Iman Kristen Belajar Islam


Sejarah Hadis – Komentar1
Oktober 25, 2008, 7:37 am
Diarsipkan di bawah: Sejarah Hadis | Tag: , , , ,

Muqaddimah

Judul yang mengerikan tetapi itulah apa adanya. Penjelasannya bisa sangat panjang dan akan saya buat dengan sesederhana mungkin. Apa itu Sunnah? Nah bahaya kan kalau anda salah menangkap apa yang saya maksud. Sederhananya saya ambil yang ini

Sunnah adalah apapun yang berupa perkataan, perbuatan dan sikap yang dinisbatkan kepada Nabi SAW.

Tidak percayakah anda kalau Sunnah ini sudah direkayasa!. Mari pikirkan kemungkinan-kemungkinannya. Rasulullah SAW hidup 1400 tahun yang lalu artinya kita terpisah ruang dan waktu yang sangat jauh untuk mengakses apa itu sebenarnya Sunnah atau Bagaimana Sang Rasul SAW sebenarnya. Semudah itukah? belum karena para Pemuka konservatif akan menjawab semua keraguan atas Sunnah dengan menyatakan bahwa para Ulama sudah melakukan metode tersendiri untuk menjaga kemurnian Sunnah. Mereka telah melakukan pencatatan atas Sunnah dan Melakukan penyaringan dengan Metode khusus yang dapat anda lihat dalam Ulumul Hadis(yah berkaitan dengan Jarh wat Ta’dil dan sebagainya).

Keren jawabannya dan akan memuaskan mereka yang cuma awam-awam saja dan mereka yang biasa bertaklid. Percayakah anda dengan validitas kedua hal yang disebutkan yaitu

  • Pencatatan Atas Sunnah
  • Penyaringan Atas Sunnah

.

.

Pencatatan Sunnah

Kapan dimulai pencatatan? Dulu kabar yang masyhur pencatatan Sunnah dimulai jauh setelah Rasulullah SAW wafat tetapi syubhat ini dibantah oleh Syaikh yang mulia Mustafa Al Azhami. Beliau membantah semua para pengingkar Sunnah yang meragukan pencatatan Sunnah. Singkatnya beliau membuktikan bahwa Sunnah telah mulai dicatat oleh Sahabat Nabi SAW saat Nabi SAW masih hidup. Kemudian pencatatan terus dilakukan orang perorang(orang tertentu) dari tabiin, tabiit tabiin hingga Ulama hadis. Pernah dengar Lembaran or suhuf tertua soal Sunnah yang ditulis oleh Abdullah bin Amr dan Abu Suhail. Yang satu sudah tidak ada lagi alias lenyap tinggal nama dan yang satu lagi masih berupa manuskrip catatan tangan. Kesimpulan: Sunnah sudah ditulis sejak awal Rasulullah SAW hidup dan seterusnya sampai sekarang. So saya sepakati saja yang ini 

.

Siapa itu para pencatat? Manusia yang tidak maksum. Nah ada kemungkinan usil yang lain. Bukankah mereka para pencatat adalah orang-orang yang tidak selalu benar dan mereka punya potensi melakukan kesalahan. jadi bisa saja para pencatat itu melakukan kekeliruan. Ini sebuah kemungkinan yang masih harus dibuktikan tetapi tidak bisa sepenuhnya ditolak. Mari kita melakukan lompatan ribuan tahun dan kembali ke masa kini. Ada berapa banyak kitab yang memuat Sunnah yang anda ketahui? lumayan banyak baik yang semuanya Shahih(menurut Ulama) atau yang campuran shahih, hasan dhaif dan maudhu’.

.

Ok bisa diperinci Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Nasai(Kubra dan Shughra/Al Mujtaba), Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Daruquthni, Sunan Baihaqi, Shahih Ibnu Hibban , Shahih Ibnu Khuzaimah, Mustadrak Al Hakim, Musnad Ahmad(suka dengan yang ini), Musnad Al Bazzar, Musnad Abu Ya’la, Mu’jam Al Awsath, Kabir dan Saghir Ath Thabrani. Daftar ini masih bisa dibuat panjang Jami’ As Shaghir Suyuthi, Majma Az Zawaid Al Haitsami, Kanz Al Ummal Al Hindi, Musnad Ibnul Mubarak, Musnad Abu Daud Ath Thayalisi, Musnad Asy Syamiyyin, Musnad Al Hamidi, Musnad Asy Syafii, Musnad Aisyah, Musnad Abu Bakar, Al Mushannaf Abdur Razaq, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan uups kita melupakan yang paling senior Al Muwatta Imam Malik 

.

Selesaikah? oooh belum masih ada lagi(ini belum ditambah dengan banyaknya catatan di kalangan Islam Syiah), tahukah anda bahwa kitab Al Muwatta itu dulu ada banyak sekali tidak hanya Imam Malik yang punya. Informasi yang saya dapat, ada lebih kurang 70 kitab Muwatta dan yang tersisa sekarang hanya Muwatta versi Imam Malik. Selebihnya lenyap ditelan usia 

.

So apa yang anda pikirkan, Kitab yang mencatat Sunnah itu bisa juga lenyap. Usilkah anda jika berpikir ada Sunnah yang hilang. Boleh saja usil, tapi semua keusilan anda sudah ada apologinya oleh para Pemuka Konservatif. Mereka akan berkata Tidak ada itu yang hilang karena semuanya sudah tercatat pada kitab yang ada. Saya sebut hal itu apologi karena siapa yang bisa membuktikan, toh kitabnya juga sudah tidak ada. Siapa yang bisa memastikan bahwa Sunnah yang tercatat dalam Suhuf Abdullah bin Amr, Kitab Muwatta yang lain dan Kitab-kitab lain(karena masih ada yang lain) itu semuanya tetap tercatat pada kitab yang ada sekarang. Bukankah tetap ada kemungkinan Sunnah yang tidak tercatat. Lagi-lagi ini perlu bukti dan mana bisa dibuktikan kecuali anda menemukan kembali kitab-kitab yang hilang itu dan membandingkannya dengan kitab yang ada sekarang. Jadi berprsangka baik saja 

.

Lalu apa masalahnya? Nah kalau anda belum tahu masalahnya adalah Terlalu banyak Catatan. Hal ini memperbesar kemungkinan kekeliruan para Pencatat. Cuma asumsi sayakah ini? Ooh tidak ini bisa dibuktikan. Pernahkah anda membaca riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram. Padahal ada riwayat lain bahwa Nabi SAW melarang menikah di waktu ihram. Nabi SAW melanggar perkataan Beliau sendiri, nggak mungkin banget kan dan puncaknya ada riwayat lain bahwa Pernikahan Nabi SAW dengan Maimunah RA tidak terjadi waktu ihram. Semua riwayat tersebut Shahih.(sesuai dengan Metode penyaringan). Tidak mungkin 2 hal yang kontradiktif bisa benar. Salah satunya pasti keliru dan lucunya kesalahan dan kekeliruan dijatuhkan pada Sahabat Nabi SAW yang meriwayatkanbahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram.

.

Banyaknya pencatatan menimbulkan banyaknya kemungkinan Inkonsistensi. Mau yang lain lagi nih, pernah dengar riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW pernah melaknat dan mencela orang2 yang tidak berhak mendapatkan laknat dan celaan. Sampai-sampai begitu banyak hadisnya maka ada sang Pencatat Sunnah yang membuat Bab khusus Siapa saja yang pernah dilaknat, dicela dan didoakan jelek oleh Nabi SAW dan dia tidak berhak mendapatkannya maka itu sebagai pembersih, pahala dan rahmat baginya. Padahal ada banyak riwayat lain bahwa Rasul SAW melarang mencela dan melaknat sesama muslim. Yang lebih aneh lagi ada riwayat yang menyatakan bahwa Barang siapa melaknat atau mencela sesuatu yang tidak pantas dilaknat atau dicela maka laknat dan celaan itu akan berbalik pada dirinya sendiri. Luar biasa ternyata semua riwayat tersebut shahih. Nah silakan pikirkan sendiri 

Kritis, silakan dan jangan tanya bagaimana sikap para Pemuka Konservatif. Mereka punya banyak pembelaan yang berkesan apologia. Tidak percaya, silakan lihat sendiri bagaimana Mereka menjelaskan semua itu. Intinya Semuanya harus tampak bagus so apapun yang terjadi Tidak ada yang perlu diragukan ;) 

.

.

Penyaringan Sunnah

Bagimana Sunnah disaring? Dengan Metode khusus yang detailnya dapat anda lihat dalam Ulumul Hadis. Saya akan membahas yang paling rawan yaitu Jarh wat Ta’dil . Ilmu ini berkaitan dengan perawi-perawi hadis. Mereka yang belajar ilmu ini kebanyakan adalah cikal bakal pemuka Konservatif. Ilmu ini mempelajari tentang kedudukan mereka yang meriwayatkan hadis, diterimakah atau ditolak hadisnya. Bisa dibilang dalam cabang ilmu ini yang namanya aib dibongkar habis-habisan. Perawi hadis yang tertuduh berdusta, mungkar, dan tidak dipercaya dijabarkan dengan jelas. Ilmu ini adalah ilmu mati alias gak berkembang kemana-mana. Ilmu ini adalah ilmu warisan yang tidak bisa diverifikasi dengan pasti karena anda dituntut percaya atau bertaklid dengan para Pemuka dan Sesepuh sebelumnya.

.

Sebut saja misalnya sang Perawi A, ia dinyatakan tsiqat oleh karena itu hadisnya diterima sedangkan Perawi B tertuduh pendusta sehingga hadisnya ditolak. Nah bagaimana bisa anda memastikan kalau si A benar-benar bisa dipercaya dan si B benar-benar tertuduh pendusta. Verfikasi yang pasti adalah dengan menilai sendiri watak kedua perawi itu alias ketemu langsung dan untuk itu, anda harus melakukan lompatan ruang dan waktu. Gak mungkin bisa kayaknya, jadi standar mesti diturunkan dengan Metode yang memungkinkan yaitu percaya dengan para Sesepuhsebelumnya yang sempat mengenal perawi tersebut atau dari ulama yang pernah belajar sama sesepuh itu atau ulama yang pernah belajar sama ulama yang belajar dari sesepuh. Singkatnya Taklid gitu loh dan bisa dimaklumi kalau orang-orang tertentu tidak berkenan dengan metode ini dan menilainya tidak ilmiah 

.

Tetapi saya tidak setuju dengan mereka yang menyatakan ini tidak ilmiah. Metode itu adalah ilmiah yang bisa dilakukan. Jangan mengharap standar yang tinggi kalau memang mustahil. Meragukan penilaian manusia ya sah-sah saja. Seperti hati orang siapa yang tahu

  • Apakah mereka yang terpercaya itu tidak bisa dipengaruhi kecenderungan tertentu(fanatisme mahzab atau tekanan penguasa, dll) sehingga akhirnya mereka mungkin pernah berbohong dalam menyampaikan hadis walau cuma satu kali atau bisa saja mereka keliru menyampaikan hadis, kan mereka manusia.
  • Apakah mereka yang dinyatakan pendusta itu tidak bisa menyampaikan hadis yang benar?, apakah mereka selalu berdusta? Bisa saja kan mereka berkata benar walau hanya satu kali. Siapa yang bisa memastikan.

Sudah jelas jawabannya tidak ada yang pasti tetapi pemecahannya bisa bersifat metodis.

  • Benar mereka yang tsiqah bisa keliru atau bisa saja dipengaruhi kecenderungan tertentu tapi keraguan ini tidak bisa dibuktikan sehingga lebih aman menerima hadis perawi tsiqah sampai ada kemungkinan yang menguatkan bahwa hadis tersebut keliru. Terima saja sampai ada illat/cacatnya.
  • Benar bahwa mereka yang pendusta bisa saja berkata benar tetapi siapa yang bisa menjamin dan membuktikan bahwa mereka tidak berdusta saat itu. Oleh karena itu untuk amannya lebih baik semua riwayat mereka ditolak sampai ada keterangan yang menyatakan mereka benar misalnya ada perawi tsiqah yang juga meriwayatkan hadis yang sama dengan perawi pendusta tersebut. Tolak saja sampai ada yang menguatkannya.

Lalu apa masalahnya? Nah kalau anda belum tahu masalahnya adalah Terlalu banyak Sesepuh dan Ulama yang ikut andil dalam ilmu ini. Dan seperti biasa catatannya juga banyak dan memungkinkan Inkonsistensi. Sang Perawi tertentu bisa menjadi perdebatan di kalangan sesepuh. Pernah dengar yang ini

  • Athiyyah Al Aufi dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Saad tetapi dihaifkan oleh banyak ulama lain
  • Imam Syafii dinyatakan dhaif oleh Ibnu Main dan tsiqah oleh banyak ulama lain (bisa bayangkan kalau Imam Syafii dhaif, waduh bisa hancur itu mahzab Syafii)
  • Imam Tirmidzi dinyatakan majhul oleh Ibnu Hazm tetapi sangat terpercaya oleh ulama lain(apalagi ini nih masa’ Sunan Tirmidzi kitab majhul/tidak dikenal)
  • Beberapa ulama menyatakan cacat hadis seseorang hanya karena berbeda mahzabnya, Al Jauzjani melakukan pencatatan yang keterlaluan pada banyak perawi yang terkait dengan tasyayyu.
  • Ibnu Ishaq dinyatakan dajjal oleh Imam Malik tetapi beliau juga dipercaya oleh Imam Syafii dan Ali bin Madini serta yang lainnya. Dan sampai sekarang kitabSirah Ibnu ishaq tetap menjadi referensi umat islam.
  • Katsir Al Muzanni adalah perawi yang sangat dhaif dan ini dinyatakan oleh banyak ulama sampai2 Imam Syafii menyebutnya “Tiang Kebohongan”(ini celaan paling jelek dalam Jarh wat Ta’dil). Anehnya Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir.
  • Beberapa ulama menyatakan cacat pada setiap perawi yang berbau Rafidhah dengan tuduhan bahwa Rafidhah itu pendusta tetapi anehnya banyak hadis yang diriwayatkan oleh Rafidhah dalam kitab2 hadis. Labih aneh lagi malah ada Rafidhah yang justru dikatakan tsiqat dan jujur.

Jangan dikira para Pemuka Konservatif itu diam saja dengan masalah ini. Mereka punya jawaban sederhana yaitu Jarh didahulukan ketimbang ta’dil dengan alasan mereka yang memuji tidak tahu keburukan perawi yang diketahui oleh mereka yang mencela. Ini adalah Alasan yang digeneralisasi karena kenyataannya ada variasi tertentu dimana mereka yang memuji seorang perawi justru mengetahui dan menolak dengan jelas orang lain yang mencacat atau mencela perawi tersebut.

.

Masalahnya nih seandainya

  • Kesaksian Ibnu Saad soal Athiyah benar maka hadis2 Athiyah (yang tentunya didhaifkan oleh ulama lain) adalah Sunnah yang shahih.
  • Ketika Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir dan mengatakannya Sunnah maka hal ini keliru jika Katsir memang Tiang kebohongan seperti yang dikatakan Imam Syafii.
  • Jika Imam Malik benar celaannya bahwa Ibnu Ishaq itu dajjal maka semua Sunah Rasulullah SAW yang dinisbatkan kepada Rasul dalam kitab Sirah Ibnu Ishaq adalah tertolak.

Pembuktian pastinya sangat sulit dan yang bisa dilakukan hanya memilih yang lebih aman dan lebih melegakan(alias berprasangka baik) 

Anda lihat Dengan meloncat-loncat pada ulama satu ke ulama lain maka berkesan yang namanya Sunnah itu sudah diRekayasa. 

.

.

Keanekaragaman Inkonsistensi

Penilaian ulama yang berbeda soal hadis akan membuat perbedaan pula terhadap apa itu yang namanya Sunnah. Ulama A berkata hadis ini shahih sehingga dengan dasar ini maka hadis itu adalah Sunnah tetapi Ulama B berkata hadis tersebut dhaif atau bisa saja maudhu’ sehingga dengan dasar ini hadis itu tidak layak disebut Sunnah. Pernah dengar hadis2 yang kontradiktif misalnya nih hadis yang melarang menangisi mayat dan hadis yang membolehkan menangisi mayat. Atau hadis-hadis musykil yang begitu anehnya

  • Nabi Musa telanjang mengejar pakaiannya yang dibawa lari sebongkah batu
  • Nabi Musa menampar malaikat maut sehingga bola mata malaikat itu keluar dan akhirnya Allah SWT mengembalikan bola matanya
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW berhubungan dengan 9 istrinya dalam satu malam
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW menikahi anak berumur 9 tahun

Dan masih ada yang lain, semuanya itu hadis-hadis yang Shahih. Belum lagi Sunnah yang diyakini dalam mahzab-mahzab tertentu. Bagi penganut mahzab Syafii, Qunut itu sunnah tetapi bagi mahzab Hanbali dan Salafy Qunnut itu bid’ah yang berarti bukan Sunnah. Jadi apa itu berarti penganut Syafii sudah merekayasa Sunnah?(dengan asumsi mahzab hanbali dan Salafy benar). Dalam mahzab Syiah berpegang pada Ahlul Bait dan menjadikan mereka Syariat adalah Sunnah tetapi bagi mahzab Sunni tidak. Yang anehnya Rekayasa Sunnah ini bahkan sudah terjadi di kalangan sahabat sendiri dimana ada sebagian sahabat yang melarang apa yang sudah ditetapkan dan dibolehkan oleh Nabi SAW salah satunya yaitu Haji tamattu’ (dan bagi Syiah termasuk Nikah Mut’ah).

.

.

Kesimpulan

Jadi Rekayasa Sunnah itu sudah jelas dan memang konsekuensi dari ruang waktu yang berbeda. Jangan diartikan ini sebagai penolakan saya terhadap Sunnah. Bukan seperti itu maksud saya, hanya saja saya mengingatkan bahwa banyaknya sesuatu justru mengaburkan sesuatu. Pilihan anda ya mudah saja, tidak peduli dan ikut aman saja dengan Awamisme Sunnah yang artinya anda tetap saja bagian dari Rekayasa Sunnah yaitu Sunnah yang mayoritas ada membudaya di lingkungan anda atau ikut aktif dalam bagian Rekayasa Sunnah baik dengan mengambil inisiatif bergabung dengan golongan tertentu atau justru membuat Rekayasa Sunnah sendiri seperti saya . 

Pemecahannya mudah

“Jangan pernah menganggap Rekayasa sebagai sesuatu yang menyesatkan. Terima itu apa adanya dan cari pemecahan yang terbaik yang bisa anda lakukan” ;)

Apakah ini buruk? Ngapain sih bahas ini padahal udah deket puasa?. Lho apa hubungannya, memangnya saya sedang bermaksiat? Nggak banget deh P . Waduh waduh saya ini mengingatkan anda semua wahai yang mengaku berpegang pada Sunnah. Anda sama-sama punya masalah jadi mari bahu membahu memecahkan masalah. Tidak mau ya sudah dan tidak perlu menghina. Anggap saja saya salah dan cuma cuap-cuap asal, Gampang kan 

Salam Damai

.

.

Catatan : Tulisan ini juga sebuah Rekayasa Sunnah jadi pilihan ada pada anda untuk memperhatikan apa yang tersirat atau memasukkannya dalam kotak sampah sambil terus mengutuk.

Penulis: secondprince

Sumber: http://secondprince.wordpress.com/2008/08/27/rekayasa-sunnah/

Tanggapan Iman Kristen:

Tanggapan yang baik sekali dari secondprice. Kesadaran anda yang luar biasa dalam mempergunakan akal yang telah Allah titipkan untuk anda pergunakan dengan sebaik-baiknya…, sungguh luar biasa. Saya menghargai kejujuran anda untuk berpikir secara kritis. Rekayasa….sunnah, memang itu sungguh-sungguh terjadi, dan kiai-kiai sekarang juga ikut merekayasa agar rekayasa terdahulu itu menjadi suatu kebenaran.

Apakah anda pernah berpikir…, bahwa Alquran juga merupakan rekayasa Muhammad?


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Bagaimana dengan Injil… yang nyata – nyata sudah mengalami revisi besar – besaran (versi King James ke sekian sekian)?????
Bagaimana dengan injil… yang memasukkan surat Paus kepada muridnya sebagai bagian dari kitab suci…??? Atas dasar apa dia berani menuliskan kitab suci???????????
Sebelum anda mengomentari kitab suci agama lain… lihat dulu kitab agama anda sendiri BUNG!!! Jangan sok tahu anda!!! Pengetahuan anda tentang ISLAM tuh… nggak ada seujung upil kutu sekalipun!!!…. (Kalau anda tidak pengecut, komentar ini pasti anda publikasikan)

Komentar oleh Rahman

He he he…. salam saudaraku…
Anda pasti lebih pintar dari saya…, ciri-cirinya cuma satu…., anda tidak akan lari…

Saya akan jawab:

Bagaimana dengan Injil… yang nyata – nyata sudah mengalami revisi besar – besaran (versi King James ke sekian sekian)?????

Itukan terjemahan, bukan kitab aslinya.

Bagaimana dengan injil… yang memasukkan surat Paus kepada muridnya sebagai bagian dari kitab suci…??? Atas dasar apa dia berani menuliskan kitab suci???????????

Wah dongeng ini tanya sama yang tulis dongeng, jangan sama saya.

Sebelum anda mengomentari kitab suci agama lain… lihat dulu kitab agama anda sendiri BUNG!!! Jangan sok tahu anda!!!

Ada yang salah dengan kitab suci saya? Yang mana ya? Tentu anda tidak asal bicara saja.

Pengetahuan anda tentang ISLAM tuh… nggak ada seujung upil kutu sekalipun!!!…. (Kalau anda tidak pengecut, komentar ini pasti anda publikasikan)

Pengetahuan islam saya bisa anda katakan sebanyak pembalajaran islam pada blog ini. Silahkan counter dengan kepintaran anda, jangan dengan “dengkul dan otot” anda.

Salam.

Pesan:
1. Banyak nih muslim seperti anda, ngomongnya gede…, ilmunya cuma “kata kiayi”. Seperti burung beo (maaf), hanya kutip tapi ndak pernah dipikir. Mudah-mudahan anda tidak seperti itu.
2. Mohon jangan emosional, apakah itu teladan dari Muhammad yang anda tiru?

Komentar oleh imankristen

@rahman, saudaraku..

Dalam sejarah penyusunan Alkitab sampai dengan yang terbentuk seperti sekarang Alkitab telah mengalami terjemahan kedalam banyak bahasa…(inikah yang saudara maksud sudah direvisi besar-besaran??)

Alkitab yang berbeda Versi hanya berbeda pada pemilihan kata-katanya namun tidak keluar dari konteks makna yang terkandung didalamnya… hal ini terbukti dengan penemuan perkamen-perkamen/kitab-kitab asli di daerah timur-tengah yang sudah berumur ribuan tahun namun setelah disandingkan dengan aslinya tidak ada perbedaan sama sekali.(ini juga menjadi bukti bahwa Tuhan sanggup menjaga kebenaran Firman-Nya)

Yang terjadi justru sebaliknya dengan kitab anda… Berikut copy paste dari om Luthfi Assyaukanie (yang dengan jujur mengakui kelemahan kitab anda)
———————-
Merenungkan Sejarah Alquran
Luthfi Assyaukanie.
Dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Paramadina, Jakarta,
Editor Jaringan Islam Liberal.Luthfi …..

Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah
sebuah INOVASI yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia ini
didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak dengan
percetakan modern dan menggunakan STANDAR EDISI MESIR PADA TAHUN 1924.
Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan
(rasm) dengan teknik penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografi
yang BERVARIASI.

Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran
menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah MEMBAKUKAN
BERAGAM VERSI AL-QUR’AN yang sebelumnya beredar MENJADI SATU STANDAR
bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia MENCETAK
RATUSAN RIBU KOPI Alquran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari
proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya PENYUKSESAN
STANDARISASI ALQUR’AN. Kendati tidak seperti Uthman bin Affan yang
secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf)
Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar berhasil),
tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu
edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang
diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan
sekitarnya)…….

Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Alquran
(qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini.

Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah
yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses
“COPY EDITING” oleh para sahabat, tabi’in, ahli bacaan, qurra,
otografi, mesin cetak, dan kekuasaan.

Jadi kesempurnaan teks Al-Qur’an sesungguhnya hanyalah KLAIM KOSONG
yang baru ada setelah tahun 1924 dimana AL-QUR’AN DITULISKAN ULANG.

Satu hal yang sangat mengejutkan ternyata bahwa KARANGAN AL-QUR’AN
EDISI 1924 TERNYATA TIDAK MENDASARKAN DARI MANUSKRIP KUNO YANG MANAPUN
melainkan DIKLAIM MURNI DARI HAFALAN.

Sumber :
The writing of the Quran and the timing of the mathematical miracle
http://www.submission.org/miracle/writing.html

It was not until the year 1918 when the Muslim scholars, gathered in
Cairo, Egypt, and decided to write a standardized edition of the Quran
that avoids all the obvious scribes’ errors in different editions of
the Quran floating in the world and to standardize the numbering f the
suras and verses of the Quran. In 1924, they produced the edition of
the Quran that later became the standard edition around the world.
They depended mainly on the oral transmission of the Quran to correct
all the contradiction seen in the different Rasm (Orthography) and
numbering of different Qurans

Hingga ditahun 1918 ketika pakar-pakar muslim, berkumpul di Kairo,
Mesir dan memutuskan untuk MENULISKAN EDISI STANDARD AL-QUR’AN UNTUK
MENGHINDARKAN SEMUA KESALAHAN TULISAN DALAM EDISI AL-QUR’AN YANG SAAT
ITU BEREDAR diseluruh dunia dan untuk menstandarkan penomoran surah
dan ayat-ayat al-Qur’an. Di tahun 1924 mereka menerbitkan edisi
Al-Qur’an yang kemudian menjadi standar edisi diseluruh dunia. MEREKA
SEPENUHNYA MENDASARKAN PADA TRADISI LISAN AL-QUR’AN UNTUK MENGOREKSI
SEMUA PERBEDAAN TULISAN DAN PENOMORAN DARI AL-QUR’AN YANG
BERBEDA-BEDA.

Jadi hingga tahun 1924 TIDAK ADA AL-QUR’AN yang BENAR karena masih
HARUS DIKOREKSI.

Jadi dimana klaim HAFALAN 100% SEMPURNA dan 100% SAMA ITU??? PEPESAN KOSONG???

Pengkajian sejarah Alquran bukan hanya dimaksudkan untuk mengungkap
dimensi-dimensi tersembunyi yang selama ini tak terpikirkan oleh umat
Islam, tapi juga merupakan modal intelektual untuk memahami kitab
suci.

Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari halaman
pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan)
maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang
mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada
masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.

Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan
angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama
sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan
sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai
nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan,
pertentangan, intrik, dan rekayasa.

Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah
sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia ini
didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak dengan
percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir pada tahun 1924.
Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan
(rasm) dengan teknik penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografi
yang bervariasi.

Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran
menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah membakukan
beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi satu standar
bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.

Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali dalam upaya
standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para khalifah dan
penguasa Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang sama, kerap
didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan konflik-konflik bacaan
yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang beredar.

Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa,
karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah
kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian,
Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling banyak
beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.

Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak terlepas dari
unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa sebelumnya, kodifikasi
dan standarisasi Alquran adalah karya institusi yang didukung oleh
–dan menjadi bagian dari proyek– penguasa politik. Alasannya
sederhana, sebagai proyek amal (non-profit), publikasi dan penyebaran
Alquran tak akan efektif jika tidak didukung oleh lembaga yang
memiliki dana yang besar.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak
ratusan ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari
proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya penyuksesan
standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman bin Affan yang
secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf)
Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar berhasil),
tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu
edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang
diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).

Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu versi Alquran,
yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini benar-benar
terwujud (entah kapan), maka itulah pertama kali kaum Muslim (baru)
boleh mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu Alquran yang utuh dan
seragam.

Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Alquran
(qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini.
Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang
bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dari
Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak
beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak beredar
di Basrah. Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari
Asim.

Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini
muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama hingga ketiga)
akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami mushaf yang beredar
pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni himpunan
atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.

Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan
satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan “Mushaf
Uthmani,” pada masa itu telah beredar puluhan –kalau bukan ratusan–
mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi. Beberapa sahabat
Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain,
baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun jumlah ayat dan
surah.
Ibn Mas’ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf
Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama).
Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist,
mushaf Ibn Mas’ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan
surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada sekarang. Misalnya, surah
keenam bukanlah surah al-An’am, tapi surah Yunus.

Ibn Mas’ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah
sebagai bagian dari Alqur’an. Sahabat lain yang menganggap surah
“penting” itu bukan bagian dari Alquran adalah Ali bin Abi Thalib yang
juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing
perdebatan di kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian
dari Alquran atau ia hanya merupakan “kata pengantar” saja yang
esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.

Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai
bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama
lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah
hanyalah “ungkapan liturgis” untuk memulai bacaan Alqur’an. Ini
merupakan tradisi populer masyarakat Mediterania pada masa awal-awal
Islam. Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: “siapa saja yang tidak
memulai sesuatu dengan bacaan alhamdulillah [dalam hadis lain
bismillah] maka pekerjaannya menjadi sia-sia.”

Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa
dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh
Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata
berikut: “pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah
Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni
73 ayat].” Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka’b, sahabat
Nabi yang lain, yang di dalam mushafnya ada dua surah yang tak
dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal’ dan al-Hafd.

Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia
memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani)
dibakar dan dimusnahkan. Sebagian besar mushaf yang ada memang
berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat. Salah satunya,
seperti kerap dirujuk buku-buku ‘ulum al-Qur’an, adalah mushaf Hafsah,
salah seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada masa
pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh tahun kemudian.

Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu secara fisik
dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa dimusnahkan dari
memori mereka atau para pengikut mereka, karena Alquran pada saat itu
lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang menjelaskan
maraknya versi bacaan yang beredar pasca-kodifikasi Uthman. Buku-buku
tentang varian-varian bacaan (kitab al-masahif) yang muncul pada
awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah, adalah bukti tak terbantahkan
dari masih beredarnya mushaf-mushaf klasik itu. Dari karya mereka
inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah dimusnahkan hidup kembali
dalam bentuk fisik (teks tertulis).

Sejarah penulisan Alqur’an mencatat nama-nama Ibn Amir (w. 118 H),
al-Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam (w. 229 H),
Abi Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi Daud (w. 316
H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf klasik
dalam karya masahif mereka (umumnya diberijudul kitab al-masahif atau
ikhtilaf al-masahif). Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10 mushaf
sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut (tabi’in) sahabat Nabi.

Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh kenyataan
bahwa mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai kota Islam tidak
sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi orang yang tidak
pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk
kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak sedikit dari
pemegang otoritas itu adalah para pewaris varian bacaan non-Uthmani.

Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan
banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim
pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah
bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks. Dari
sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya
titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present
(mudhari’) dari kata a-l-m bisa dibaca yu’allimu, tu’allimu, atau
nu’allimu atau juga menjadi na’lamu, ta’lamu atau bi’ilmi.

Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat pemahaman makna,
dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf
Ibn Mas’ud berulangkali menggunakan kata “arsyidna” ketimbang “ihdina”
(keduanya berarti “tunjuki kami”) yang biasa didapati dalam mushaf
Uthmani. Begitu juga, “man” sebagai ganti “alladhi” (keduanya berarti
“siapa”). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata dan arti yang
berbeda, seperti “al-talaq” menjadi “al-sarah” (Ibn Abbas), “fas’au”
menjadi “famdhu” (Ibn Mas’ud), “linuhyiya” menjadi “linunsyira”
(Talhah), dan sebagainya.

Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun
322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn
Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban.
Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn
Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni
Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam), Abu Amr
(Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah). Tindakannya
ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran diturunkan
dalam tujuh huruf.”

Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya
telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain yang dianggap
lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat itu
memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan
Ibn Shanabudh yang pandangan-pandangannya dikesampingkan Ibn Mujahid
karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid
dan Ibn Shanabudh.

Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya pengaruh. Sejarah
membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang
kini diterima orang banyak (atau dengan sedikit modifikasi menjadi 10
atau 14 varian). Alquran yang ada di tangan kita sekarang adalah salah
satu varian dari apa yang dipilihkan oleh Mujahid lewat tangan
kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs. Sementara itu,
varian-varian lain, tak tentu nasibnya. Jika beruntung, ia dapat
dijumpai dalam buku-buku studi Alquran yang sirkulasi dan pengaruhnya
sangat terbatas.

Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya
paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya yang
konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan
diketahui secara bebas. Mereka bahkan berusaha menutup-nutupi dan
mengaburkan sejarah, atau dengan memberikan apologi-apologi yang
sebetulnya tidak menyelesaikan masalah, tapi justru membuat
permasalahan baru.

Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi “Alquran diturunkan dalam
tujuh huruf” dengan cara menafsirkan “huruf” sebagai bahasa, dialek,
bacaan, prononsiasi, dan seterusnya yang ujung-ujungnya tidak
menjelaskan apa-apa. Saya sependapat dengan beberapa sarjana Muslim
modern yang mengatakan bahwa kemungkinan besar hadis itu adalah
rekayasa para ulama belakangan untuk menjelaskan rumitnya
varian-varian dalam Alquran yang beredar. Tapi, alih-alih menjelaskan,
ia malah justru mengaburkan.
Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek, bacaan,
prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa angka tujuh
hanyalah simbol saja untuk menunjukkan “banyak,” ini lebih parah lagi,
karena menyangkut kredibilitas Tuhan dalam menyampaikan ayat-ayatnya.

Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan, baik yang
berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis penulisan dan
tatabahasa) merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim (apa adanya)?
Jika tidak terkesan rewel dan simplistis, pandangan ini jelas tak
bertanggungjawab, karena ia mengabaikan fakta kaum Muslim pada
awal-awal sejarah Islam yang sangat dinamis.

Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari surah al-Fatihah
hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang diturunkan
kepada Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa ma’nan)? Seperti saya
katakan di atas, keyakinan semacam ini hanyalah formula teologis yang
diciptakan oleh para ulama belakangan. Ia merupakan bagian dari proses
panjang pembentukan ortodoksi Islam.

Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah
yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses
“copy-editing” oleh para sahabat, tabi’in, ahli bacaan, qurra,
otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses ini pada dasarnya
adalah manusiawi belaka dan merupakan bagian dari ikhtiyar kaum Muslim
untuk menyikapi khazanah spiritual yang mereka miliki.

Komentar oleh doel

@Doel : Hi Hi Hi, anak pinter-anak pinter. Kalo kamu sedemikian ahli biarpun cuma nyontek omongannya Lutfi mengenai kodifikasi atau pengumpulan ayat2 AlQuran. Coba kamu jelaskan bagaimana dengan Alkitab yang ada sekarang. Saya ini bodoh banget, tapi saya kan masih semangat belajar. Hik Hik. Maukah anda menolong saya menceritakan bagaimana kejadian sebenarnya sehingga Alkitab yang ada sekarang ini bisa terbentuk sebagaimana ada sekarang. Prosesnya gimana yah ?

Komentar oleh lovepassword

@lovepassword
Saya akan tuliskan disini melalui “PERBANDINGAN SEJARAH AL-QUR’AN DAN INJIL (PERJANJIAN BARU)” yang diilhami dari buku A. Ibrahim yang aslinya berjudul “THE HISTORY OF THE QURAN AND THE INJIL”. Namun saya telah menambahkan cukup banyak materi yang tidak ada dalam tulisan aslinya.
Dalam menulis tentang Al-qur’an, saya menggunakan banyak pandangan muslim tradisional, sekalipun dalam banyak hal saya sebetulnya tidak menyetujuinya, intinya disini dengan rendah hati saya melihatnya dari kacamata sejarah:

I. WAKTU PENURUNANNYA

I.1. QUR’AN

Wahyu mulai diterima oleh Muhammad SAW dari sekitar 610 M hingga beberapa waktu menjelang meninggalnya beliau di 8 Juni 632 M. Jadi penurunan wahyu dan kenabian Muhammad SAW terjadi sekitar 23 tahun.

I.2. INJIL

Yesus mulai pelayanannya di sekitar tahun 26 M. Ini diketahui dari :
Injil Lukas 3 : 1 yang menyatakan awal pelayanan “….. dalam tahun ke 15 pemerintahan kaisar Tiberius ….”.
Sejarah sekuler mencatat bahwa kaisar Tiberius mulai memerintah di tahun 11 M.
Jadi 11 M + 15 tahun = 26 M
Lama pelayanan Yesus adalah 3 tahun yang dicatat dalam Yoh 2, 6 dan 12 yang menyebutkan 3 masa paskah yang dilalui oleh Yesus.
Berarti masa pelayanan Yesus adalah dari tahun 26 M – 29 M.

II. PENGHAFALAN dan PENYEBARAN SECARA LISAN

II.1. AL-QUR’AN

Selama masa penerimaan wahyu, rasulullah mendiktekan kepada sahabat-sahabatnya dan mereka menghafalkannya. Ini tercatat dalam :

1. Bukhari, VI, no. 546 : “Yang terutama diantara kamu adalah mereka yang menghafal Al-Qur’an dan mengajarkannya”

2. Bukhari VI no. 106 : “Menurut Ibn Mas’ud. Rasulullah memerintahkan aku, “Bacalah Al-Qur’an untukku”. Aku berkata, “Apakah aku harus membacakannya kepadamu karena aku menerima dari kamu?”. Rasulullah berkata, “Bacalah, aku ingin mendengarnya dari orang lain …”

Wahyu yang diterima oleh Muhammad SAW diturunkan dan dijaga secara lisan selama sekitar 43 tahun dari 610 M hingga sekitar 653 M saat Usman menuliskan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Selama sekitar 23 tahun pertamanya, disaat Muhammad SAW masih hidup dirasa tidak perlu adanya rekaman tertulis karena Muhammad SAW dapat mengkonfirmasikannya.

Beberapa sahabat menghafalkan Al-Qur’an melalui bimbingan Muhammad SAW sendiri, beberapa nama yang tercatat adalah Abu Bakr, Umar, Usman, Ali, Ibn Masud, Abu Huraira, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin al-As, Aisha, Hafsa and Umm Salama. (“Itqan” Suyuti, I, h.124)

Setelah Muhammad SAW meninggal, diklaim bahwa sahabat-sahabat masih dapat saling mencocokkan hafalannya.

Sejarah Islam kemudian mencatat invasi yang sangat cepat keluar wilayah dalam 25 tahun setelah hijrah. Damaskus direbut 13 H, Persia di 14 H, sementara Mesir direbut 19 H. Sementara sekitar 25 H invasi telah mencapai Turki. Ini menyebabkan bertambahnya pemeluk Islam yang bukan berasal dari bangsa Arab dan akan menimbulkan masalah karena mereka tidak mengalami langsung kehidupan bersama rasulullah. Kejadian ini mendorong kebutuhan akan rekaman tertulis Al-Qur’an.

II.2. INJIL

Apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Yesus diingat oleh murid-muridnya dan oleh mereka yang mendengar dan menyaksikan.

Hal ini dapat dipastikan dengan mempertimbangkan 2 hal :
1. Murid-murid Yesus adalah orang-orang Yahudi yang memiliki tradisi menghafal kitab suci dan ajaran-ajaran rabi mereka. Menurut Mishna (kitab peraturan hidup dan tafsir Taurat) : Murid yang baik adalah seperti tanki yang tidak bocor satu tetespun.

2. Lukas 6 : 46 dan 49 tertulis “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? dan “ Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”.

Untuk bisa melaksanakan tentu saja orang harus hafal apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Yesus.

Injil diturunkan secara lisan selama sekitar 29 tahun, mulai dari 26 M hingga 55 M ketika buku pertama dari Perjanjian Baru (PB) ditulis oleh rasul Paulus yaitu 1 Korintus (ada yang berpendapat Galatia ditulis sekitar 48 M).

Sekalipun tidak semua pakar sependapat, namun ada yang berpendapat tentang masa penulisan kitab-kitab PB sebagai berikut :

1. A.T. Robinson
Redating the New Testament, 1976.
“Seluruh kitab-kitab PB telah dituliskan sebelum kehancuran Yerusalem ditahun 70 M”

2. W.F. Albright
Recent Discoveries in Bible Lands, 1955, halaman 136
“atau selambat-lambatnya telah selesai ditulis sebelum tahun 80 M”

3. G. Van Schie
Dikutip dari :
Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani
G. Van Schie
Penerbit Obor, Jakarta, 1994
Akar Gereja Kristiani, halaman 397 – 398
Pada halaman berikut saya mencoba menggabungkan pendpat beberapa pakar mengenai waktu terbitnya aneka tulisan Kristiani abad pertama……
48 …… Galatia
50 …… I Tesalonika dan II Tesalonika
55 …… Yakobus
55/56 … Filipi, Efesus, Kolose, Filemon
56 …… I Korintus dan II Korintus
57 …… Roma
63/65 … I Timotius dan II Timotius
65 …… I Petrus
75 …… Matius
80 …… Lukas, KPR, I Yohanes, II Yohanes, III Yohanes
80? ….. Ibrani
90 …… Yohanes dan Wahyu
90 …… II Perus

Namun pakar –pakar umumnya setuju bahwa penulisan sebagian besar kitab-kitab PB terjadi antara 55 M – 70 M.

Setelah Yerusalem dihancurkan oleh Jenderal Titus ditahun 70 M, maka pusat kekristenan beralih dari Yerusalem menuju ke wilayah Asia Kecil (Turki) dan ke Roma seperti tercatat dalam KPR 2, 11 dan 18. Ini menyebabkan bertambahnya pemeluk Kristen yang bukan berasal dari bangsa Yahudi dan tidak memiliki latar belakang Yahudi. Kejadian ini mendorong kebutuhan akan rekaman tertulis Injil dan pengajaran Yesus.

III. PENULISAN CATATAN-CATATAN AWAL

III.1. AL-QUR’AN

Wahyu yang diterima oleh Muhammad SAW dituliskan dalam media yang bermacam-macam (kulit, batu, kertas dll).
Namun tulisan itu tidaklah dikumpulkan dalam satu buku. Ini dikuatkan dengan kesaksian Zaid bin Tsabit ketika diperintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur’an dan dia mulai mengumpulkan dari berbagai macam bahan dan dari ingatan sahabat-sahabatnya.
Wahyu yang diterima oleh Muhammad SAW tidak ditulisnya sendiri melainkan oleh Zaid bin Tsabit sebagaimana terekam dalam hadis berikut :

Bukhari VI no. 512
“Panggilkan Zaid kemari dengan membawa alat tulis”. Kemudian Rasulullah bersabda, “Tulis : Tidaklah sama mereka yang percaya ….”

Atau sumber yang berikut yang menginformasikan adanya tulisan Al-Qur’an sekalipun tidak dijelaskan kondisinya :

Sahifa Hammam ibn Munabbih
Hamidullah, 1979, halaman 64 :
“ketika orang datang ke Medina untuk belajar Islam, mereka disediakan copy dari surah-surah Al-Qur’an untuk dibaca dan dipelajari” .”

III.2. INJIL

Apa yang dikatakan oleh Yesus sangat mungkin telah dituliskan dengan mendasarkan pada :
1. Kesaksian dari Papias, seorang murid rasul Yohanes, yang menuliskan antara 120 M – 130 M yang terekam dalam buku kuno “Church History” V.33,4.1, oleh Eusebius (270 M – 340 M).
“Matius mengumpulkan perkataan-perkataan Yesus dalam bahasa Ibrani”

2. Dalam Lukas 1 : 1 tertulis, “… banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi diantara kita”.
Kitab Lukas ini ditulis antara 60 M – 63 M. Ayat diatas mengindikasinya adanya pencatatan-pencatatan yang dilakukan sebelum Lukas menuliskan injilnya.

Jadi sangat masuk akal bahwa perkataan-perkataan Yesus telah dicatatat oleh beberapa orang selama hidupnya.

IV. PENULISAN KITAB

IV.1. AL-QUR’AN

Catatan-catatan Al-Qur’an telah dituliskan disaat Muhammad SAW masih hidup namun tidak dikumpulkan dalam satu buku. Justru pengumpulan dalam bentuk buku kemudian dilakukan oleh sahabat-sahabat nabi yang masing-masing membuat koleksi mushafnya sendiri-sendiri

Sumber :
Rekonstruksi Sejarah Al-qur’an
Taufik Adnan Amal
FKBA, Agustus 2001, halaman 158 – 159

Skema mushaf-mushaf awal ini – baik mashahif primer maupun sekunder – dapat dikemukakan sebagai berikut :

A. Mushaf Primer

1. Mushaf Salim ibn Ma’qil
2. Mushaf Umar ibn Khatab
3. Mushaf Ubay ibn Ka’b
4. Mushaf Ibn Mas’ud
5. Mushaf Ali ibn abi Thalib
6. Mushaf Abu Musa al Asy’ari
7. Mushaf Hafsah bint Umar
8. Mushaf Zaid ibn Tsabit
9. Mushaf Aisyah bint Abu Bakar
10. Mushaf Ummu Salamah (w. 59 H)
11. Mushaf Abdullah ibn Amr (w. 65 H)
12. Mushaf Ibn Abbas
13. Mushaf Ibn Zubayr
14. Mushaf Ubayd ibn Umair (w. 74 H)
15. Mushaf Anas ibn Malik (w. 91 H)

B. Mushaf-mushaf sekunder :

1. Mushaf Alqama ibn Qais (w. 62 H)
2. Mushaf al Rabi ibn Khutsaim (w. 64 H)
3. Mushaf al-Harits ibn Suwaid (w. 70 H)
4. Mushaf al-Aswad ibn Yazid (w. 74 H)
5. Mushaf Hiththan (w. 73 H)
6. Mushaf Thalhah ibn Musharrif (w. 112 H)
7. Mushaf al-A’masy (w. 148 H)
8. Mushaf Said ibn Jubayr (w. 94 H)
9. Mushaf Mujahid (w. 101 H)
10. Mushaf Ikrimah (w.105 H)
11. Mushaf Atha ibn Abi Rabah (w. 115 H)
12. Mushaf Shalih ibn Kaisan (w. 144 H)
13. Mushaf Jafar al-Shadiq

Daftar tersebut dikutip dari buku Kitab al-Mashahif yang disusun oleh Ibn Abi Dawud (w. 316 H).

Antar mushaf sahabat tersebut memang tidak sama seperti terekam dalam pandangan dibawah ini.

Sumber :
http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=447
Merenungkan Sejarah Alquran
Luthfi Assyaukanie.
Dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Paramadina, Jakarta

Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan “Mushaf Uthmani,” pada masa itu TELAH BEREDAR PULUHAN –KALAU BUKAN RATUSAN — mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi. Beberapa sahabat Nabi memiliki MUSHAFNYA SENDIRI-SENDIRI YANG BERBEDA SATU SAMA LAIN, baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun jumlah ayat dan surah.

IV.2. INJIL

Pengajaran Yesus tidak ditulis sendiri olehNya, melainkan oleh muridnya, yang tercatat menuliskan adalah Matius sesuai kesaksian murid rasul Yohanes yaitu Papias. Ke 4 Injil adalah hasil tulisan yang menginformasikan ucapan-ucapan dan tindakan Yesus yang ditulis oleh 4 orang yaitu Matius, Markus, Lukas (juga menulis Kisah Para Rasul) dan Yohanes (juga menulis 1,2 dan 3 Yohanes dan Wahyu). Mereka menuliskan dengan inspirasi dari Tuhan (2 Petrus 20 – 21) bagi komunitas yang berbeda-beda.

Mereka menuliskan dengan cara dan gaya penulisan mereka sendiri-sendiri sesuai dengan komunitas yang mereka layani. Sebagian besar penulis-penulis ini adalah saksi mata langsung dari apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Yesus.
Antar ke 4 Injil memang tidak identik karena dituliskan oleh 4 orang yang berbeda.

Sejarah mencatat bahwa pernah ada usaha oleh Tatianus untuk membuat satu buku karangan Injil yang mensinergikan ke 4 Injil tersebut.

Sumber :
Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani
G. Van Schie
Penerbit Obor, cetakan 1, jilid 1, halaman 424 :

Sekitar tahun 170 Tatianus mengarang buku yang berjudul Diatessaron, semacam injil pukul rata, dengan mengambil unsur dari keempat karangan Injil dan dari beberapa sumber lainnya.

Namun kitab Diatessaron ini tidak pernah digunakan oleh bapa-bapa gereja karena jelas adalah karangan belakangan.

Waktu penulisan kitab-kitab PB (sumber program Alkitab ver. 2.7)
Injil Matius : 60 an M
Injil Markus : 55 M – 65 M
Injil Lukas : 60 M – 63 M
Injil Yohanes : 80 M – 95 M
KPR : 63 M
Roma : 57 M
1 dan 2 Korintus : 55 M – 56 M
Galatia : 48 M
Efsus : 62 M
Filipi : 63 M
Kolose : 62 M
1 dan 2 Tsalonika : 52 M – 53 M
1 dan 2 Timotius : 65 M – 67 M
Titus : 65 M – 66 M
Filemon : 62 M
Ibrani : 67 M – 69 M
Yakobus : 49 M (ada yang berpendapat 55 M)
1 dan 2 Petrus : 60 M – 68 M
1 – 3 Yohanes : 85 M – 95 M
Yudas : 70 M – 80 M
Wahyu : 90 M – 96 M

V. STANDARISASI

V.1. AL QUR’AN

Ketika terjadi perang Yamama ditahun 633, sejumlah muslim meninggal sehingga dikuatirkan bahwa sebagian Al-Qur’an akan hilang bersamaan dengan meninggalnya penghafal Al-Qur’an tersebut. Maka Abu Bakar meminta Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an dan menuliskannya ulang.Mushaf ini kemudian disimpan oleh khalifah Umar dan kemudian oleh Hafsah.

Sekitar tahun 653 M, terjadi ekspedisi ke Armenia dan Azerbaijan. Diantara pasukan Muslim terjadilah pertikaian bacaan Al-Qur’an. Hal ini dilaporkan oleh Hudzaifah bin Yaman kepada Usman yang kemudian memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk menuliskan lagi mushaf dengan mendasarkan dari mushaf yang disusun sendiri oleh Zaid bin Tsabit dan sekarang disimpan oleh Hafsah.

Setelah selesai dibuat, mushaf asli disimpan di Medinah, 4 copy dikirim ke Mekah, Syria, Basrah dan Kufah.
Usman kemudian mengambil langkah drastis dengan memusnahkan seluruh salinan Al-Qur’an yang lainnya dalam bentuk apapun. Sementara mushaf milik hafsah sendiri akhirnya dimusnahkan oleh Marwan bin al Hakam segera setelah Hafsah meninggal di tahun 54 H (664 M).

Jadi di sekitar tahun 653 M itulah Al-Qur’an yang resmi dinyatakan.

Teks mushaf yang dihasilkan oleh Usman adalah teks konsonan dasar yang tidak dilengkapi dengan vocal dan titik diakritis yang membedakan konsonan bersimbol sama. (15 huruf konsonan dapat dibaca dengan 28 cara berbeda).
Dari teks dasar ini kemudian tulisan al-Qur’an berkembang dimana diwilayah-wilayah mulai menambahkan vocal dan titik diakritisnya masing-masing. Dalam penambahan vocal dan titik diakritis dibanyak daerah ini ternyata berjalan tidak seragam.

Dikutip dari Luthfi A dari Islamlib :

Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H (944 M), Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni :
1. Nafi (Madinah)
2. Ibn Kathir (Mekah)
3. Ibn Amir (Syam)
4. Abu Amr (Bashrah)
5. Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah).

Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf.”

Selain kiraah 7 diatas, kemudian dikenal juga kiraah 10 dan kiraah 14. Tambahan versi kiraah adalah :
• Kufa
Selain 3 versi kiraah diatas, ternyata masih ada lagi yaitu kiraah Khalaf ibn Hisyam al Bazzar.

• Madinah,
Selain kiraah Nafi ada lagi kiraah versi Abu Jafar al Makhzumi al Madani.

• Mekkah
Selain kiraah Ibn Kathir, ada lagi kiraah Muhammad ibn Abd al Rahman al Makki.

• Basrah
Selain kiraah Abu Amr, ada lagi kiraah Yaqub al Hadlrami, kiraah Abu Muhammad Yahya ibn al Mubarak dan kiraah Abu Said al Hasan ibn Yasar.

Dengan berjalannya waktu, maka dari 14 kiraah tersebut, hanya 2 yang tetap mampu menjaga popularitasnya yaitu kiraah an Ashim dan an Nafi.

Kecenderungan standarisasi semakin mengkristal sejak ditemukannya mesin cetak pada abad ke 15. Dari kiraah tujuh, hanya 2 yang yang dicetak dan digunakan secara luas, yaitu versi an Ashim dan versi an Nafi.
Pencetakan Al-Qur’an versi standard Mesir tahun 1923 mendasarkan pada versi an Ashim telah menjadikannya semacam supremasi kanon Al-Qur’an. Versi inilah yang
sekarang dugunakan secara sangat luas oleh masyarakat Islam.

Jadi dalam sejarah Al-Qur’an dilakukan 2 kali standarisasi :
Pertama :
Standarisasi dari berbagai mushaf sahabat. Dari sekian banyak mushaf distandarkan menjadi satu mushaf yaitu mushaf Usman.

Kedua :
Standarisasi dari variasi bacaan mushaf Usman akibat perbedaan penambahan huruf hidup dan pembeda konsonan. Digunakan adalah qiraah an Ashim, namun penulisannya di Mesir tahun 1923 / 1924 tidak mendasarkan dari mushaf kuno manapun melainkan diklaim sebagai murni hasil hafalan.

V.2. INJIL

Proses standarisasi dalam Injil berbeda karena yang distandarkan adalah kitab-kitab mana yang bisa diterima sebagai kitab suci. Proses ini dinamakan : KANONISASI.

Proses ini sudah dimulai sekitar pertengahan abad ke 2 M dimana saat itu mulai bermunculanlah bidat-bidat dalam kekristenan dan bidat-bidat tersebut mulai menyusun kitab-kitab mereka sendiri. Beberapa kitab-kitab bidat tersebut antara lain Injil Petrus (aliran anti Yahudi), Injil Orang Mesir (aliran Sabelius), Injil Ebionit (aliran Ebionit) dan Injil Arab tentang Masa Kecil.
Salah satu yang paling awal tercatat membuat kanon adalah Marcion yang menyusun kanonnya di tahun 144 M yang hanya menerima Injil Lukas dan Surat-Surat Paulus.

Munculnya bidat-bidat ini menyebabkan gereja merasa perlu untuk menentukan daftar kitab-kitab yang dinyatakan suci.

Dasar-dasar penentuannya :
Sumber :
Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Baru
Drs. M.E. Duyverman
PT BPK Gunung Mulia, cetakan 13 tahun 2000, halaman 235 :

V.2.1. Apakah kitab-kitab tersebut berasal dari rasul (langsung atau tidak langsung : maksudnya dari murid rasul / sahabat rasul) dan didukung tradisi gereja

Bagaimana mengetahui tulisan berasal dari rasul (lansung maupun tidak langsung)
Kriterianya adalah :

Sumber :
Memahami Perjanjian Baru
Pengantar Historis dan Teologis
John Drane
PT BPK Gunung Mulia, 2001, Bab D 10, 11 dan 12

Komentar-komentar bapa gerejawi yang paling awal.

A. Injil Matius
Komentar tertua dari Papias murid rasul Yohanes (lahir 40 M – 130 M) “Matius menulis Logia dalam bahasa Ibrani dan masing-masing menafsirkan menurut kesanggupannya”.

B. Injil Markus
Komentar tertua dari Papias murid rasul Yohanes (lahir 40 M – wafat 130 M) dalam buku History bab III subab 39 sbb : “Markus adalah penterjemah Petrus, ia menulis secara teliti, tetapi tidak secara berurutan, sebanyak mungkin dari apa yang dapat diingatnya tentang hal-hal yang dikatakan dan dilakukan oleh Kristus”

C. Injil Lukas
Komentar tertua berasal dari Clement dari Alexandria (murid rasul Petrus dan rasul Paulus) yang menjadi Uskup di Roma tahun 92 M – 101 M menyebutkan Lukas sebagai penulisnya. Lukas sendiri adalah teman seperjalanan rasul Paulus (Kolose 4 : 14, Filemon 24 : 2 dan 2 Tim 4 :11)

D. Injil Yohanes
Komentar dari Ireneus (115 M – 180 M) sbb : “Yohanes, murid Tuhan, yang duduk dekat Dia waktu makan bersama menerbitkan Injil itu waktu ia ada di Efesus di Asia”

Kriteria ke 2 menurut Duyverman adalah :

V.2.2. Apakah kitab itu dipergunakan oleh umum di dalam gereja ?

Kriterianya adalah :
Apakah sering dikutip oleh bapa-bapa gereja kuno.?

Sumber :
Apologetika Vol 1
Josh Mac Dowell
Gandum Mas, 2002, halaman 95

Pengutipan Perjanjian Baru oleh Para Bapak Gereja Pertama
Justinus Martyr (95 M – ?), mengutip 330 kali
Clement Alexandria (Uskup Roma 92 M – 101 M), mengutip 2406 kali
Ireneus (115 – 180), mengutip 1819 kali
Tertulianus (150 M – 220 M), mengutip 7258 kali
Hippolytus (170 M – 235 M), mengutip 1378 kali
Origenes (185 M – 254 M), mengutip 17922 kali
Eusebius (270 M – 340 M), mengutip 5176 kali

Kriteria ke 3 menurut Duyverman adalah :

V.2.3. Apakah kitab tersebut tua

Penanggalan konservatif
Injil Matius : 60 an M
Injil Markus : 55 M – 65 M
Injil Lukas : 60 M – 63 M
Injil Yohanes : 80 M – 95 M

Jadi ada banyak kriteria ketat yang diterapkan sebelum satu kitab dapat dinyatakan sebagai kitab suci.

Dalam perjalanan sejarah, ada cukup banyak kanon yang tercatat.

Beberapa kanon kuno sebelum konsili Nicea tahun 325 M adalah :
(Agar obyektif, bahan ambil dari artikel Canon Of The Bible, sumber dari situs Islamic Awareness yang diasuh oleh DR Saifullah sbb )

1. Kanon Muratori (sekitar tahun 180 M)
Dikutip dari buku Das Muratorische Fragment und die Monarchianischen Prologue zu den Evangelien (Kleine Texte, .I; Bonn, 1902; 2nd ed., Berlin, 1933.)
Sayang kutipan dari situs Islamic Awareness tidak lengkap dimana baru mengutip saat menyebutkan Injil yang ke tiga)

….. (2) The third book of the Gospel is that according to Luke. (3) Luke, the well-known physician, after the ascension of Christ, (4-5) when Paul had taken him with him as one zealous for the law, (6) composed it in his own name, according to [the general] belief. Yet he himself had not (7) seen the Lord in the flesh; and therefore, as he was able to ascertain events, (Cool so indeed he begins to tell the story from the birth of John. (9) The fourth of the Gospels is that of John, [one] of the disciples …… It is necessary (47) for us to discuss these one by one, since the blessed (4Cool apostle Paul himself, following the example of his predecessor (49-50) John, writes by name to only seven churches

Injil yang ketiga adalah menurut Lukas. (3) Lukas, seorang tabib yang terkenal, setelah kenaikan Kristus (4 – 5), ketika Paulus telah mengajaknya sebagai seorang yang taat terhadap hukum, (6) mengarang Injil menurut namanya, menurut kepercayaan (umum). ……. (9) Injil yang keempat adalah menurut Yohanes, (satu) dari murid-murid. …….. Adalah penting (47) bagi kita untuk mendiskusikan satu demi satu, karena Rasul Paulus yang diberkati, dengan mengikuti jejak pendahulunya (49 – 50) Yohanes, menulis dengan nama kepada hanya 7 gereja ………

2. Kanon Origenes (185 M – 254 M)

Dari laporan yang kompleks dari Eusebius dalam bukunya Ecclesiastical History, Vl. XXV. 3-14.
(4) ‘Among the four Gospels, which are the only indisputable ones in the Church of God under heaven, I have learned by tradition that first was written that according to Matthew, who was once a tax collector but afterwards an apostle of Jesus Christ, who published it for those who from Judaism came to believe, composed as it was in the Hebrew language. (5) Secondly, that according to Mark, who composed it in accordance with the instructions of Peter, who in the catholic Epistle acknowledges him as a son, saying, “She that is in Babylon, elect together with you, salutes you, and so does Mark, my son” (1 Pet. V. 13). (6) And thirdly, that according to Luke, the Gospel commended by Paul (cf. 2 Cor. viii. 1Cool and composed for those who from the Gentiles [came to believe]. After them all, that according to John.’
‘But he who was made sufficient to become a minister of the new covenant, not of the letter but of the Spirit (cf. 1 Cor. III. 6), that is, Paul, who “fully preached the gospel from Jerusalem and round about even unto Illyricum”
………
(4) Dari ke 4 Injil, yang tidak diragukan oleh Gereja Tuhan dibawah surga, aku telah mempelajari bahwa berdasarkan tradisi, yang pertama adalah yang ditulis menurut Matius, ………. (5) Yang kedua adalah menurut Markus, ……………. (6) Dan yang ketiga, menurut Lukas, ……. Setelah itu, adalah menurut Yohanes.
………
Tetapi dia yang telah dicukupkan untuk menjadi seorang pendeta perjanjian baru, tidak karena tulisan tetapi karena roh (cf. 1 Cor. III. 6), adalah Paulus, yang telah mengabarkan injil dari Yerusalem dan sekitarnya hingga Illyricum. ……

3. Kanon Eusebius dari Kaisarea (265 M – 340 M)

( Dikutip dari buku Eusebius Ecclesiastical History, III. xxv. 1-7.).

At this point it seems appropriate to summarize the writings of the New Testament which have already been mentioned. In the first place must be put the holy quaternion of the Gospels, which are followed by the book of the Acts of the Apostles. (1) After this must be reckoned the Epistles of Paul

Saat ini cukup beralasan untuk menyimpulkan tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang telah disebutkan sebelumnya. Yang pertama adalah keempat Injil yang suci, yang diikuti dengan Kisah Para Rasul. (1) Setelah itu harus ……… dari Rasul Paulus …..

4. Kanon yang tidak diketahui namanya, terdapat dalam kodeks Claromontanus

Kanon ini diperkirakan sekitar tahun 300 M.

[Daftar kitab Perjanjian Lama diikuti dengan :]
Empat Injil :
-. Matius, 2600 baris
-. Yohanes, 2000 baris
-. Markus 1600 baris
-. Lukas, 2900 baris

Jadi dari kutipan 4 kanon diatas dapat disimpulkan :
1. Penentuan ke 4 Injil dan kitab-kitab PB lainnya adalah berdasarkan tradisi jemaat mula-mula (abad pertama masehi) dimana ke 4 Injil diterima secara luas.

2. Penerimaan ke 4 Injil oleh gereja secara umum telah terjadi jauh sebelum peristiwa konsili Nicea yang baru diadakan pada tahun 325 M.

3. Surat-surat rasul Pauluspun telah diterima secara luas sebagaimana tercatat dalam kanon Muratori (180 M)

Konsili hanya mengesahkan saja kanon yang sudah lama diakui dan disahkan oleh jemaat-jemaat gereja.
Pengesahan itu terekam dalam beberapa peristiwa :

Pertama :
Athanasius dari Iskandariyah (367 M.) memberikan kepada kita daftar tertua kitab-kitab Perjanjian Baru yang sama dengan daftar Perjanjian Baru kita saat ini. Daftar tersebut dicantumkannya dalam surat yang ditujukan kepada gereja-gereja.

Kedua :
Setelah itu ada konsili Hippo (393 M) yang juga menetapkan ke 27 kitab PB.
Kemudian dilakukan lagi pengesahan kanon melalui konsili Karthago di tahun 397 M.

Berikut diberikan rekapitulasi beberapa kanon, yaitu Ireneus (130 – 200), Muratori (170 – 210), Eusebius (270 – 340) dan Athanasius (367). Dikutip hanya untuk kitab PB saja, tanpa kitab-kitab apokrip.

Sumber :
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini
Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992, halaman 506

…………..……………Ireneus…….Muratori..……Eusebius…….Athanasius
Injil Matius ….…… Ada……… …..Ada…………. Ada…………… Ada
Injil Markus ……… Ada………..… Ada…………. Ada…………… Ada
Injil Lukas ….…….. Ada………..… Ada…………. Ada…………… Ada
Injil Yohanes …….. Ada……….… Ada…………. Ada…………… Ada
KPR …….…..……….. Ada…….…… Ada…………. Ada…………… Ada
Roma ……………….. Ada…….…… Ada…………. Ada…………… Ada
1 Korintus ……….. Ada……..…… Ada…………. Ada…………… Ada
2 Korintus ….…….. Ada………..… Ada…………. Ada…………… Ada
Galatia ..……….….. Ada ………… Ada…………. Ada…………… Ada
Efsus ……….….….. Ada…..……… Ada…………. Ada…………… Ada
Filipi …….………….. Ada…..……… Ada…………. Ada…………… Ada
Kolose …..…..……. Ada…..……… Ada…………. Ada…………… Ada
1 Tsalonika …..…. Ada…..……… Ada…………. Ada…………… Ada
2 Tesalonika .…… Ada.………… Ada…………. Ada…………… Ada
1 Timotius …….….. Ada…….…… Ada…………. Ada…………… Ada
2 Timotius ……….. Ada………..… Ada…………. Ada…………… Ada
Titus …….……..….. Ada…..……… Ada…………. Ada…………… Ada
Filemon …………… Ada…..……… Ada…………. Ada…………… Ada
Ibrani …………….. T. Ada….….. T. Ada………. Ada……………. Ada
Yakobus ………….. Ada….…….. T. Ada………. Ada*………….. Ada
1 Petrus ………….. Ada….……… T. Ada………. Ada…………… Ada
2 Petrus ………….. T. Ada…..… T.Ada……….. Ada*………….. Ada
1 Yohanes ….…… Ada…..……… Ada…………. Ada…………… Ada
2 Yohanes ………… Ada…..…….. Ada………….. Ada*…………. Ada
3 Yohanes ……….. T. Ada..…… T. Ada………. Ada*…………. Ada
Yudas ………..…… Ada…..……… Ada………….. Ada*…………. Ada
Wahyu ..….……….. Ada….……… Ada………….. Ada*…………. Ada

Catatan :
Ada* berarti tetap ada sebagian gereja yang tidak menerima otoritas kitab tersebut.

VI. MANUSKRIP KUNO

VI.1. AL-QUR’AN

Ada cukup banyak manuskrip Al-qur’an kuno baik dalam bentuk fragmen atau mushaf. Namun catatan sejarah tidaklah jelas tentang bagaimana nasib dari mushaf Usman berikut copy yang dibuatnya. Umumnya pakar AL-Qur’an dewasa ini berpendapat bahwa mushaf Usman berikut copy yang dia buat juga telah musnah.

VI.1.1. Menurut DR. Subhi As Shalim

Sumber :
Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an
DR. Subhi as Shalih
Pustaka Firdaus, April 2001, hal 101

Dimanakah mushaf salinan Usman saat ini?. Sampai sekarang pertanyaan seperti itu belum dapat dijawab secara memadai. Dekorasi dan gambar-gambar yang memisahkan satu surah dari surah lain atau yang menandai setiap sepersepuluh juz menunjukkan bahwa mushaf pustaka kuno yang dewasa ini berada di didalam perpustakaan nasional di Kairo bukanlah mushaf salinan Usman mengingat bahwa salinan Usman tidak ada hal-hal semacam itu.

VI.1.2. Menurut Taufik Adnan Amal

Sumber :
Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an
Taufik Adnan Amal
FKBA, Agustus 2001, halaman 205 – 206

Terdapat sebuah manuskrip al-Qur’an yang disimpan di masjid al Husain di Kairo. Mushaf ini dinisbatkan kepada Usman dan ditulis dengan tulisan Kufi kuno. Tetapi bisa dikemukakan bahwa naskah tersebut merupakan salinan dari mushaf Usman (Ahmad Adil Kamal, Ulum al-Qur’an, Kairo, 1974 hal. 56). Semisal dengannya adalah manuskrip yang tersimpan di Tashkent ………….

Sejumlah kesimpang siuran tentang mushaf-mushaf utsmani ini pada gilirannya mengantarkan sejumlah sarjana muslim pada keyakinan bahwa naskah-naskah tersebut telah hilang tanpa bekas. Manuskrip-manuskrip kuno yang ada dewasa ini hanya dipandang sebagai salinan sempurna dari mushaf-mushaf usmani. …….

Sejalan dengannya, penelitian-penelitian tentang naskah kuno al-Qur’an mengungkapkan bahwa manuskrip-manuskrip al-Qur’an tertua – baik dalam bentuk lengkap atau hanya sebagian saja – yang ada dewasa ini adalah berasal dari abad ke 2 H.

VI.1.3 Menurut Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah

Sumber :
Studi Ulumul qur’an – Telaah Atas Mushaf Ustmani
Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, terj. Drs. Taufiqurrahman M.Ag.
Pustaka Setia, 2003, halaman 33

Penulis kitab Manahil al-Irfan berkata, “Kami tidak memiliki dalil atau petunjuk yang kuat mengenai keberadaan Mushaf Usmani sekarang, terutama dalil yang menunjukkan tempatnya……. Adapun peninggalan mushaf-mushaf yang tersimpan di khazanah-khazanah kitab dan museum-museum di Mesir yang menurut satu pendapat adalah mushaf Ustmani, kami sangat meragukan kebenarannya karena didalamnya terdapat lukisan-lukisan atau gambar-gambar yang diletakkan sebagai ciri yang membatasi antar surat-surat …… Padahal sebagaimana diketahui, mushaf Ustmani tidak memiliki semua itu, bahkan tidak memiliki titik dan syakal sekalipun.

VI.1.4. Menurut situs Understanding Islam
Begitu pula dengan mansukrip yang ada di Tashkent , manuskrip ini tidak dapat dikatakan mushaf Usman karena mengandung perdedaan dengan Al-Qur’an yang sekarang digunakan.

Sumber :
http://www.understanding-islam.com/related/history.asp

Many Muslims scholars believe that the Samarkand Codex preserved at the Tashkent Library is the one compiled by ‘Uthman (rta). A close examinatikon of the text of this mushaf has shown that it cannot be – since it is different from the codex we have in our hands today.

Banyak pakar-pakar muslim percaya bahwa kodex Samarkand yang disimpan di Perpustakaan Tashkent adalah mushaf yang dibuat oleh Usman. Pemeriksaan teks yang cermat terhadap mushaf ini menunjukkan bahwa mushaf ini TIDAK MUNGKIN MUSHAF USMAN KARENA BERBEDA DENGAN KODEX YANG KITA MILIKI SEKARANG INI.

VI.1.5. Menurut John Gilchrist

Sumber :
Jam’ Al-Qur’an
John Gilchrist, halaman 153

Salinan Al-Qur’an tertua yang ada hingga saat ini bertarikh tidak lebih awal dari 100 tahun setelah Muhammad SAW meninggal

Kesimpulan didasarkan pada tulisan yang digunakan dimana pada 2 manuskrip yang dianggap tertua yaitu Samarkand dan Topkapi ternyata ditulis dengan huruf Kufic, huruf yang digunakan dikota Kufa di Irak.

Kota Kufa sendiri baru didirikan pada tahun 638 oleh khalifah Umar. Baru menjadi kota yang penting saat dijadikan ibu kota kekhalifahan Ali bin Abi Thalib di tahun 656 M – 661 M.
Dalam periode dinasti Umawiyah (661 M – 749 M), kota ini tetap menjadi kota utama. Setelah dimulainya kekuasaan dinasti Abbasiyah (749 M), kota Kufa menjadi ibu kota administrasi selama beberapa tahun.

VI.1.6. Menurut Gerd A. Puin

Gerd A Puin adalah seorang professor dalam bidang kaligrafi Arab dari Universitas Saarland – Saarbrücken, Jerman. Ditahun 1981 beliau dikirim oleh pemerintah Jerman yang bekerja sama dengan pemerintah Yaman untuk melakukan penelitian naskah Al-Qur’an yang ditemukan di sebuah masjid di San’a – Yaman.

Pembangunan masjid ini dilakukan pada tahun 6 H (628 M) ketika nabi mempercayakan pembangunan masjid kepada salah satu sahabatnya. Ditahun 1385H/1972M, hujan lebat terjadi di San’a. Plafond di sisi Barat Laut rusak.

Dalam survei, pekerja menemukan sebuah ruangan bawah tanah yang penuh berisi perkamen dan kertas manuskrip dari salinan qur’an maupun yang bukan salinan qur’an.

Sumber :
Observation on Early Qur’an Manuscripts in San’a
Gerd R. Puin
Bab The Qur’an as a Text halaman 107 – 111 :

“Dalam manuskrip San’ani ini, tidak hanya eksis perbedaan dalam bacaan dengan mushaf Usmani, baik menyangkut vokalisasi ataupun teks konsonantalnya, tetapi juga dalam perhitungan surat, aransemennya dan sejumlah kekususan ortografis”

Namun sayang karena Gerd A. Puin tampaknya tidak bebas untuk mengemukakan penelitiannya sehingga hanya sedikit sekali yang boleh diungkapkan.

Komentar lebih lanjut dari Gerd A. Puin dikutip oleh Toby Lester seorang editor dari the Atlantic Monthly Web site :

“So many Muslims have this belief that everything between the two covers of the Koran is just God’s unaltered word,” he says. “They like to quote the textual work that shows that the Bible has a history and did not fall straight out of the sky, but until now the Koran has been out of this discussion. The only way to break through this wall is to prove that the Koran has a history too. The Sana’a fragments will help us to do this.”

“Begitu banyak muslim yang mempercayai bahwa diantara ke 2 cover Al-Qur’an adalah kata-kata Allah yang tidak pernah berubah. Mereka sering membandingkan dengan kritik teks Alkitab yang menunjukkan adanya factor manusia dalam penulisannya, jadi tidak diturunkan langsung dari Allah seperti Al-Qur’an. Satu-satunya cara untuk menguji pendapat ini adalah dengan membuktikan bahwa Al-Qur’anpun memiliki campur tangan manusia dalam sejarahnya. Manuskrip San’a akan membantu kita dalam melakukan penelitian ini”

VI.2. INJIL (PB)

Setelah dihancurkannya kota Yerusalem ditahun 70 M oleh jenderal Titus, maka pusat kekristenan beralih dari Yerusalem ke Asia Kecil (Antiokhia, Korintus) hingga ke Roma. Kekristenan seolah tercabut dari akar Yahudinya.

Di wilayah-wilayah tersebut kebudayaan Yunani adalah yang digunakan sehari-hari sehingga tidak mengherankan bahwa kekristenan kemudian berkembang bersamaan dengan kebudayaan Yunani (bahasa dan tulisannya) disamping kebudayaan Romawi.

Dalam bidang politis, umat kristenpun selama sekitar 300 tahun pertama abad masehi mengalami penganiayaan yang sangat hebat.

Sejarah mencatat beberapa penghambatan yang dilakukan penguasa Romawi :
 Tahun 70 M : Yerusalem dimusnahkan dan dibakar
 Tahun 112 M : kaisar Trainus melarang agama Kristen
 Tahun 165 M – 180 M : kaisar Marcus Aurelius melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap pemeluk Kristen
 Tahun 235 M – 238 M : kaisar Maximinus membunuhi orang-orang Kristen
 Tahun 257 M : kaisar Valerianus membunuh dan menghancurkan milik orang Kristen
 Tahun 297 M : kaisar Diokletianus memusnahkan milik orang Kristen termasuk membakar salinan-salinan Kitab Suci.

Baru pada tahun 312 M kekaisaran Romawi mulai menjadi kekaisaran Kristen dengan masuk Kristennya kaisar Konstantinus.

Namun toh tetap ada cukup banyak salinan Perjanjian Baru yang sampai pada kita sekarang ini. Secara total ada sekitar 5.500 salinan dalam bahasa Yunani yang terdiri dari fragmen (bagian-bagian saja) maupun gulungan yang mengandung sebagian besar teks PB (kodeks)

Berikut diberikan beberapa daftar kodeks Perjanjian Baru yang bertarikh abad ke 4 hingga 6 M (agar lebih obyektif maka sumber saya ambil dari situs Islamic-Awareness yang diasuh oleh DR Saifullah) :

Sinaiticus 4th London British Museum
Alexandrianus 5th London British Museum
Vaticanus 4th Rome Vatican Library
Ephraemi 5th Paris, France Bibliothèque Nationale
Bezae 5th Cambridge, England University Library
Claromontanus 6th Paris, France Bibliothèque Nationale Basiliensis
Coislinianus 6th Mt. Athos, Greece monastery of the Laura
Washington 5th Washington, DC Smithsonian Institution Freer Museum
Sinopensis 6th Paris, France Bibliothèque Nationale
Borgianus 5th Rome, Italy Collegium de Proppaganda Fide
Freer 4thó5th Washington, DC Smithsonian Institution Freer Museum

Terlihat bahwa tidak ada kodeks yang bertarik sebelum abad ke 4 masehi. Kemungkinan besar karena seluruh kodeks telah musnah saat penghambatan agama Kristen oleh kekaisaran Romawi.

VII. VARIASI BACAAN

VII.1. AL-QUR’AN

Banyak hadis melaporkan adanya sahabat-sahabat nabi menuliskan Al-Qur’an mereka masing-masing. (Itqan, Suyuthi 62). Daftar dituliskan oleh Abi Dawuud.

Diantara mushaf-mushaf pra Usman, terdapat juga variasi-variasi bacaan.

VII.1.1. Ibn Mas’ud

Diantara yang paling terkenal adalah Ibn Masud, yang mengklaim telah menghafal lebih dari 70 sura langsung dari rasulullah.

Namun dalam mushafnya tidaklah terdapat sura 1, sura 113 dan sura 114. (Fihrist, I, hal 53 – 57). Dari mushaf Ibn Masud, dilaporkan ada sekitar 1700 perbedaan dengan mushaf yang sekarang digunakan. (“Materials for the history of the text of the Quran” by A. Jeffry,1937)

VII.1.2. Ubay bin Kaab

Sementara mushaf Ubay bin Kab yang adalah sekertaris rasulullah selama di Medina justru mengandung 2 sura tambahan dan ayat-ayat lainnya (“Itqan I” by Suyuti, p.65; “Masahif” by Ibn Abi Dawud, pages 180-181) yaitu Al-Khal dan Al-Hafd.

Contoh lain adalah QS 33 : 6 yang berbunyi :
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri [1201] dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. ………………….”, dalam mushaf Ubay terdapat tambahan kalimat “dan rasulullah adalah ayah bagi mereka” (“The Holy Quran” by A. Yusuf Ali, 1975, note 3674)

Contoh lain adalah ayat-ayat rajam
Menurut Suyuthi, ayat rajam ini dilaporkan ada dalam mushaf Ubay bin Ka’b [ /B]dan ditempatkan di sura 33.
Bunyi ayat ini adalah :
Apabila seorang laki-laki dewasa dan seorang perempuan dewasa berzina, maka rajamlah keduanya,itulah kepastian hukum dari Tuhan, dan Tuhan maha kuasa
lagi bijaksana

[B]VII.1.3. Abu Musa

Begitu pula mushaf Abu Musa juga terdapat 2 sura tambahan seperti mushaf Ubay bin Kaab yaitu al-Khal dan al Hafd.

Sumber :
Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an
Taufik Adnan Amal
FKBA, 2001, halaman 181

Berbeda dari mushaf Ubay dan Ibn Mas’ud, tidak ada riwayat yang menuturkan tentang susunan surat didalam mushafnya, selain riwayat bahwa 2 surat ekstra yang ada dalam mushaf Ubay – yakni surat Al-Khal dan surat Al Hafd – terdapat dalam mushafnya

VII.1.4. Ibn Abbas :

Begitu pula mushaf Ibn Abbas juga terdapat 2 sura tambahan seperti mushaf Ubay bin Kaab yaitu al-Khal dan al Hafd.

Sumber :
Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an
Taufik Adnan Amal
FKBA, 2001, halaman 183

Salah satu karakteristik mushaf Ibn Abbas adalah eksisnya dua surat ekstra – surat Al-Khal dan Surat Al-Hafd – didalamnya, sebagaimana yang ada dalam mushaf Ubay dan Abu Musa.

Setelah distandarisasi oleh Usman, ternyata masih juga terdapat banyak variasi bacaan.

Menurut Muhammad Hamidullah dalam Kata Pengantar untuk Al-Qur’an terjemahan Perancis (hal. XXXIII), perbedaan itu dapat dikategorikan menjadi 4 golongan :

1. Perbedaan karena kesalahan saat menyalin teks. Ini dapat diverifikasi dengan membandingkan dengan copy lainnya

2. Perbedaan karena memasukkan catatan kaki kedalam Al-Qur’an

3. Perbedaan karena rasulullah memang mengijinkan pembacaan Al-Qur’an dengan dialek yang berbeda-beda

4. Perbedaan karena mushaf Usman disusun tanpa huruf hidup dan tanpa titik diakritis pembeda konsonan yang memiliki simbol sama (dalam tulisan Arab hanya mengenal 15 huruf mati yang melambangkan 28 cara pembacaan)

Kebanyakan variasi bacaan tersebut menurut Muhammad Hamidullah hanya memiliki perbedaan arti yang kecil. Hanya beberapa yang menimbulkan perbedaan besar, misalkan untuk QS 5 : 63 tercatat ada 19 alternative bacaan yang pernah ada, 14 bacaan karena perbedaan saat menambahkan huruf hidup, 5 karena ada penambahan 1 atau 2 konsonan.

VII.2. INJIL (PB)

Ada sekitar 5500 salinan kuno PB dalam bahasa Yunani yang telah ditemukan saat ini baik keseluruhan maupun sebagian. Diantara salinan-salinan tersebut memang terdapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan ini sangat mungkin muncul karena salinan-salinan dibuat dalam kondisi umat Kristen awal yang teraniaya.
Dalam terjemahan modern, ayat-ayat yang mengandung perbedaan itu biasanya dituliskan (dalam tanda kurung).

Beberapa pendapat tentang perbedaan ini :

1. A.T. Robertson
An Introduction to the Textual Criticism of the New Testament”
A.T. Robertson, Broadman, Nashville, 1925, halaman 22 :

A.T. Robertson adalah seorang ahli teks PB berpendapat bahwa perbedaan itu adalah seperseribu dari keseluruhan teks PB.

2. Westcott dan Hort, pendapatnya dikutip dalam buku :
General Introduction to the Bible
L. Geisler and W.E. Nix, Moody Press, Chicago, 1986, halaman 365

Sementara ahli teks PB yaitu Westcott dan Hort yang meneliti variasi bacaan dari banyak naskah-naskah kuno PB menyimpulkan bahwa dari keseluruhan variasi bacaan tersebut yang masih belum dapat dipastikan adalah seperenampuluhnya. Ini menjadikan bahwa 98.33% teks PB adalah tepat.

Berdasarkan banyaknya salinan kuno tersebut, maka dapat ditentukan bacaan mana yang tepat. Kriterianya adalah sbb :

1. Umur dari manuskrip tersebut.
Jika perbedaan muncul di manuskrip yang lebih kemudian, maka variasi bacaan tersebut sangat mungkin tidaklah benar

2. Frekuensi munculnya variasi tersebut.
Jika variasi muncul hanya di beberapa mansukrip, sementara mayoritas manuskrip tidak terdapat variasi tersebut, maka variasi itu seharusnya tidak ada.

3. Kesaksian dari bapa-bapa gereja kuno

Beberapa contoh perbedaan tersebut.

VII.2.1. Markus 16 : 9 – 20.

2 manuskrip paling kuno yaitu Kodeks Sinaitucus dan kodeks Vaticanus tidak menyertakan ayat 9 – 20 ini. Namun di naskah-naskah yang kemudian yaitu kodeks Alexandrinus, Efraemi Rescriptus dan Bezae (ketiganya abad 5 M) teks ini masuk sebagai bagian Markus 16.

Namun ada beberapa alasan dimana umat Kristen bisa meyakini bahwa ayat-ayat ini ada:
1. Kesaksian dari Irenaeus sekitar tahun 180 M.

2. Diayat sebelumnya yaitu Markus 14 : 62 membicarakan tentang kedatangan Yesus yang kedua kalinya dari surga. Kisah yang sama ada di Matius 26 : 64. Menjadi logis bahwa Yesus pasti telah terangkat ke surga sebagaimana kisah dalam Markus 16 : 9 – 20.

3. Menjadi sangat aneh jika Injil Markus berakhir di 16 : 8 yang berbunyi ‘……. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut (They were afraid for…)”. Dalam Injil bahasa Yunani kata terakhir ini adalah kata sambung “gar”. Metzger, seorang pakar Perjanjian Baru dan ahli bahasa Yunani menyatakan adalah tidak lazim sebuah buku dalam bahasa Yunani berakhir dengan kata sambung. (“Text of the New Testament” oleh Metzger, halaman 226-229)

4. Jika diteliti isi dari Markus 16 : 9 – 20 ternyata seluruhnya dapat dijumpai dalam kitab lainnya, yaitu :
a. Ayat 9 – 11 menceritakan penampakan kepada Maria Magdalena. Kisah yang sama ada di Johanes 20 : 11 – 18
b. Ayat 12 – 13 menceritakan penampakan kepada 2 muridNya. Kisah yang sama ada di Lukas 24 : 13 – 35
c. Ayat 14 – 18 menceritakan penampakan kepada 11 murid dan perintah memberitakan Injil. Kisah yang sama ada di Matius 28 : 19 dan Lukas 24 : 36 – 43
d. Ayat 19 – 20 menceritakan kenaikan Yesus ke surga. Ayat yang sama ada di Lukas 24 : 50 – 53 dan Kisah Para Rasul 1 : 6 – 11

Menjadi pertanyaan, kalau begitu mengapa ada manuskrip yang tidak mencantumkan ayat 9 – 20 ini.
Bruce Metzeger memberikan 2 solusi :
1. Markus tidak dapat menyelesaikan penulisannya, mungkin karena meninggal. Penulisan ini baru dilanjutkan oleh muridnya yang mengetahui bahwa peristiwa tersebut memang terjadi.

2. Lembaran papirus yang berisi Markus 16 : 9 – 20 hilang atau rusak saat salinan barunya belum dibuat. Maklum, waktu itu yang namanya buku kan belum seperti sekarang ini dimana sudah dijilid rapi. Yang namanya buku lebih merupakan gabungan dari lembaran-lembaran papyrus yang saling terlepas satu dengan yang lainnya.

VII.2.2. 1 Yoh 5 : 7 – 8

Terjemahan modern King James Version menuliskan “sebab ada tiga yang memberi kesaksian ….. dan ketiganya adalah satu”.

Teks ini tidak terdapat dalam naskah-naskah kuno Yunani dan seluruh terjemahan sebelum abad ke 16 M. .” (N.I.V. Study Bible, 1985, hal. 1913). Tampaknya teks ini adalah catatan kaki yang kemudian tersalin oleh penterjemah King James Version.

VII.2.3. Yoh 7 ayat 53 hingga Yoh 8 ayat 11

Menceritakan tentang wanita pelacur yang dibawa kehadapan Yesus. Cerita ini hampir tidak ditemui dalam naskah-naskah kuno. Tidak ada dalam 4 kodeks paling kuno yaitu Sinaiticus, Vaticanus, Alexandrinus dan Efraemi Rescriptus.

Perikop ini baru muncul di kodeks Bezae. Banyak orang mengira bahwa perikop ini berasal dari sumber lain. Mungkin dahulu merupakan bagian dari Injil Lukas tetapi kemudian disisipkan dalam teks Yohanes.”

Bagaimana ini terjadi. Mungkin karena gulungan yang berisi teks ini ikut tergulung bersama dengan gulungan Injil Yohanes sehingga kemudian oleh penyalin dianggap bagian Injil Yohanes.

Pada waktu itu Injil bukan berupa buku yang terjilid melainkan lebih merupakan kesatuan dari gulungan-gulungan belaka.

VIII. KITAB SUCI YANG SEKARANG

VIII.1. Al-Qur’an

Al-Qur’an yang sekarang digunakan adalah mendasarkan dari versi standard Mesir tahun 1923 mendasarkan pada versi an Ashim.
Satu catatan yang unik adalah mushaf ini tidak disusun dari naskah kuno yang manapun, melainkan diklaim mendasarkan pada murni “HAFALAN”.

Sumber :
The writing of the Quran and the timing of the mathematical miracle
http://www.submission.org/miracle/writing.html

It was not until the year 1918 when the Muslim scholars, gathered in Cairo, Egypt, and decided to write a standardized edition of the Quran that avoids all the obvious scribes’ errors in different editions of the Quran floating in the world and to standardize the numbering f the suras and verses of the Quran. In 1924, they produced the edition of the Quran that later became the standard edition around the world. They depended mainly on the oral transmission of the Quran to correct all the contradiction seen in the different Rasm (Orthography) and numbering of different Qurans

Hingga ditahun 1918 ketika pakar-pakar muslim, berkumpul di Kairo, Mesir dan memutuskan untuk MENULISKAN EDISI STANDARD AL-QUR’AN UNTUK MENGHINDARKAN SEMUA KESALAHAN TULISAN DALAM EDISI AL-QUR’AN YANG SAAT ITU BEREDAR diseluruh dunia dan untuk menstandarkan penomoran surah dan ayat-ayat alQ-ru’an. Di tahun 1924 mereka menerbitkan edisi Al-Qur’an yang kemudian menjadi standar edisi diseluruh dunia.
MEREKA SEPENUHNYA MENDASARKAN PADA TRADISI LISAN AL-QUR’AN UNTUK MENGOREKSI SEMUA PERBEDAAN TULISAN DAN PENOMORAN DARI AL-QUR’AN YANG BERBEDA-BEDA.

Al-Qur’an edisi Mesir 1923/24 inilah yang kemudian disebarluaskan dengan bantuan dari pemerintah Arab Saudi. Tujuannya adalah untuk secara perlahan mengeliminir Al-Qur’an yang berbeda yang saat itu masih digunakan oleh umat muslim.

Sumber :
http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=447

Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, ALQURAN EDISI MESIR ITU MERUPAKAN VERSI ALQURAN YANG PALING BANYAK BEREDAR DAN DIGUNAKAN OLEH KAUM MUSLIM.
……..
Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah SAUDI ARABIA MENCETAK RATUSAN RIBU KOPI ALQURAN SEJAK TAHUN 1970-AN merupakan bagian dari proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya PENYUKSESAN STANDARISASI ALQUR’AN. ……….. tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).

VIII.2. INJIL (PB)

Berbeda dengan khasanah dunia Islam yang memberlakukan standarisasi teks, dalam dunia Kristen, tidak ada otoritas yang melakukan standarisasi teks. Denominasi gereja bebas untuk menterjemahkan PB dari manuskrip-manuskrip kuno yang ada.
Terjemahan naskah PB dewasa ini umumnya didasarkan pada beberapa manuskrip kuno yaitu :

1. Kodeks Vaticanus
Bertarik abad 4 M. Tersimpan di perpustakaan Vatikan. Terdiri dari PL dan PB. Khusus PB terdiri dari 4 Injil, KPR, Surat-surat Kiriman, Surat-surat Paulus dan Ibrani hingga 9 : 14.
Terdiri dari 759 halaman, dimana 142 halaman adalah PB.

2. Kodeks Sinaiticus
Bertarik abad 4 M. Tersimpan di London British Museum. Terdiri dari PL dan PB. Khusus PB terdiri dari 4 Injil, KPR, Surat-Surat Kiriman, Surat-Surat Paulus, Wahyu, Surat Barnabas dan Penggembalaan Hermas.
Terdiri dari 346 halaman, dimana 147 halaman adalam PB (termasuk Surat Barnabas dan Penggembalan Hermas).

3. Codex Alexandrinus
Bertarik abad 5 M. Tersimpan di London British Museum. Terdiri dari PL dan PB. Khusus PB terdiri dari 4 Injil, KPR, Surat-Surat Kiriman, Surat-Surat Paulus, Ibrani, Wahyu dan I dan II Clement.
Terdiri dari 773 halaman, dimana 143 halaman adalah PB

4. Codex Ephraemi Rescriptus
Bertarik abad 5 M. Tersimpan di Bibliothèque Nationale, Paris. Terdiri dari sebagian PL dan PB. Khusus PB terdiri dari 4 Injil, KPR, Surat-Surat Kiriman, Surat-Surat Paulus, Ibrani dan Wahyu.
Terdiri dari 209 halaman, dimana 145 halaman adalah PB

5. Codex Bezae
Bertarik abad 5 M. Tersimpan di University Library, Cambridge. Terdiri dari PB yang terdiri dari 4 Injil dan KPR dalam bahasa Yunani dan Latin. Selain itu terdapat juga Surat-Surat Kiriman.
Terdiri dari 510 halaman.

6. P (papiry) 75 yang bertarik sekitar 200 M dan berisikan naskah injil Lukas dan injil Yohanes. Dari seharusnya 144 halaman, yang ditemukan hanya 102 halaman.Tersimpan di Bibliothèque Bodmer, Swiss

7. P (papiry) 46 yang bertarik sekitar 200 M dan berisikan 10 kitab surat kiriman PB yang ditulis oleh rasul Paulus. Dari seharusnya 114 halaman, yang ditemukan hanya 86 halaman. Tersimpan di Perpustakaan Chester Beaty Dublin

Keabsahan P75 dan P 46 ini dikonfirmasikan dengan terjemahan versi Syria yang dilakukan antara tahun 150 M – 180 M. Naskah Syria yang ditemukan bertarik 400 M mengkonfirmasikan bahwa teks P75 dan P46 tepat.

Penjelasan tentang kodeks dan papyrus diatas dikutip dari :
The Principal Uncial Manuscripts Of The New Testament,
William Henry Paine Hatch
The University of Chicago Press, Chicago, 1993, Plate XIV.

Beberapa versi terjemahan dalam bahasa Inggris memang menggunakan manuskrip kuno yang berbeda-beda, sebagai contoh :

1. King James Version, mendasarkan terutama dari kodeks Bezae (abad 5) yang disimpan di Cambridge University dan kodeks Basiliensis (abad Cool yang disimpan di Basel, Swiss yang ditulis ulang oleh Erasmus

2. The New International Version (NIV), mendasarkan terutama dari kodeks Vaticanus, Sinaiticus dan Alexandrinus. Diselesaikan ditahun 1978 oleh lebih dari 100 ahli bahasa. Terjemahan ini sekarang termasuk salah satu yang paling popular karena menggunakan kodeks-kodeks tertua.

Antar manuskrip kuno tersebut memang terdapat perbedaan. Dalam terjemahan modern, perbedaan-perbedaan tersebut diakomodir dengan menuliskan (dalam tanda kurung), dengan memberikan catatan terhadap ayat yang berbeda antar kodeks, atau sama sekali menghilangkan dengan catatan.

Sesuai dengan kebebasan berpendapat didunia barat, maka tidak ada satu ketentuan yang diambil oleh organisasi gereja tentang manuskrip yang boleh digunakan. Masing-masing denominasi gereja bebas menggunakan manuskrip dan terjemahan yang diinginkan.

IX. KESIMPULAN

Sejarah teks Al-Qur’an dengan PB sebetulnya telah melalui jalan yang hampir sama. Dimana keduanya melalui serangkaian pemilihan variasi teks, tindakan mengcopy, kesalahan-kesalahan pengcopyan, editing, perbaikan dan standarisasi.

Pendapat seperti ini tidak disetujui oleh kalangan muslim orthodoks yang meyakini bahwa Al-Qur’an sudah sama persis sejak jaman Muhammad SAW hidup hingga era modern sekarang ini. Namun pendapat ini mulai ditinggalkan beberapa muslim moderat yang menyadari bahwa dari sisi kesejarahan tidak menyokong pendapat tersebut.

Secara garis besar, perbedaan terletak pada :

1. Bagaimana standarisasi dilakukan :
a. Muslim :
Standarisasi yang dilakukan terhadap Al-Qur’an adalah TERHADAP TEKSnya

b. Kristen :
Standarisasi terhadap PB adalah terhadap KITAB MANA YANG DITERIMA sebagai bagian PB.

2. Bagaimana menyikapi perbedaan variasi teks :
a. Muslim :
i. menginginkan SATU TEKS untuk Al-Qur’an yang digunakan diseluruh dunia, sehingga otoritas muslim harus MENGELIMINIR perbedaan teks dengan cara MENULISKAN ULANG AL-QURÁN.
ii. tidak lagi melakukan kritik teks dengan mengacu pada mushaf kuno

b. Kristen :
i. menerima adanya PERBEDAAN TEKS manuskrip kuno
ii. tetap melakukan penelitian terhadap manuskrip-manuskrip kuno yang ditemukan kemudian, jika ditemukan perbedaan tetap akan diakomodir dalam terjemahan-terjemahan modern dengan memberikan catatan.

Sekian

Komentar oleh doel

sebagai tambahan…

Menurut umat Kristiani, Yesus mengajarkan Injil (kabar baik), BUKAN MENGAJARKAN BUKU INJIL.
Matius 4 : 23 :
Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Sementara jika menurut umat Islam dengan berdasarkan al-Qurán, Yesus menerima satu BUKU INJIL dari Aulloh SWT.

QS 19 : 30 :
Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, …….

Jelas informasi Al-Qurán diatas adalah informasi yang salah kaprah. Tidak ada catatan bahwa Yesus menerima satu buku langsung dari surga.

Menjadi tugas muslim untuk bisa menejelaskan implementasi klaim Al-Qurán diatas :
1. Kapan BUKU INJIL ALLAH SWT ini diberikan kepada nabi Isa
2. Bagaimana BUKU INJIL ALLAH SWT ini sampai ketangan nabi Isa?
3. Bagaimana nasib BUKU INJIL ALLAH SWT ini saat nabi Isa diangkat ke surga, ikut dipegang oleh nabi Isa naik ke surga atau dititipkan kepada murid-muridnya atau bagaimana?
4. Kalau misalkan sudah musnah :
a. Bagaimana proses BUKU INJIL ALLAH SWT ini dimusnahkan?
b. Kapan BUKU INJIL ALLAH SWT ini dimusnahkan?
c. Dimana BUKU INJIL ALLAH SWT ini dimusnahkan?
d. Siapa yang memusnahkan BUKU INJIL ALLAH SWT?

Mudah-mudahan ada muslim yang bisa menjawab dengan intelek.
Biasanya sih muslim akan muncul dengan sederetan “kontradiksi” dalam Alkitab sebagai bukti alkitab asli sudah musnah.

Komentar oleh doel

bajingan org kristen..bangsat..gw bunuh lo tai..
orang kristen asu…gw doain lo mampus..bangsat semua

Komentar oleh ahmed

Salaam. Hhmm ini tulisan orang TERSEPIT, dengan tiada HUJJAH yang kukuh dan dALIL2 yang sah.

Walaubagaimana pun , sejarah penulisan hadith yang benar kami orang2 Islam tahu, dan ianya JELAS. Tidak seperti sejarah penulisan BIBLE, yang lagi bercelaru, KABUR dan banyak tokok tambah.

Dengan bermacam2 VERSI yang keluar. Ketahuilah VERSI itu maknanya ada TOKOK TAMBAH / UPDATE. Berbeza dengan AlQuran, AlQuran tiada penukaran versi dari semasa ke semasa. Yang ada sekarang hanya TERJEMAHAN2 ALQURAN yang berlainan bahasa. Ketahuilah, TERJEMAHAN ALQURAN tidak dipanggil kitab ALQURAN dalam Islam. Itu hanya kitab TERJEMAHAN. Tetapi ALQURAN tetap dalam BAHASA ARAB.

Walaupun sejarah ALQURAN ada pengubahan pada struktur barisnya tetapi ketahuilah, TIADA PENGUBAHAH MAKNA yang berlaku. Tidak seperti BIBLE, yang mana terlalu BANYAK PERUBAHAN MAKNA / MAKSUD.

Dalam kitab Bible versi lain berbeza dengan versi lain. Itu namanya Bible telah banyak di tokok tambah dan diubah2 mengikut citarasa pengikutnya. Sedangkan maksud dalam AlQuran adalah sama dari zaman ia diturunkan hinggalah sekarang. TIADA PERUBAHAN dari segi maknanya.

Dan bahasa AlQuran, dalam bahasa Arab telah diakui sendiri oleh pakar2 bahasa Arab sejak dulu lagi adalah bahasa yang paling tinggi dan estetik.

Komentar oleh Hikmatun

Imankristen berkata :

Jelas informasi Al-Qurán diatas adalah informasi yang salah kaprah. Tidak ada catatan bahwa Yesus menerima satu buku langsung dari surga.

Bila masa pula AlQuran mengatakan Yesus menerima satu buku secara langsung?? Maksud yang kami belajar ialah Yesus menerima wahyu2 dari Allah. Dan wahyu2 itu diterima dari semasa ke semasa. Sama dengan Muhammad S.a.w menerima wahyu iaitu AlQuran ALKarim, bukannya menerima satu buku secara langsung.

Tohmahan anda terhadap AlQuran tidak berasas sama sekali.

Komentar oleh Hikmatun

@ hikmatun…

Masa sih ilmu anda cuma segitu saja? Lagi bicara apa sih? Ngalor-ngidul?

Silahkan jawab pertanyaan doel diatas, anda mampu ngak?

Pasti anda tidak bisa menjawabnya.

Salam.

Komentar oleh imankristen

@Hikmatun.

Kamu berkata :

Walaupun sejarah ALQURAN ada pengubahan pada struktur barisnya tetapi ketahuilah…

Ya itu namanya Quran Telah DIRUBAH.

TELAH MENGALAMI PERUBAHAN…

Siapa yang berani merubah itu…?

Katanya Perkataan allah tidak bleh dirubah..

Cam betul pak cik ini laaa..

Komentar oleh jelasnggak




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>