga2 pada teriak-teriak minta bendung arus pornografi, lah di indonesia malah mendukung…..aneh
malah yg lucu
yg ikut aksi anti uu pornografi banci2 yg beraksi sambil maaf…mengeluarkan buah dada silikonnya yg montoxsssss……komplit dah kebodohan dan kekonyolan orang2 “beradab” kita……
bung iman ikutan demo yg gender murni apa campuran yak…….
Komentar oleh Animemymouse Oktober 17, 2008 @ 4:19 pmCabul itu pertama kali ada di otak kita.
Quote tulisan diatas:
Kalau dilihat dari pikiran yang cabul, kitab bahasa arab diatas yang tersebar luas di arab merupakan porno. Berarti orang Arab adalah orang yang suka porno.
Muslim di Indonesia begitu terobsesi dengan pola hidup kaum arab, berarti muslim Indonesia terobsesi porno.
Apakah demikian pendapat anda?
Saya kita tidak, bedakan antara seni, sasra dan budaya dengan sungguh-sungguh mau “memporno ria”. Perbedaannya tipis…, ada di hati manusia, ini sulit dilihat.
Apa yang manusia tidak bisa lihat…, Allah bisa lihat. Ada pertanggung-jawaban sorgawi…, bukan hanya pertanggung-jawaban duniawi.
Semoga anda semakin jelas…
Salam.
Komentar oleh imankristen Oktober 17, 2008 @ 11:40 pmanda itu masih gak bisa mengerti juga, kenapa nabi dan rasul banyak turun di timur tengah dan sekitarnya……ya karena contoh morality destruction dulu banyak terjadi disana, kalo di arab masih banyak yg bobrok…ya manusiawilah, emangnya sekali dakwah langsung semua bangsa arab langsung sadar dan beriman apa….???
tapi
nggak lucu dong kalo umat muslim dihubungkan dengan kitab porno itu, kalo org arab punya okelah, tapi kitab umat muslim ya cuma AQ….kok aneh anda ini.
faktanya toh pornografi yg luas beredar justru yg membuatnya umat yg penuh kasih…..
Mungkin pengertian mereka yaitu kasih adalah segala-galanya atau yg penting percaya sehingga apapun tdk ada yg haram walaupun melanggar norma2….
Komentar oleh Animemymouse Oktober 18, 2008 @ 4:37 amBegini ya saudaraku yang terkasih…
Konsep Kristen (iman Kristen) dan Islam (Gus Dur) itu sama. Berbeda dengan islam anda.
Islam (Gusdur)mengatakan kalau konsep porno itu bukan pada pikiran…, maka arab juga penuh dengan kecabulan…, ini dikarenakan adanya kitab Rawdlatul Mu’aththar (The Perfumed Garden, Kebun Wewangian) yang menjadi bacaan umum di Arab. Berarti arab juga porno dong?
Ya tentu arab tidak porno…, kalau punya konsep seperti islam (gusdur). Dan saya sangat setuju, serupa dengan Kristen.
Nah…, islam anda sendiri bagaimana? Kalau porno itu bukan di pikiran…, berarti anda menyetujui arab adalah orang-orang porno karena membiarkan “kitab Rawdlatul Mu’aththar” tersebar luas disana.
Salam.
Pesan: Perhatikan juga pemikiran GurDur mengenai “tari perut” di Arab.
Komentar oleh imankristen Oktober 18, 2008 @ 5:03 amsama kayak buku kamasutra , tapi bukan berarti itu buku pegangan (kitab suci) agama hindu…..
alasan art, seni, budaya itu adalah tahapan2 sejarah pada otak manusia, orang terbelakang sekalipun punya naluri bahwa ada bagian tubuhnya yg perlu ditutupi tanpa ada intervensi misionaris ataupun kyai….
dan
tahapan2 itu semakin menyempurna sampe sekarang, apakah perkembangan budaya mereka tidak ada campur tangan Tuhan didalamnya….????
nah apalagi yg sdh jelas2 diberikan sabda, wahyu dan salah contoh pelanggar wahyu (holebi jaman nabi luth) yg dibumihanguskan. Seharusnya menjadi contoh didalam kita bertingkah laku.
ah kamu…sungguh ngegemesin deh,
Komentar oleh Animemymouse Oktober 18, 2008 @ 5:05 amKalau begitu…, anda berarti setuju ya…, arab itu negara porno.
Kitab bacaan porno bebas dibaca dimana-mana, tari perut yang pornografi bebas dimana-mana…
Wah… meneladani (maaf) Muhammad ya…, budak ada 40 orang…, istri banyak…, wanita jajahan boleh disentuh… asalkan suaminya sudah mati…dsb…
Wah…, kalau begitu Muhammad juga pemberi teladan porno dong….? Punya istri dan gundik banyak…, ndak bisa nahan nafsu?
Kacau kalau cara berpikir anda seperti itu.
Ada konteks sosial dan budaya yang perlu diperhatikan untuk menafsirkan sesuatu tindakan. Dengan mengamati dari titik ini…, kita akan memandang lain tindakan Muhammad saat itu, juga tradisi yang ada di Arab saat ini (tari perut) dan bacaan sastra mereka.
Salam.
Komentar oleh imankristen Oktober 18, 2008 @ 5:10 amPermasalahan Nabi Muhammad seperti yg anda tuduhkan sebenarnya sudah dijawab di forum2 lain
anda saja yg ndableg mengulang pertanyaan kayak gitu.
Mas iman udah survei pembaca kitab porno tsb apa….??? kok sok tahu….!!!
atau udah survei berapa banyak org arab yg suka mbokingi penari perut po…hihihi….jangan2 mas iman survei kesana sambil mboking juga nih keknya……
Komentar oleh Animemymouse Oktober 18, 2008 @ 5:21 amAnda lihat ya…, Arab membebaskan hal itu…, berarti menyetujui. Kalau undang-undang anti pornografi Indonesia diterapkan disana…, itu bisa jadi terlarang.
Mengenai Muhammad punya banyak istri dan gundik…, bisa anda ulang lagi disini argumentasi anda…
Kan sudah baca banyak…, yang di forum-forum tuh…, pada ngak bisa jawab…, mungkin anda bisa mewakili mereka diskusi di blog ini.
Saya tunggu lho…
Salam.
Komentar oleh imankristen Oktober 18, 2008 @ 5:31 amgoogling aja lah man….
Gini aja man, semangat memberantas pornografi ada gak sih di benak kamu atau di keluarga kamu, atau di lingkunganmu.
RUU APP sekarang sudah disosialisasikan ke masyarakat dan disempurnakan loh man, dan itu mengakomodir bermacam ragam budaya di indonesia.
Kalo pengakomodiran ini masih anda bantah mentah juga, sebagai warga masyarakat yg beradab apa kamu itu gak punya hati.
Wong di negara2 mayoritas nasarani aja mereka sudah teriak2 agar arus pornografi supaya di bendung.
lah anda ini yg katanya lahir di negara yg punya adab dan sopan santun yg tinggi malah tutup mata dgn tdk terkendalinya arus pornografi kaya begini.
makanya partisipasi masyarakat dlm pemberantasan PEKAT gak begitu gaung di kalangan umat nasrani…
kalo partisipasi ini berhasil mereka terimakasih aja nggak,tapi kalo gak berhasil “pasti” menghujat seenak udele dewe.
yang mau mabok ya mabok, yg mau buka lokalisasi ya sana, yg mau buka klub telanjang ya monggo….
ck…ck…ck
rupanya berhasil juga “mereka” menjajah utk menanamkan saudara se”isme” yg mendukung segala kebebasan tanpa batas, sehingga cengkeraman mereka tdk begitu mudah begitu saja dilepaskan….
Komentar oleh Animemymouse Oktober 18, 2008 @ 5:50 amCoba anda pelajari lagi pandangan Islam Gus Dur diatas, serupa dengan pandangan Kristen saya.
Untuk kasus Muhammad itu.., yang punya banyak gundik dan istri…, mana argumentasinya…
Di tunggu lho?
Salam.
Komentar oleh imankristen Oktober 18, 2008 @ 6:51 amKan udah di bilang kamu ke blog agamaku aja, kok males sih……
Komentar oleh Animemymouse Oktober 18, 2008 @ 10:57 amMengapa sih semua harus dituntaskan prono? Apakah pake cawat sambil menari dalam upacara tradisi suku kaum tertentu itu porno? Apakah mengukir simbol2 budaya & agama yg menampakkah tubuh alamiah itu porni? Apakah gambar/sosok Yesus disalibkan dgn sehelai kain putih yang menutup aurat-Nya itu porno? Apakah kalo mahu dipaparkan/digambarkan foto2 manusia yg terseksa dan dianiaya tanpa pakaian itu prono? Bisa dibanding engak?
Tapi lucu sekali, sewaktu gua di Sepanyol, kebetulan ada acara mengayuh basikal secara bogel keliling kota, masyarakat Sepanyol biasa2 aja. Yang terus menerus kaget & kepingin melihat dgn penuh nafsu ialah turis2 Arab yg sok saleh. He, he, he.
Komentar oleh CosmisBoy Desember 3, 2008 @ 11:45 pmwew…penulis2 di blog sini terlampau cerdas..!!
sungguh!!
Gusdur lo dengerin..
*maaf gus..
liat dong,bener ga dia mimpin negara waktu tu?
patokannya sih sama orang..awas diboongin..!!
Ohh ya ngomong2 soal “konsep”..must read magazine tuh!!
lumayan buat memperkaya seni yang sebenarnya..
biar lu paham apa itu seni man!!
sekali lagi seni bukan agama,dan gak akan pernah sama..!!
klo da seniman yg nyrempet “pornografi” itu hak mereka selama mereka bisa tanggung jawab nantinya..
Dan jgn counter gw dengan pertanyaan berarti ajaran islam melanggar hak seorang seniman utk berkarya,krna seni gak cuma itu doangan…!!
banyak bngt klo lu brani utk eksplore..!!
ps: Gw bukan lo
Lo bukan Gw
Lo dan Gw bukan kita..!!
*jadi gak usah maksain diri..
ada baikny mungkin lu tutup blog ini,sampah doang isinya..!!
piss ahh…wakakak…!!
Komentar oleh kubil_lelakihidungbesar Januari 23, 2009 @ 9:33 pmIslam tidak kenal toleransi, makanya orang Katholik ditembaki Inggirs Protestan. Bangsa Bizantium bantai orang Mesir Kristen Koptik. Monggo Syalom ! ( Fans ayat Ulangan 13:1-10)
Komentar oleh Ahmed Shahi Kusuma April 1, 2009 @ 2:47 amALLAHU AKBAR………………
Komentar oleh VINO April 28, 2009 @ 6:08 amPerkataan cabul itu terdengar, setelah mellihat dan banyak mempelajari tentang kehidupan nabi cabul Muhammad. Kake Muahammad yg berumur 54 tahum bisa ngesek dengan anak kecil Aisyah berumur 9 tahun. Sejarah kehidupan Muhammad yang ngesek dengan Aisyah 9 tahun lalu sekarang banyak terdengar di media internet;
gelar sang nabi Muhammad;
Nabi cabul Muhammad.
Pedhofolia sang Muhammad…dan Muyhammad telah berkata: Aku menyintai umatku islam seperti aku menyintai Aisyah karena Aisyah adalah makanan daging yang lezat….ini perkataan nabi cabul Muhammad.
Aisay menyatakan bahwa ia dinikahi oleh nabi cabul Muhammad pada saat ia b erusia 6 atau 7 tahun Muhammad baru bisa ngesek Aisyah setelah berumur 9 tahun.
Inilah sejarah nabi cabul Muhammad yang mempunyai istri 13 muslimah, jadi setiap malam nabi cabul ini bisa ngesek semalam dengan semua istrinya….wow hebat nabi cabul Muhammad ini.
Komentar oleh Mr.Nunusaku Juli 10, 2009 @ 3:33 pm