Diarsipkan di bawah: Belajar Makna | Tag: Islam, Kasih, Keadilan, Kristen, Versus
Agama–terutama agama-agama besar dunia–merupakan gerakan kritik pada upaya penistaan atas manusia. Jika prinsip-prinsip dasar ajaran ini menjadi muatan dakwah dan misi Islam dan Kristen, maka kedua agama itu bisa saling melengkapi dan mempersyaratkan. Yang diuntungkan dari dakwah dan misi seperti ini tentu bukan hanya umat Islam dan Kristiani, melainkan seluruh umat manusia, terutama yang tertindas atau teraniaya.
Islam dan Kristen adalah dua agama paling gencar dalam menyampaikan ajaran-ajarannya ke tengah masyarakat. Penyampaian ajaran itu dalam Islam disebut dakwah, dan dalam Kristen disebut misi atau pengabaran injil. Dalam Islam, perintah penyebaran ajaran itu tertuang dalam Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad. Allah berfirman, “Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmat-kebijaksanaan, nasehat yang baik, dan dialog yang konstruktif (wa jadilhum billati hiya ahsan)” [QS, al-Nahl (16): 125]. Nabi Muhammad pun pernah bersabda, “Sampaikanlah sekalipun satu ayat dari ajaranku” [ballighu `anni walaw ayatan]. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Belajar Makna | Tag: Hadis, Hizbut Tahrir, Khalifah Usman
[Catatan: Surat di bawah ini saya tulis untuk Prof. Muhammad Machasin, dosen UIN Yogyakarta. Semula surat ini saya kirim ke milis Islam Liberal sebagai tanggapan atas surat Prof. Machasin yang memberikan komentar atas tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Teori proyeksi dalam studi hadis: Kritik atas Hizbut Tahrir”. Saya tidak bisa memuat surat tanggapan Prof. Machasin, sebab belum memperoleh izin dari yang bersangkutan. Saya hanya ingin memuat tanggapan balik saya yang masih ada kaitan dengan artikel saya sebelumnya. Surat saya di bawah ini saya anggap sebagai “appendix” untuk tulisan saya sebelumnya itu.]
*******************
Prof. Machasin,
Tanggapan anda sangat menarik. Terima kasih sekali. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Belajar Makna | Tag: Arti Jilbab, Jilbab, Makna Jilbab, Perlukah Jilbab
KEGIATAN yang selalu saya usahakan untuk saya lakukan secara rutin selama sekolah di Boston ini adalah lari. Ini adalah olah raga murah yang tak membutuhkan modal apapun kecuali kemauan saja, selain, tentu, beberapa dolar untuk membeli sepatu olah raga.
Hari Sabtu kemaren (30/8), saya lari dan mencetak rekor baru yang sungguh menyenangkan buat saya. Biasanya, saya hanya lari selama 30 menit. Setiap lari, saya berusaha memperbaiki rekor saya sendiri. Sejak lama, saya ingin bisa lari secara konstan selama satu jam. Rekor itu, akhirnya, saya capai kemaren.
Saya juga menempuh rute baru yang tak pernah saya telusuri selama ini. Saya mulai dari jalan yang dekat dengan rumah saya di kawasan Newton Centre, yaitu Beacon St, lalu belok ke Washington St, untuk kemudian masuk ke jalan utama Commonwealth St, jalan panjang yang tembus ke Universitas Boston. Total jarak yang saya tempuh kira-kira 6,5 mil, sekitar 10 km. (lagi…)